Senin, 01 Juni 2026

Sadar Lebih Boros, Mahasiswa PNJ Tetap Pilih Kantin


 Sadar Lebih Boros, Mahasiswa PNJ Tetap Pilih Kantin

Gambar 1 : Suasana kantin teknik (kantek), Politeknik Negeri Jakarta

Survei terhadap 103 mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) menunjukkan bahwa 60% responden sangat setuju bahwa membeli makanan di kantin membuat pengeluaran mereka lebih besar dibanding membawa bekal. Jika digabung dengan yang menjawab setuju, angkanya mencapai 87% hampir sembilan dari sepuluh mahasiswa. Survei ini dilakukan pada 29 April hingga 4 Mei 2026. Dari survei tersebut dapat disimpulkan bahwa kantin tetap menjadi pilihan makan sehari-hari bagi sebagian besar dari mereka.

Hampir Sembilan dari Sepuluh Mahasiswa Mengakuinya

Pernyataan kelima dalam survei mengatakan "Membeli makanan di kantin membuat pengeluaran saya lebih besar." Hasilnya cukup tegas. Dari 103 responden, 62 orang atau 60,2% menjawab sangat setuju angka tertinggi di antara semua pilihan skala. Sebanyak 28 orang atau 27,2% menjawab setuju. Hanya 10 orang yang bersikap netral dan tiga orang yang tidak setuju. Tidak ada satupun yang menjawab sangat tidak setuju.

Dengan kata lain, dari seluruh mahasiswa yang mengisi survei ini, hanya 13 orang yang tidak secara tegas mengakui bahwa kantin menguras lebih banyak uang. Selebihnya 90 orang setuju bahwa membeli di kantin membuat pengeluaran mereka lebih besar dibanding membawa bekal dari rumah.

Tabel 1. Distribusi Jawaban : "Membeli di kantin membuat pengeluaran saya lebih besar"

Skala Jawaban

Jumlah Responden

Persentase

Tidak Setuju (2)

3 orang

2,9%

Netral (3)

10 orang

9,7%

Setuju (4)

28 orang

27,2%

Sangat Setuju (5)

62 orang

60,2%

Total Setuju + Sangat Setuju

90 orang

87,4%

Sumber: Survei Google Form, 2025 | n = 103 mahasiswa PNJ Semester 1–8

Kantin Tetap Dipilih

Yang menarik bukan sekadar angkanya, melainkan apa yang terjadi setelah mahasiswa mengakui hal itu. Sebagian besar dari mereka tetap membeli di kantin. Kesadaran soal pengeluaran ternyata tidak cukup untuk mengubah kebiasaan makan sehari-hari. Ada jarak antara apa yang mereka tahu dan apa yang mereka lakukan.

Salah satu mahasiswa semester 2 jurusan Administrasi Niaga, mengungkapkan kondisi ini dengan jujur. "Justru kalau bisa bekel lebih mending bekel. Cuma sayangnya gak punya waktunya untuk nyiapin itu, sehingga terpaksa jajan di kantin walaupun emang hitungannya boros, apalagi semua harga naik sekarang," katanya.

Mahasiswa semester 4 jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan juga menggambarkan bahwa bawa bekal biasanya baru benar-benar dilakukan saat kondisi keuangan mendesak. "Kalau lagi bener-bener ga ada uang atau lagi hemat, biasanya pasti bawa bekel soalnya duit jadi ga kepake," katanya. Pernyataan ini memperjelas posisi bekal dalam kebiasaan mahasiswa bukan pilihan utama, melainkan pilihan cadangan ketika uang saku sudah menipis. 

Diagram 1. Distribusi Jawaban : "Membeli di kantin membuat pengeluaran saya lebih besar"

Sumber: Survei Google Form, 2025 | Qn = 103 mahasiswa PNJ Semester 1–8

Sumber: Survei Google Form, 2025 | Q5, n = 103 mahasiswa PNJ Semester 1–8

Waktu Jadi Alasan yang Paling Banyak Muncul

Survei mencatat data pendukung yang membantu menjelaskan mengapa pengakuan soal pemborosan tidak berujung pada perubahan kebiasaan. Sebanyak 54,4% responden setuju atau sangat setuju bahwa mereka tidak punya cukup waktu untuk menyiapkan bekal sebelum berangkat kuliah. Faktor ini menjadi yang paling sering muncul dalam jawaban terbuka, jauh lebih dominan dibanding alasan lain seperti variasi menu atau kepraktisan.

Salah satu mahasiswa semester 2 jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan juga mengaku lebih sering membeli makanan di kantin karena tidak sempat menyiapkan bekal dari rumah. Jarak rumah yang jauh dari kampus membuatnya harus berangkat pagi, sehingga membawa bekal hanya dilakukan ketika ada waktu luang.

Mahasiswa Teknik Mesin semester 2 juga menyimpulkan dilema ini secara langsung. "Membawa bekal memang menghemat pengeluaran, tapi juga memakan waktu yang cukup banyak karena harus disiapkan. Waktu saya suka tidak ada karena sibuk dengan berbagai hal di pagi hari," jelasnya.

Bagi mahasiswa yang tinggal di kos, kendala menjadi berlapis. Selain soal waktu, tidak semua dari mereka punya fasilitas atau kebiasaan memasak. Kondisi ini membuat kantin menjadi satu-satunya pilihan yang benar-benar mudah dijangkau, meski mereka tahu harganya lebih mahal.

Selisih Nyata

Beberapa responden tidak hanya mengakui bahwa kantin lebih mahal secara umum, tapi juga menyebut angkanya secara tepat. Ini menunjukkan bahwa pemahaman mereka soal pengeluaran bukan sekadar kesan, melainkan sudah sampai pada kalkulasi yang cukup sadar.

Mahasiswi Akuntansi semester 2, memberi gambaran paling jelas. "Kalau masak dan bawa bekal dengan menu sederhana, Rp15.000 itu bisa buat tiga kali makan. Sedangkan di kantin cuma satu kali, belum lagi jajan yang lain," katanya.

Perbandingan itu memperlihatkan bahwa selisihnya tidak kecil. Dengan anggaran yang sama, bekal bisa menghasilkan tiga kali lipat porsi dibanding membeli di kantin. Namun kesadaran itu, sekali lagi, belum mengubah kebiasaan sehari-hari terutama pada hari-hari ketika waktu pagi terasa sempit.

Mahasiswa Teknik Informatika semester 2 juga  mengatakan dampak buruk dari seringnya membeli makan di kantin. "Jika terus-menerus beli di kantin tanpa dikontrol, pengeluaran harian bisa membengkak tanpa sadar," ujarnya.

Antara Sadar dan Terbiasa

Data dari survei ini menunjukkan satu hal yang cukup jelas masalahnya bukan pada kesadaran. Mahasiswa PNJ tahu bahwa kantin membuat pengeluaran lebih besar 87,4% dari mereka mengakuinya langsung dalam survei, tapi pengakuan itu saja tidak cukup untuk mengubah apa yang mereka lakukan setiap hari.

Ketika waktu pagi terlalu sempit, ketika rumah terlalu jauh atau ketika fasilitas memasak tidak tersedia, kantin menjadi satu-satunya pilihan yang benar-benar mudah. Dan itulah yang terus terjadi mahasiswa datang ke kantin bukan karena tidak sadar soal pengeluaran, tapi karena pilihan yang lebih hemat belum cukup mudah untuk diwujudkan dalam keseharian mereka.

Minggu, 31 Mei 2026

Kuliah Daring PNJ Hemat BBM, 54 Persen Mahasiswa Kesulitan Pahami Materi

          
         Kegiatan pembelajaran luring di kampus PNJ 
(Sumber : dokumen pribadi)

Sebanyak 54% mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) kesulitan memahami materi kuliah. Hal ini terjadi akibat kebijakan kuliah daring seminggu sekali yang diterapkan sejak Senin (13/4/2026) dalam upaya penghematan BBM.

Kebijakan ini berawal dari konflik politik antara Amerika Serikat dan Iran. Dampaknya, Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran energi global pun ditutup. Kondisi ini mengakibatkan kenaikan harga minyak dunia yang juga terjadi pada BBM di Indonesia.

Sebagai solusi awal, pemerintah menyarankan WFH satu kali dalam seminggu. Oleh karena itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menerbitkan surat edaran Nomor 2 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pola Kerja di Lingkungan Kementerian dan Penyesuaian Penyelenggaraan Kegiatan Akademik di Perguruan Tinggi.

Pemahaman Materi dan Kendala Teknis
Di era digital, pembelajaran jarak jauh seringkali menjadi pilihan. Berbagai macam platform menjadi alternatif, di antaranya penggunaan aplikasi Zoom, Google Meet, E-Learning dan lain sebagainya. Pembelajaran daring menawarkan fleksibilitas waktu dan lokasi. 

Namun, penelitian dalam jurnal “Efisiensi & Efektivitas Pembelajaran Online Pada Mahasiswa (2023)” menunjukkan banyak mahasiswa menghadapi kendala dalam pembelajaran daring, terutama terkait pemahaman materi dan masalah jaringan.

PNJ sebagai kampus vokasi menerapkan 40% teori dan 60% praktik, maka pembelajaran tatap muka tetap menjadi bagian penting dalam proses belajar. Drs. Sugeng Indriyanto, dosen PNJ yang mengajar mata kuliah Desain Grafis berpendapat bahwa dalam mengajar mata kuliah berbasis teori atau yang tidak mengutamakan keterampilan masih bisa dilakukan di rumah.

“Menurut pendapat saya sih, bisa dilakukan ya (kuliah daring) untuk mata kuliah tertentu yang terkait dengan teori. Tidak mengutamakan keterampilan itu bisa dilakukan satu hari belajar di rumah. Tinggal nanti penjadwalannya diatur saja,” ucap Sugeng pada Jumat (8/5). 

Namun, Dr. Ida Nurhayati, S.H., M.H. yang juga merupakan dosen Hukum Pers & Kode Etik Jurnalistik di PNJ berpendapat bahwa mengajar secara luring materinya lebih mudah disampaikan ke mahasiswa. Ia juga mengatakan, saat daring pun bisa mengalami beberapa hambatan, yaitu interaksi dan gangguan teknis lainnya seperti jaringan. 

“Menurut saya, lebih sampai (materi) ke mahasiswa. Karena kalau online menghadap ke layar, yang mana kita (dosen) tidak bisa secara langsung (interaksi) ke mahasiswa. Juga kemungkinan ada gangguan-gangguan teknis yang menghambat, sehingga bisa sampai atau tidaknya itu tidak bisa terukur kalau online terus,” ucap Ida Nurhayati pada Senin (11/5).


    Grafik dari pernyataan “Saya sering mengalami kendala jaringan saat kuliah online”.

Berdasarkan survei dari 98 responden, sebanyak 43% mahasiswa PNJ sering mengalami kendala jaringan. 36% tidak sering dan 21% lainnya netral. Meskipun sebanyak 53% mahasiswa PNJ lebih fleksibel mengatur waktu saat pembelajaran daring, namun pemahaman materi juga bukan hal yang bisa diabaikan. 

Dosen mata kuliah Hukum Pers & Kode Etik Jurnalistik itu juga mengatakan pembelajaran daring sebaiknya tidak dirutinkan, tetapi saat kondisi tertentu saja. Oleh karena itu, ia setuju dengan kebijakan kuliah daring satu kali dalam seminggu untuk penghematan BBM dengan hari yang berbeda-beda. 

Dampak terhadap Ekonomi 
Kebijakan WFH satu kali dalam seminggu bertujuan untuk mengurangi biaya transportasi. Jika dilihat secara keseluruhan, kebijakan ini dapat membantu mengurangi penggunaan BBM. Mayoritas mahasiswa PNJ juga setuju jika kebijakan kuliah daring satu kali dalam seminggu membantu mengurangi pengeluaran BBM. 


    Grafik dari pernyataan “Kebijakan kuliah online 1x/minggu membantu saya 
mengurangi pengeluaran BBM/transportasi”.

Mahasiswa yang setuju menyebut kebijakan ini membantu mengurangi biaya transportasi, namun dianggap belum menjadi solusi jangka panjang. Mahasiswa yang tidak setuju menyebut kebijakan ini kurang berdampak karena kendala internet, pemahaman materi yang menurun, serta meningkatnya penggunaan listrik. Sementara itu, mahasiswa yang netral merasa belum memiliki cukup informasi atau pengalaman untuk menilai apakah kebijakan ini benar-benar efektif. 

Dampak ini juga dirasakan oleh Ida Nurhayati. Dosen PNJ tersebut berpendapat jika kuliah daring satu kali dalam seminggu membantu meski tidak signifikan. Menurutnya, BBM mungkin lebih hemat tetapi kuota juga terhambat. Bahkan, ia berpendapat bahwa adanya kebijakan ini tidak memastikan seseorang tetap berada di rumah.

“Menurut saya nggak signifikan. Karena, mungkin di institusi itu enak ya (jaringan), tapi ‘kan di tempat lain seperti mahasiswa dan dosen ‘kan pakai pulsa. Jadi, hemat di mana? Dan tidak hemat di mana? Itu yang harus dikaji. Jadi untuk yang lain (di luar BBM) tidak hematnya. Malah kadang-kadang, WFH itu dipakai untuk jalan, mereka jalan ga hemat juga. Jadi ada pengaruh tapi tidak signifikan,” ujar Ida Nurhayati.

Mahasiswa juga menilai kampus cukup siap menyesuaikan model perkuliahan akibat kebijakan hemat BBM, kendati sikapnya yang netral. Pengeluaran kuota internet dibanding BBM dinilai bervariasi sehingga hasilnya netral dan kendala jaringan saat kuliah online memang ada tetapi tidak dirasakan merata. Meski begitu, sebanyak 47% mahasiswa PNJ setuju dengan kebijakan ini, 39% memilih netral, dan 14% lainnya tidak setuju. 

Sugeng Indriyanto, dosen mata kuliah Desain Grafis juga setuju dengan kebijakan ini. Menurutnya, selain penghematan BBM bagi individu, kebijakan ini mendukung efisiensi bagi kampus, seperti penghematan biaya listrik dan operasional lainnya. Namun, ia memberikan catatan bahwa kebijakan ini lebih cocok diterapkan untuk mahasiswa tingkat awal.

Begitu juga dengan Ida Nurhayati yang juga setuju dengan adanya kebijakan ini. Namun, ia menekankan pentingnya kajian mendalam atas efektivitas kebijakan tersebut agar memberikan manfaat nyata tanpa menimbulkan persoalan baru bagi mahasiswa dan dosen.

“Harus dihitung apakah sudah benar-benar ada penghematan. Jadi, kalau masih kira-kira, ya perlu dievaluasi. Karena menurut saya masih bisa disalahgunakan,” tutur Ida Nurhayati.

Jadi, kebijakan kuliah daring satu kali seminggu dipandang cukup efektif secara umum, terutama dalam konteks kebijakan hemat BBM, tetapi dampaknya tidak signifikan secara personal. Pemerintah juga perlu mengkaji lagi agar kebijakan WFH satu kali dalam seminggu tidak disalahgunakan. 





Jumat, 29 Mei 2026

Mahasiswa Keluhkan Jam Operasional Perpustakaan PNJ

 

Ruang Baca Perpustakaan Politeknik Negeri Jakarta

DEPOK – Mahasiswa Program Studi Teknik Grafika dan Penerbitan Angkatan 2025 menilai jam operasional Perpustakaan Politeknik Negeri Jakarta belum memenuhi kebutuhan mereka. Dalam survei yang melibatkan 70 mahasiswa, 28 responden menyebut waktu layanan perpustakaan terlalu pendek.

Kondisi ini menjadi perhatian karena perpustakaan berperan penting sebagai ruang belajar di kampus. Mahasiswa tidak hanya memanfaatkan perpustakaan untuk membaca buku, tetapi juga untuk menyelesaikan tugas, berdiskusi dan mencari tempat nyaman di sela aktivitas perkuliahan.

Title: Chart

Dari survei ini, sebanyak 28 responden merasa waktu layanan masih terlalu pendek, tidak beda jauh dengan keluhan stop kontak yang diisi oleh 23 responden. Angka ini menunjukkan bahwa waktu akses dan fasilitas dasar masih menjadi perhatian.

Keluhan ini muncul karena tidak semua mahasiswa memiliki waktu luang yang sama. Sebagian mahasiswa bisa mengerjakan tugas setelah perkuliahan selesai. Ada yang harus mengikuti kelas sampai sore, mengerjakan tugas kelompok setelah perkuliahan, dan ada pula yang baru merasa bisa fokus ketika suasana kampus mulai lebih sepi.

“Tolong perpanjang waktu bukanya, tidak hanya sampai sore. Kalau bisa sih 24 jam, biar bisa malam-malam nugas di sana seperti kampus lain,” ujar salah satu responden.

Pernyataan ini menggambarkan bahwa perpustakaan masih dianggap sebagai ruang penting. Mahasiswa tidak hanya membutuhkan koleksi buku, tetapi juga tempat yang bisa digunakan sesuai ritme belajar mereka. Apalagi, tidak semua mahasiswa memiliki kondisi belajar yang sama di luar kampus.

Title: Chart

Kebiasaan mahasiswa datang ke perpustakaan juga menunjukkan bahwa fasilitas ini masih punya peran dalam kegiatan akademik. Sebanyak 29 responden mengaku datang ke perpustakaan hanya saat ada tugas mendesak. Sementara itu, 20 responden datang satu sampai dua kali dalam seminggu, 19 responden datang tiga sampai empat kali dalam seminggu, dan hanya 2 responden yang datang setiap hari.

Data tersebut memperlihatkan bahwa perpustakaan belum tentu dikunjungi setiap hari. Namun, pada waktu tertentu, terutama ketika tugas sedang menumpuk, perpustakaan menjadi tempat yang dicari. Dalam situasi seperti ini, jam operasional menjadi penting. Jika layanan hanya tersedia sampai sore, mahasiswa yang baru selesai kuliah bisa kehilangan kesempatan untuk belajar di tempat yang lebih nyaman.

Keluhan ini pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan waktu buka dan tutup. Tetapi juga berhubungan dengan kebutuhan mahasiswa terhadap ruang belajar yang bisa diakses di luar jam perkuliahan. Perpustakaan menjadi pilihan karena dianggap lebih tenang, nyaman, dan mendukung untuk belajar dibandingkan beberapa tempat lain di kampus.

Kebutuhan tersebut semakin terlihat dari area yang paling sering digunakan mahasiswa. Mereka tidak hanya datang untuk membaca sendiri, tetapi juga untuk bekerja bersama teman kelompok. Karena itu, ruang diskusi menjadi salah satu bagian penting dalam aktivitas mahasiswa di perpustakaan.

Title: Chart

Sebanyak 37 responden memilih ruang diskusi sebagai area yang paling sering mereka gunakan. Jumlah itu lebih tinggi dibandingkan ruang baca umum yang dipilih oleh 27 mahasiswa. Sementara itu, area komputer dipilih 5 responden dan ruang fokus hanya dipilih 1 responden.

Banyaknya mahasiswa yang memilih ruang diskusi menunjukkan bahwa perpustakaan juga digunakan untuk kerja kelompok, menyusun bahan presentasi, mengerjakan laporan, atau menyelesaikan tugas bersama. Aktivitas seperti ini biasanya membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan membaca singkat atau sekadar mencari referensi. Karena itu, jam layanan yang terbatas bisa terasa kurang mendukung.

Namun, persoalan ruang diskusi tidak berhenti pada jam operasional. Beberapa mahasiswa juga menyoroti prosedur peminjaman ruangan yang dinilai masih perlu dipermudah.

Hal ini menjadi tanda bahwa mahasiswa tidak hanya berharap perpustakaan buka lebih lama, tetapi juga lebih mudah digunakan. Ruang diskusi yang tersedia akan terasa lebih bermanfaat jika aksesnya sederhana. Di sisi lain, ramainya aktivitas diskusi juga memperlihatkan perlunya ruang yang lebih memadai agar mahasiswa yang bekerja kelompok tidak mengganggu pengunjung lain yang membutuhkan suasana tenang.

Selain ruang diskusi, fasilitas pendukung seperti stop kontak juga menjadi perhatian. Bagi sebagian orang, stop kontak mungkin terlihat sebagai fasilitas kecil. Namun, bagi mahasiswa yang mengerjakan tugas dengan laptop dan gawai, fasilitas ini menjadi kebutuhan penting. Ketika mahasiswa harus berada cukup lama di perpustakaan, keterbatasan stop kontak bisa mengganggu proses belajar.

Kebutuhan ini sejalan dengan aktivitas kuliah mahasiswa saat ini. Banyak tugas dikerjakan melalui perangkat digital, mulai dari mengetik, mencari referensi, menyusun tugas, hingga mengerjakan proyek kelompok. Karena itu, perpustakaan tidak cukup hanya menyediakan meja, kursi, dan buku. Fasilitas pendukung seperti stop kontak, koneksi internet, dan ruang kerja yang nyaman juga menjadi bagian penting.

Koleksi buku juga masih menjadi catatan. Sebanyak 18 responden menyebut koleksi buku jurusan masih terbatas. Bagi mereka, buku fisik tetap dibutuhkan meskipun bahan bacaan digital semakin mudah ditemukan. Koleksi yang lebih lengkap dapat membantu mahasiswa mencari rujukan yang sesuai dengan kebutuhan perkuliahan.

Berbagai keluhan tersebut menunjukkan bahwa jam operasional perpustakaan masih menjadi perhatian penting bagi mahasiswa PNJ. Perpustakaan sebenarnya masih dibutuhkan sebagai ruang belajar, tempat berdiskusi, dan tempat menyelesaikan tugas. Namun, manfaat itu belum sepenuhnya terasa jika waktu layanan belum menyesuaikan dengan aktivitas mahasiswa yang sering berlangsung hingga sore.

Dengan jam operasional yang lebih panjang, mahasiswa yang selesai kuliah pada sore hari tetap memiliki kesempatan untuk belajar, berdiskusi, atau mengerjakan tugas di tempat yang nyaman. Perpanjangan waktu layanan juga perlu didukung dengan fasilitas yang memadai, seperti penambahan ruang diskusi yang mudah diakses dan stop kontak yang cukup untuk menunjang kebutuhan mahasiswa. Karena itu, penyesuaian jam operasional menjadi hal yang perlu dipertimbangkan agar Perpustakaan PNJ semakin sesuai dengan kebutuhan belajar mahasiswa.






Dominasi Transaksi Digital :70% Mahasiswa PNJ Pilih Transaksi Nontunai

 

Dokumentasi Mahasiswa PNJ Menggunakan Transaksi Nontunai di Kampus 

Prakiraan Sistem Pembayaran Indonesia tahun 2025-2027 menurut Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa transaksi nontunai di Indonesia mengalami pertumbuhan. Sebanyak 10,8% transaksi digital payment mengalami peningkatan di tahun 2025. Hal ini membuktikan adanya pertumbuhan transaksi Nontunai di Indonesia. Peningkatan penggunaan transaksi nontunai tersebut juga terlihat pada mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta.

Diagram Pie Chart Jenis Transaksi

Berdasarkan hasil survei, mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta mayoritas lebih sering menggunakan metode transaksi nontunai dalam aktivitas sehari-hari. Sebanyak 70% mahasiswa memilih pembayaran nontunai, sedangkan 30% lainnya masih lebih sering menggunakan uang tunai dalam bertransaksi.

Penggunaan transaksi nontunai paling sering dilakukan mahasiswa saat berada di merchant yang menyediakan pembayaran melalui QRIS dan dompet digital. Dalam situasi seperti membeli makanan dan minuman, berbelanja di minimarket, maupun melakukan transaksi di area kampus, mahasiswa cenderung memilih metode pembayaran nontunai karena prosesnya lebih cepat dan praktis.

Diagram Pie Chart Metode Transaksi

Mayoritas mahasiswa di PNJ, sebanyak 61% lebih memilih menggunakan layanan Mobile Banking sebagai sarana utama dalam melakukan transaksi sehari-hari. Pilihan populer yang juga banyak digunakan adalah dompet digital (e-wallet) yang memiliki 37% peminat. Di sisi lain, metode konvensional seperti kartu debit/kredit serta kelompok yang masih bertahan menggunakan uang tunai hanya mencakup sebagian kecil dari mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan bank digital dan dompet elektronik kini telah menjadi bagian penting dikalangan mahasiswa, khususnya dalam melakukan berbagai aktivitas keuangan secara praktis dan cepat.

Diagram Pie Chart Pengalaman Transaksi

Faktor kepraktisan dan keamanan menjadi alasan paling mendominasi mengapa kalangan mahasiswa beralih ke metode pembayaran digital. Pengguna merasa transaksi nontunai jauh lebih efisien karena meniadakan repotnya mengurus uang kembalian. Alasan kuatnya adalah kemudahan dalam melacak dan mencatat riwayat pengeluaran secara otomatis.

Hal menunjukkan bahwa kenyamanan operasional dan efisiensi waktu tetap menjadi utama dibandingkan sekadar keuntungan finansial sesaat. Sistem transaksi digital menawarkan keuntungan besar berupa kepraktisan karena pengguna tidak perlu lagi menyimpan uang kembalian fisik, ditambah dengan keunggulan sistem yang otomatis merekam setiap pengeluaran

Diagram Pie Chart Hambatan 

Namun, penggunaan teknologi ini masih menghadapi tantangan nyata. Kendala yang paling banyak dikeluhkan di lingkungan kampus adalah tingginya ketergantungan pada kestabilan jaringan internet. Masalah ini semakin terasa karena adanya gangguan teknis pada sistem pembayaran dan masih banyak pedagang yang hanya menerima pembayaran tunai. Secara keseluruhan, meskipun penggunaan perbankan digital dan dompet elektronik sudah semakin luas di masyarakat, penerapannya dalam kehidupan sehari-hari tetap sangat bergantung pada kualitas dan kestabilan jaringan internet.

Pembayaran digital dianggap mempermudah mahasiswa karena proses transaksi dapat dilakukan lebih cepat tanpa perlu membawa uang fisik dalam jumlah banyak. Selain itu metode nontunai juga dinilai lebih aman dan efisien saat digunakan di lingkungan kampus. Namun sebagian mahasiswa masih merasa transaksi tunai lebih nyaman digunakan untuk pembayaran dalam jumlah kecil. Penggunaan uang tunai juga dianggap lebih mudah ketika berada di tempat yang belum menyediakan pembayaran digital.

Meski transaksi nontunai semakin sering digunakan  sebagian mahasiswa PNJ mengaku masih menggunakan uang tunai untuk kebutuhan tertentu. Salah satu alasannya adalah masih adanya beberapa pedagang atau tempat makan yang belum menyediakan metode pembayaran digital. Selain itu penggunaan uang tunai dinilai membantu mahasiswa mengatur pengeluaran agar tidak terlalu konsumtif saat berbelanja. Beberapa mahasiswa juga merasa lebih aman menggunakan uang tunai ketika jaringan internet sedang bermasalah atau aplikasi pembayaran mengalami gangguan. Karena itu transaksi tunai dan nontunai masih digunakan secara berdampingan dalam aktivitas sehari-hari mahasiswa.

Hasil survei Perilaku Mahasiswa PNJ dalam Pemilihan Metode Transaksi Tunai dan Non Tunai menunjukkan bahwa mayoritas pengisi survei mementingkan kemudahan dan keamanan dalam bertransaksi.  Sebanyak 61 dari 105 Mahasiswa (58,1%) pengisi memilih sangat setuju akan kemudahan dan keamanan saat bertransaksi. Kemudahan dalam bertransaksi itu menunjukkan seberapa cepat, praktis dan mudah pada sebuah sistem atau layanan yang memiliki pengaruh dalam pembayaran dan pembelian tanpa membuang banyak waktu dan tenaga. Selain itu, keamanan bertransaksi ini mencakup perlindungan data pelanggan, pencegahan penipuan serta kelancaran saat proses transaksi sedang berlangsung. Angka ini menunjukkan dominasi yang signifikan jika dibandingkan dengan tingkat kepentingan di bawahnya.

Berdasarkan hasil survey, tercatat sebanyak 88% mahasiswa PNJ mengaku sering mengalami masalah dalam mengakses dompet digital mereka di lingkungan kampus. Masalah koneksi internet ini, menjadi hambatan mereka dalam melakukan transaksi di lingkungan kampus. Keterbatasan akses Wi-Fi di titik-titik strategis menambah panjang daftar kendala, yang tak jarang berujung kegagalan transaksi saat di depan meja kasir.

Tak hanya hambatan dalam menggunakan nontunai, 50% mahasiswa PNJ merasa kesulitan dalam menerima uang kembalian saat menggunakan transaksi tunai. Jika sulit dalam akses internet, opsi yang biasa ditawarkan penjual adalah penggunaan uang tunai. Namun, jika uang kembalian menjadi hambatan, hal tersebut dapat mengganggu transaksi jual beli di area kampus.

Tantangan ini menciptakan dilemma baru bagi mahasiswa, terutama saat diperhadapkan dengan daya tarik promo digital. Mahasiswa PNJ merasa, pengaruh promo/diskon menjadi alasan utama mereka dalam menggunakan transaksi nontunai. Sistem pembayaran nontunai sering menawarkan berbagai potongan harga dan cashback yang sangat menggiurkan bagi mahasiswa. Namun, gangguan sinyal tersebut dapat mengurangi kesempatan dalam menggunakan promo yang dapat hilang jika terjadi gagal bayar.

Meskipun saat ini sinyal internet dan kembalian tunai menjadi masalah dalam aktivitas bertransaksi di kampus, penggunaan transaksi digital nontunai di kalangan mahasiswa dapat terus mengalami peningkatan kedepannya. Berdasarkan hasil survey yang dikumpulkan banyak mahasiswa PNJ yang setuju, kebanyakan dari mereka merasa menyimpan uang dalam bentuk nontunai dapat membantu dan memudahkan transaksi sehari-hari.

Bagi mereka, menyimpan uang dalam bentuk nontunai bukan hanya sekadar tren, hal tersebut memudahkan mereka dalam bertransaksi. Munculnya inovasi QRIS menjadi penyelamat ditengah gaya hidup mahasiswa yang serba cepat. Dengan lingkungan kampus yang perlahan mulai beradaptasi menyediakan fasilitas pendukung digital, penggunaan uang nontunai bukan lagi menjadi pilihan, melainkan andalan utama dalam memenuhi kebutuhan harian mahasiswa di era perkembangan teknologi saat ini.





Rabu, 27 Mei 2026

Guna Siapkan Karier, Mayoritas Mahasiswa PNJ Tetap Memilih Aktif Berorganisasi


 Guna Siapkan Karier, Mayoritas Mahasiswa PNJ Tetap Memilih Aktif Berorganisasi

Dokumentasi mahasiswa PNJ sedang rapat 

DEPOK – Berdasarkan data kuesioner pada 30 April 2026, keterlibatan organisasi kampus masih menjadi pilihan bagi 89 dari 110 mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) dalam mempersiapkan masa depan.

Tingginya angka partisipasi di organisasi sejalan dengan data responden mengenai manfaat aktivitas tersebut untuk dunia kerja. Sebanyak 81,7% responden setuju bahwa pengalaman berorganisasi di PNJ memberikan kesiapan kerja yang lebih baik jika dibandingkan dengan sekadar belajar di dalam kelas. 

Berdasarkan survei, sebanyak 71,9% mahasiswa tercatat ikut serta dalam kepengurusan maupun keanggotaan organisasi di lingkungan kampus. Angka tersebut terdiri dari 56,4% responden yang aktif sebagai anggota atau staf dan 15,5% yang bertindak sebagai pengurus inti. Sementara itu, kelompok mahasiswa tidak aktif organisasi atau "Kupu-Kupu" (Kuliah Pulang) berada di angka 28,2%.

Kesiapan Kerja Melalui Jalur Organisasi 

Dokumentasi kegiatan HMGP 

Melalui organisasi, mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis yang jarang didapatkan langsung di dalam kelas. Mulai dari kemampuan komunikasi, kerjasama tim, kepemimpinan, penyelesaian masalah, sampai belajar beradaptasi menghadapi tekanan

“Di organisasi kita akan menghadapi berbagai tekanan yang masih sangat aman untuk mempersiapkan diri pada dunia kerja, karena nyatanya dunia kerja tidak akan sama dengan organisasi, namun di organisasi kita dilatih berbagai hal contohnya tanggung jawab,” ujar Shobiyatu Jamilah dari program studi TCG yang merupakan anggota BEM aktif PNJ saat wawancara.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh Nazella dari prodi Penerbitan 2D. Menurutnya kelas dan organisasi memiliki porsinya masing-masing dalam kesiapan kerja. Namun, organisasi memiliki peran penting untuk melatih soft skill. 

“Perkuliahan memberi dasar ilmu, tapi organisasi penting untuk melatih soft skill seperti kerja sama dan komunikasi serta bisa menambah relasi lebih luas yang nantinya kita perlukan di dunia kerja kedepannya.” Ungkap Nazella.


Faktanya, pernyataan tersebut sejalan dengan hasil survei. Tercatat 81.7% responden setuju bahwa pengalaman berorganisasi memberikan bekal kesiapan kerja yang jauh lebih baik daripada sekadar duduk belajar teori di kelas.

Lalu apakah kesibukan organisasi mengganggu nilai akademik? Ternyata pertanyaan ini telah dijawab dengan hasil survei, sebanyak 80% responden menolak jika kegiatan organisasi atau UKM berdampak negatif pada IPK mereka.

Sudut Pandang dan Pilihan Alternatif Mahasiswa Kupu-Kupu

Dokumentasi dari mahasiswa kupu-kupu

Bagi 79,8% mahasiswa “kupu-kupu”, mereka setuju bahwa tidak ikut organisasi, membuat mereka memiliki lebih banyak waktu untuk hal lain seperti pekerjaan, keluarga, atau hobi. Hal ini sangat dirasakan oleh Rasya dari kelas TI-4A.

Pada semester keempat pada perkuliahannya, Rasya memilih untuk fokus pada akademik dan melepas diri dari aktivitas organisasi kampus. Baginya pilihan ini memberikan ketenangan mental dan kebebasan penuh dalam mengatur waktu. Rasya tidak lagi merasa cemas atas desakan organisasi yang mengganggu produktivitas akademiknya. 

Kelompok mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi, memanfaatkan waktu luang mereka untuk membentuk kompetensi kerja. Faktanya, 78,1% responden memandang kerja sampingan (part-time) jauh lebih relevan sebagai bekal kesiapan kerja dibandingkan aktivitas kampus. 

Organisasi bukan satu satunya wadah pengembangan diri, terbukti sebanyak 82,5% responden menyatakan tetap mampu menyampaikan pendapat dengan jelas meskipun tidak aktif di organisasi dan 52,7% responden menilai fokus pada manajemen waktu mandiri lebih menjamin kesuksesan dibandingkan belajar manajemen waktu melalui organisasi.

Rasya juga menambahkan jika bergantung hanya pada akademik belum cukup tanpa keterlibatan organisasi, ia berargumen bahwa akademik tidak cukup karena “semua orang juga kuliah”. Dengan keterlibatan organisasi, kita dapat memberikan bukti bahwa kandidat kerja mampu bekerja secara teamwork pada CV mereka. 

Evaluasi Pandangan Mahasiswa Terhadap Organisasi 

Sebanyak 60% responden menyatakan tidak setuju bahwa menghabiskan waktu hingga malam hari untuk kegiatan organisasi merupakan bentuk investasi waktu yang sepadan.  

Selain manajemen waktu, faktor finansial juga menjadi poin pertimbangan bagi mahasiswa. Sebanyak 54,5% responden setuju bahwa investasi finansial untuk organisasi seperti membayar iuran, biaya transportasi, dan konsumsi terhitung memberatkan jika dibandingkan dengan manfaat yang mereka peroleh.  

Keterbatasan Materi Ruang Kelas dan Sisi Unik Wadah Organisasi

Kecenderungan mahasiswa untuk tetap memilih organisasi sebagai persiapan karier masa depan terlihat lebih rinci pada pertanyaan terbuka kuesioner. Ketika dihadapkan pada pertanyaan mengenai apakah bekal dari bangku perkuliahan saja sudah cukup untuk menghadapi dunia kerja atau ada hal dari organisasi yang tidak bisa digantikan, tercatat ada 73 jawaban valid dari pertanyaan terbuka. Dari jumlah tersebut, sebanyak 50 mahasiswa secara spesifik menyatakan bahwa materi di dalam kelas belum mencukupi kebutuhan lapangan kerja.

Pembelajaran ruang kelas dinilai lebih dominan dalam pemenuhan teori serta dasar ilmu pengetahuan teknis atau hard skill. Menurut pandangan 50 responden ini, terdapat aspek-aspek kompetensi kerja yang tidak didapatkan secara otomatis melalui proses perkuliahan.

Pembelajaran di ruang kelas memiliki keterbatasan. Melalui organisasi, mahasiswa mempraktikkan manajemen konflik, mengeksekusi program kerja , dan membangun jaringan sosial. Data tersebut memperlihatkan alasan responden menempatkan kegiatan organisasi ke dalam portofolio karier.

Sinergi Dua Jalur Pengembangan Diri

Data pendukung hasil olahan data kuisioner 

Secara keseluruhan, data menunjukkan adanya dua jalur pengembangan diri yang saling melengkapi. Di satu sisi, kegiatan di luar kampus seperti kerja sampingan dan portofolio mandiri, makin berkembang. Namun disisi lain, organisasi kampus masih menjadi pilihan andalan mahasiswa dalam pengembangan soft skill dan membangun relasi sosial.

Kabar baiknya, perbedaan pilihan jalur ini tidak memengaruhi jaminan masa depan. Sebanyak 92.8% mahasiswa menyepakati bahwa status keaktifan berorganisasi bukan penentu utama kesuksesan berkarier. Mahasiswa organisasi maupun non-organisasi dinilai memiliki peluang sukses karier yang setara, asalkan mereka mampu memaksimalkan potensinya sendiri.


Sadar Lebih Boros, Mahasiswa PNJ Tetap Pilih Kantin

  Sadar Lebih Boros, Mahasiswa PNJ Tetap Pilih Kantin Gambar 1 : Suasana kantin teknik (kantek), Politeknik Negeri Jakarta Survei terhadap 1...