Sadar Lebih Boros, Mahasiswa PNJ Tetap Pilih Kantin
Gambar 1 : Suasana kantin teknik (kantek), Politeknik Negeri Jakarta
Survei
terhadap 103 mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) menunjukkan bahwa 60%
responden sangat setuju bahwa membeli makanan di kantin membuat
pengeluaran mereka lebih besar dibanding membawa bekal. Jika digabung dengan
yang menjawab setuju, angkanya mencapai 87% hampir sembilan dari sepuluh
mahasiswa. Survei ini dilakukan pada 29 April hingga 4 Mei 2026. Dari survei
tersebut dapat disimpulkan bahwa kantin tetap menjadi pilihan makan sehari-hari
bagi sebagian besar dari mereka.
Hampir Sembilan dari Sepuluh Mahasiswa Mengakuinya
Pernyataan kelima dalam survei mengatakan "Membeli makanan di kantin membuat pengeluaran saya lebih besar." Hasilnya cukup tegas. Dari 103 responden, 62 orang atau 60,2% menjawab sangat setuju angka tertinggi di antara semua pilihan skala. Sebanyak 28 orang atau 27,2% menjawab setuju. Hanya 10 orang yang bersikap netral dan tiga orang yang tidak setuju. Tidak ada satupun yang menjawab sangat tidak setuju.
Dengan kata lain, dari seluruh mahasiswa yang mengisi survei ini, hanya 13 orang yang tidak secara tegas mengakui bahwa kantin menguras lebih banyak uang. Selebihnya 90 orang setuju bahwa membeli di kantin membuat pengeluaran mereka lebih besar dibanding membawa bekal dari rumah.
Tabel 1. Distribusi Jawaban : "Membeli di kantin membuat pengeluaran saya lebih besar"
Sumber: Survei Google Form, 2025 | n = 103 mahasiswa PNJ Semester 1–8
Kantin Tetap Dipilih
Yang
menarik bukan sekadar angkanya, melainkan apa yang terjadi setelah mahasiswa
mengakui hal itu. Sebagian besar dari mereka tetap membeli di kantin. Kesadaran
soal pengeluaran ternyata tidak cukup untuk mengubah kebiasaan makan
sehari-hari. Ada jarak antara apa yang mereka tahu dan apa yang mereka lakukan.
Salah
satu mahasiswa semester 2 jurusan Administrasi Niaga, mengungkapkan kondisi ini
dengan jujur. "Justru kalau bisa bekel lebih mending bekel. Cuma sayangnya
gak punya waktunya untuk nyiapin itu, sehingga terpaksa jajan di kantin
walaupun emang hitungannya boros, apalagi semua harga naik sekarang,"
katanya.
Mahasiswa
semester 4 jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan juga menggambarkan bahwa bawa
bekal biasanya baru benar-benar dilakukan saat kondisi keuangan mendesak. "Kalau
lagi bener-bener ga ada uang atau lagi hemat, biasanya pasti bawa bekel soalnya
duit jadi ga kepake," katanya. Pernyataan ini memperjelas posisi
bekal dalam kebiasaan mahasiswa bukan pilihan utama, melainkan pilihan cadangan
ketika uang saku sudah menipis.
Diagram 1. Distribusi Jawaban : "Membeli di kantin membuat pengeluaran saya lebih besar"
Sumber: Survei Google Form, 2025 | Q5, n = 103 mahasiswa PNJ Semester 1–8
Waktu Jadi Alasan yang Paling Banyak Muncul
Survei
mencatat data pendukung yang membantu menjelaskan mengapa pengakuan soal
pemborosan tidak berujung pada perubahan kebiasaan. Sebanyak 54,4% responden
setuju atau sangat setuju bahwa mereka tidak punya cukup waktu untuk menyiapkan
bekal sebelum berangkat kuliah. Faktor ini menjadi yang paling sering muncul
dalam jawaban terbuka, jauh lebih dominan dibanding alasan lain seperti variasi
menu atau kepraktisan.
Salah
satu mahasiswa semester 2 jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan juga mengaku
lebih sering membeli makanan di kantin karena tidak sempat menyiapkan bekal
dari rumah. Jarak rumah yang jauh dari kampus membuatnya harus berangkat pagi,
sehingga membawa bekal hanya dilakukan ketika ada waktu luang.
Mahasiswa
Teknik Mesin semester 2 juga menyimpulkan dilema ini secara langsung.
"Membawa bekal memang menghemat pengeluaran, tapi juga memakan waktu yang
cukup banyak karena harus disiapkan. Waktu saya suka tidak ada karena sibuk
dengan berbagai hal di pagi hari," jelasnya.
Bagi
mahasiswa yang tinggal di kos, kendala menjadi berlapis. Selain soal waktu,
tidak semua dari mereka punya fasilitas atau kebiasaan memasak. Kondisi ini
membuat kantin menjadi satu-satunya pilihan yang benar-benar mudah dijangkau,
meski mereka tahu harganya lebih mahal.
Selisih Nyata
Beberapa
responden tidak hanya mengakui bahwa kantin lebih mahal secara umum, tapi juga
menyebut angkanya secara tepat. Ini menunjukkan bahwa pemahaman mereka soal
pengeluaran bukan sekadar kesan, melainkan sudah sampai pada kalkulasi yang
cukup sadar.
Mahasiswi
Akuntansi semester 2, memberi gambaran paling jelas. "Kalau masak dan bawa
bekal dengan menu sederhana, Rp15.000 itu bisa buat tiga kali makan. Sedangkan
di kantin cuma satu kali, belum lagi jajan yang lain," katanya.
Perbandingan
itu memperlihatkan bahwa selisihnya tidak kecil. Dengan anggaran yang sama,
bekal bisa menghasilkan tiga kali lipat porsi dibanding membeli di kantin.
Namun kesadaran itu, sekali lagi, belum mengubah kebiasaan sehari-hari terutama
pada hari-hari ketika waktu pagi terasa sempit.
Mahasiswa
Teknik Informatika semester 2 juga mengatakan dampak buruk dari
seringnya membeli makan di kantin. "Jika terus-menerus beli di kantin
tanpa dikontrol, pengeluaran harian bisa membengkak tanpa sadar," ujarnya.
Antara Sadar dan Terbiasa
Data
dari survei ini menunjukkan satu hal yang cukup jelas masalahnya bukan pada
kesadaran. Mahasiswa PNJ tahu bahwa kantin membuat pengeluaran lebih besar
87,4% dari mereka mengakuinya langsung dalam survei, tapi pengakuan itu saja
tidak cukup untuk mengubah apa yang mereka lakukan setiap hari.
Ketika waktu pagi terlalu sempit, ketika rumah terlalu jauh atau ketika fasilitas memasak tidak tersedia, kantin menjadi satu-satunya pilihan yang benar-benar mudah. Dan itulah yang terus terjadi mahasiswa datang ke kantin bukan karena tidak sadar soal pengeluaran, tapi karena pilihan yang lebih hemat belum cukup mudah untuk diwujudkan dalam keseharian mereka.







