Selasa, 04 November 2025

Pentingnya Literasi di Kalangan Mahasiswa


Depok, 4 November 2025- konferensi pers yang dipaparkan oleh pemateri yaitu Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis dengan tema Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa yang digelar di Gedung Teknik Grafika dan Penerbitan Ruang 313 Politeknik Negeri Jakarta. Konferensi pers ini membahas pentingnya literasi membaca di kalangan Mahasiswa, penyebab rendahnya minat baca mahasiswa, serta peran pemerintah dan kampus dalam meningkatkan minat literasi pada lingkungan kampus.

Dari tahun 2020 sampai 2024 terkait angka minat literasi Pemuda Indonesia. BPS menyatakan, presentase kenaikan angka minat literasi Pemuda Indonesia pada  usia 16-30 tahun itu berawal dari 99,67% di tahun 2020 dan telah mencapai 99,79% di tahun 2024. 

Kondisi literasi di kalangan Mahasiswa saat ini. Tujuh PTS di Yogyakarta Tingkat kemampuan membaca mahasiswa memiliki skor rata-rata 71,29 (skor terendah 12,00 dan skor tertinggi 100,00). Universitas Negeri Yogyakarta Sangat rendah: 36,5% mahasiswa membaca 10-15 menit per hari, 34,1% membaca 5-10 menit, 15,3% 15-30 menit, hanya 4,7% yang lebih dari 30 menit. Universitas Bengkulu Nilai indeks “Aktivitas Literasi Dasar Membaca” untuk mahasiswa dengan kategori “sangat tinggi” pada keseluruhan aspek. Universitas Muslim Indonesia 56,4% memiliki minat baca dalam kategori tinggi, 17,1% dalam kategori sangat tinggi, dan 26,5% dalam kategori sedang. Berikut ini adalah beberapa penyebab rendahnya literasi membaca di kalangan Mahasiswa menurut Anggun Yudia Lestari antara lain “kebiasaan Mahasiswa membaca hanya bila ada tugas saja bukan atas keinginan sendiri dan teknologi digital membuat kebiasaan membaca dengan teliti menurun, bisa juga dari lingkungan, suasana, dan fasilitas yang kurang mendukung serta kurangnya dukungan keluarga dan pengaruh sosial budaya” ujarnya.

Penyebab dan kasus umum rendahnya literasi menurut pemateri, rendahnya literasi membaca mahasiswa disebabkan oleh beberapa factor. Kesulitan memahami materi Mahasiswa hanya mengandalkan slide PowerPoint dosen tanpa membaca materi tambahan di luar dari yang diberikan dosen. Keterampilan menulis Ilmiah yang Lemah sering dibuat asal jadi dan mengambil sumber dari blog, media sosial dan wikipedia tanpa memperhatikan isi materi secara keseluruhan.

Solusi dari pemateri antara lain Mahasiswa dan Kampus Membentuk forum diskusi, kelompok baca, klub buku dan sebagainya untuk mendorong literasi membaca yang tentunya difasilitasi oleh kampus. Pemerintah Tetap mendorong dan semakin mengembangkan program literasi seperti Gerakan Indonesia Membaca (GIM), Gerakan Nasional Literasi Digital, dan lainnya yang sudah berjalan.

Kesimpulan nya Mahasiswa, pihak kampus, dan pemerintah perlu lebih peka dan saling bekerja sama untuk meningkatkan minat baca di kalangan mahasiswa saat ini.

Senin, 03 November 2025

Sebuah Komunitas Yang Membahas Tentang Rendahnya Minat Baca Di Kalangan Mahasiswa

 

                               Sumber: Dokumen Pribadi 

Depok, Selasa 4 November 2025 - literasi adalah kemampuan seseorang dan keterampilan membaca dan memahami makna bacaan tersebut literasi berasal dari bahasa Latin yang berarti "literatus" yang artinya adalah orang yang belajar.

Menurut sumber komunitas dalam sebuah konferensi pers ia mendapatkan sumber dari Badan Pusat Statistik (BPS):

1. 7 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Di Yogyakarta memiliki skor rata-rata 71,29% dari 12,00 skor terendah dan 100,00 skor tertinggi..

2. Lalu universitas negeri yogyakarta masih memiliki tingkat baca yang sangat rendah dengan angka 36,5% dalam waktu membaca 10-15 menit per-hari.

3. Lalu salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) Universitas Muslim Indonesia memiliki skar 56,4% dengan kategori yang tinggi dalam hal minat baca, 17,1% dalam kategori sangat tinggi. dan 26,5% dalam kategori sedang.

4. Universitas Bengkulu memiliki nilai indeks yang sangat tinggi dalam hal aktivasi literasi dasar membaca untuk mahasiswa pada keseluruhan aspek.

Komunitas tersebut juga menyatakan bahwa mahasiswa akan membaca apabila ada tugas bukan karena keinginan sendiri dan teknologi digital membuat mahasiswa membaca hanya yang singkat tetapi tidak memahami makna dari bacaan tersebut. Lalu keterampilan menulis ilmiah yang lemah serta kurang minatnya gerakan literasi membaca maka mahasiswa tersebut dinyatakan gagal.

Kasus umum yang sering terjadi dalam hal literasi membaca antara lain:

1. Kesulitan memahami materi

2. Keterampilan menulis ilmiah yang lemah

3. Bergantung pada medsos untuk informasi

Berdasarkan sumber dari kementrian komunitas digital menyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara yang memiliki peringkat 60 dari 61 negara dalam hal minat baca.

komunitas tersebut memberikan solusi dengan membentuk forum diskusi, kelompok baca, klub buku, dan lain sebagainya, selain hal itu pemerintah juga harus tetap mendorong dan mengembangkan program yang efektif dalam hal literasi membaca.

Dalam hal ini literasi membaca merupakan pondasi penting bagi mahasiswa untuk menambah wawasan bukan hanya sekedar menyelesaikan tugas kuliah agar mahasiswa dapat berpikir kritis dan kreatif.


Menelisik Literasi Membaca Mahasiswa


4 November 2025 - Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis sebagai narasumber dalam konferensi pers.

Depok – Konferensi pers bertema Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa yang dibawakan oleh Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis digelar di Politeknik Negeri Jakarta (4/11/2025). Kegiatan ini membahas pentingnya literasi membaca, penyebab rendahnya minat baca mahasiswa, serta peran pemerintah dan kampus dalam meningkatkan budaya literasi. 

Berdasarkan data yang dipaparkan Badan Pusat Statistik (BPS), dari tahun 2020 sampai 2024 terkait angka melek huruf Pemuda Indonesia. BPS menyatakan, presentase kenaikan angka melek huruf Pemuda Indonesia pada  usia 16-30 tahun itu berawal dari 99,67% di tahun 2020 dan telah mencapai 99,79% di tahun 2024.

Sementara kondisi literasi baca di kalangan mahasiswa, hasil data dari penelitian yang diambil dari tujuh PTN di Yogyakarta, terdapat tingkat kemampuan membaca mahasiswa dengan skor rata-rata 71,29, dengan skor terendah 12,00 dan skor tertinggi 100,00. Kemudian juga dari hasil data Universitas Muslim Indonesia, terdapat 56,4% memiliki minat baca dalam kategori materi tinggi, 17,1% dalam kategori sangat tinggi, dan 26,5% dalam kategori sedang.

Faktor dari membaca adalah kebanyakan akan membaca jika hanya disuruh, sementara membaca secara teliti kebanyakan ingin membaca secara ringkasnya. Terutama karena faktor teknologi digital yang membuat kebiasaan membaca dengan teliti menjadi menurun. Penyebab lainnya juga karena lingkungan suasana fasilitas, serta pengaruh sosial dan budaya.

“Karena di dunia sekarang banyak yang membaca namun disebut dengan kutu buku dan di cap ‘aneh’, namun juga karena faktor pemerintah yang menaruh harga yang terlalu mahal, jadi bukan karena mahasiswa malas membaca, melainkan karena harganya yang terlalu mahal.” Menurut Diah

Kasus umum yang terjadi, adanya kesulitan untuk memahami materi, keterampilan menulis ilmiah yang lemah, dan bergantung medsos untuk informasi. Dengan adanya kasus tersebut, banyak mahasiswa yang pada akhirnya menggunakan situs dan jurnal yang kurang efektif daripada menggunakan jurnal dan situs yang resmi untuk membuat artikel seperti skripsi. Pada akhirnya, banyak mahasiswa yang gagal saat keberlangsungan skripsi dengan terlalu mengandalkan situs dan jurnal yang kurang efektif.

Solusinya adalah mahasiswa dan kampus bisa membuat forum diskusi dan kelompok membaca untuk mendorong literasi membaca yang tentunya diberi fasilitas. Juga dengan pemerintah yang harus tetap mendorong dan semakin mengembangkan program literasi seperti Gerakan Indonesia Membaca (GIM), Gerakan Nasional Literasi Digital, dan lain sebagainya.

Salah satu wartawan menanyakan terkait, apakah duta baca Indonesia bisa efektif untuk mendukung literasi di Indonesia. “Program Duta Baca Indonesia juga termasuk langkah yang baik. Tokoh publik seperti Najwa Shihab, Taufik Hidayat, dan Rifqi Fadilah Noyan mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk membaca. Namun, efektivitas program ini bergantung pada sejauh mana masyarakat mengenal dan mengikuti kegiatan para duta baca tersebut,” menurut Calista.

Kesimpulannya adalah literasi membaca merupakan pondasi penting bagi mahasiswa bukan hanya unutk tugas kuliah tetapi juga menjadi alat untuk dapat berpikir.

Konferensi Pers : Tantangan Kebebasan Literasi di Kalangan Mahasiswa


Konferensi pers berjudul Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa

Depok — Konferensi pers berjudul Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa digelar di Ruang 313 Gedung Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta pada 4 November 2025. 


Terdapat dua narasumber, Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis, memaparkan penjelasan mengenai rendahnya minat baca serta salah satunya dampak penyitaan buku terhadap kebebasan literasi mahasiswa. Anggun menjelaskan bahwa mahalnya harga buku dan pengaruh media digital menjadi salah satu sebab minat baca mahasiswa menurun. Sementara itu, Calista menyoroti faktor lain seperti pembatasan buku tertentu bisa membatasi ruang berpikir kritis mahasiswa.

“Penyitaan buku yang dianggap berbahaya bisa memengaruhi kondisi literasi mahasiswa,” ujar Calista. “Padahal, buku-buku itu punya sisi positif da negatif nya. Buku bisa membantu kita berpikir kritis. Buku dianggap berbahaya mungkin karena isinya tidak sejalan dengan ideologi negara kita, atau mungkin pemerintah takut akan ada perubahan,” tambahnya.

Kasus umum yang ditemukan di kalangan mahasiswa antara lain sulit memahami materi karena hanya mengandalkan materi PowerPoint yang diberikan oleh dosen tanpa mencari referensi lain. Keterampilan menulis ilmiah juga masih lemah, banyak mahasiswa yang mengambil sumber secara asal. Selain itu, mahasiswa semester awal memiliki minat baca lebih rendah dibanding semester lain, serta cenderung bergantung pada media sosial yang berisi bacaan singkat dan rentan terhadap hoaks.

Melalui konferensi pers ini, diharapkan seluruh mahasiswa Indonesia dapat mengubah cara pandang mereka terhadap literasi. Literasi bukan sekadar kegiatan membaca, tetapi menjadi pondasi penting dalam membentuk pola pikir kritis dan meningkatkan kualitas akademik mahasiswa.

Dela Lestari (Video editor)
Febry Amellia (Penulis)


Konfrensi Pers: Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa

 

Konfrensi Pers Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa Foto: Widia Hastuti/publikanews

PUBLIKANEWS, Depok -  Grafik presentase pemuda usia 16-30 tahun yang melek huruf di Indonesia pada tahun 2024 sebanyak 99,79%. Fakta ini terungkap dalam konfrensi pers bertajuk “Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa” yang digelar di Politeknik Negeri Jakarta, Selasa (4/11).

Calista Evangelis dan Anggun Yudia lestari hadir sebagai narasumber membahas isu terkait tingkat literasi membaca dikalangan mahasiswa serta memberikan solusi terkait rendahnya minat literasi di Indonesia. 

Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) kondisi literasi baca di kalangan mahasiswa Indoensia tidak mengalami perkembangan dari tahun 2023 – 2024. Tingkat minat baca mahasiswa pada beberapa Universitas di Indonesia tergolong rendah.  

Calista mengungkap dari hasil survei di beberapa universitas, seperti Universitas Negeri Yogyakarta ditemukan sebanyak 36,5% mahasiswa membaca selama 10-15 menit per hari, 34,1% membaca 5-10 menit, 15,3% membaca 15-30 menit, dan hanya 4,7% yang membaca lebih dari 30 menit setiap harinya. 

Narasumber juga menyoroti beberapa faktor penyebab rendahnya minat baca di Indonesia, antara lain: mahasiswa membaca hanya bila ada tugas, bukan atas keinginan sendiri; teknologi digital membuat kebiasaan membaca dengan teliti menurun; lingkungan, suasana, dan fasilitas yang kurang mendukung; dan dukungan keluarga juga pengaruh sosial budaya.

Kasus umum yang biasa terjadi di Indonesia salah satunya adalah ketergantungan media sosial sebagai sumber informasi. Fakta dilapangan mahasiswa lebih sering membaca konten singkat sehingga minat baca pada teks panjang menurun. Semakin sering pula terkecoh dengan berita hoax.

“Mahasiswa cenderung bergantung pada sumber daring yang tidak selalu kredibel, seperti blog atau media sosial. Akibatnya, kemampuan menulis ilmiah juga ikut menurun,” ujar Anggun.

Kedua narasumber memberikan solusi untuk meningkatkan minat baca di Indonesia. Seperti dalam lingkup mahasiswa dan kampus narasumber menyarankan untuk membentuk forum diskusi, kelompok baca, dan sebagainya untuk mendorong literasi membaca yang tentunya difasilitasi oleh kampus.

Sebagai penutup Calista memaparkan kutipan yang berbunyi, "Books don’t change people; paragraphs do, sometimes even sentences."

Penulis : Anisa Nur Anggraeni
Editor   : Widia Hastuti 

Konferensi Pers : Pentingnya Literasi Di Kalangan Mahasiswa

 

Depok, Selasa 4 November 2025 - Literasi merupakan kemampuan dan keterampilan seseorang dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan mengolah informasi, juga memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu anggota komunitas yang bernama Anggun mengungkapkan bahwa “Jauh sebelum proklamasi diterbitkan Sukarno dan Mohammad Hatta menyatakan bahwa untuk memulai bangsa yang lebih baik harus membaca, namun nyatanya Indonesia merupakan negara dengan tingkat membacanya yang terendah di ASEAN. Tentu ini menjadi persoalan yang serius dan tantangan bagi pemerintah dalam mengatasi masalah literasi di Indonesia.

Di era digital seperti ini, literasi menjadi suatu hal yang penting bagi mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa. Dengan literasi mahasiswa dapat mengerti apa yang dimaksud oleh suatu bacaan, bahkan mengetahui makna tersirat dari bacaan tersebut.

Menurut komunitas tersebut dalam sebuah konferensi pers, tingkat kemampuan membaca mahasiswa di Indonesia masih cukup beragam. Berikut data yang disampaikan

• Di 7 PTS Yogyakarta, skor rata-rata kemampuan membaca mahasiswa mencapai 71,29%, dengan skor terendah 12,00 hingga 100,00.

• Universitas Bengkulu indeks literasi dasar membaca untuk mahasiswa sangat tinggi di keseluruhan aspek.

• Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tergolong sangat rendah yaitu 36,5% mahasiswa membaca 10-15 menit, 34,1% membaca 5-10 menit perhari, 15,3% membaca 15-30 menit dan hanya 4,7% yang membaca lebih dari 30 menit sehari.

• Universitas Muslim Indonesia 56,4% memiliki minat baca dalam kategori yang cukup tinggi, 17,1% dalam kategori sangat tinggi, dan 26,5% dalam kategori sedang.

Adapun faktor penyebab rendahnya tingkat literasi di kalangan mahasiswa:

• Mahasiswa membaca hanya ada tugas, bukan atas keinginannya sendiri, “Mereka akan membaca sebuah buku atau tulisan kalau mereka itu disuruh, sedangkan kalau keinginan sendiri itu mereka membaca novel saja”, tutur Anggun dalam konferensi pers

• Teknologi digital membuat kebiasaan membaca dengan teliti menurun. Saat mahasiswa membaca buku digital, mereka rentan terganggu oleh konten-konten video atau bahkan notifikasi.

• Lingkungan, suasana, dan fasilitas yang kurang mendukung. Fasilitas dan akses terhadap buku masih cukup minim. Meskipun di Jakarta sendiri sudah ada fasilitas seperti perpustakaan gratis.

• Dukungan keluarga dan pengaruh sosial budaya. Orang yang memiliki kebiasaan membaca kerap kali disebut “kutu buku” dan kerap dianggap aneh. Menurut Anggun, pemerintah juga kurang memfasilitasi atau kurangnya perhatian terhadap buku, “Di sosial media pernah ada video di mana pada saat itu harga buku itu tiga ribu satu buku dan itu banyak orang yang rebutan, berarti di sini masalahnya buku-buku di pasaran mahal, sehingga masyarakat tidak mampu untuk membelinya” tuturnya.

Kasus umum yang terjadi mengapa Indonesia mengalami krisis literasi yaitu diantaranya : 

• Kesulitan memahami materi. Mahasiswa lebih mengandalkan halaman PowerPoint dosen tanpa membaca materi tambahan di luar dari yang diberikan dosen.

• Keterampilan menulis ilmiah yang lemah. Mahasiswa sering membuat asal jadi dan mengambil sumber dari blog, media sosial dan media tanpa memperhatikan isi materi secara keseluruhan.

• Bergantung media sosial untuk informasi. Di zaman serba digital seperti saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa semua informasi sangat mudah diakses melalui internet, hal ini tentu berpengaruh bagi tingkat literasi di Indonesia.

Sebenarnya, masalah rendahnya tingkat literasi di Indonesia masih bisa diatasi dengan aksi-aksi konkret dan berdampak terhadap masyarakat, seperti :

Dalam lingkup mahasiswa dan kampus bisa membentuk forum diskusi, kelompok baca, klub buku dan sebagainya untuk mendorong literasi membaca yang tentunya difasilitasi oleh kampus. Sedangkan dari sisi pemerintah harus mendorong dan semakin mengembangkan program literasi seperti Gerakan Indonesia Membaca (GIM), Gerakan Nasional Literasi Digital, dan lainnya yang sudah berjalan.


Muhammad Bani Hasyim (Penulis)

Muhammad Ridho Zikri Al Faraby (Editor)

Tantangan Minat Baca Mahasiswa di Era Digital: Temuan dan Solusi

 

Konferensi Pers Rendahnya Minat Baca Mahasiswa: Viara Nafisah Naila/publika

PUBLIKANEWS, Depok – Dalam kegiatan Konferensi Literasi yang digelar di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) pada Selasa, 4 November 2025, dua pembicara yaitu Calista Evanglis dan Anggun Yudia Lestari, memaparkan kondisi literasi membaca di kalangan mahasiswa yang dinilai masih rendah. Keduanya juga menanggapi efektivitas program pemerintah Duta Baca Indonesia dalam meningkatkan minat baca di kalangan muda.

Dalam paparannya, Calista dan Anggun menyoroti bahwa rendahnya minat baca mahasiswa menjadi tantangan besar di dunia pendidikan tinggi. Hasil penelitian di sejumlah perguruan tinggi menunjukkan bahwa kebiasaan membaca mahasiswa terus menurun, terutama di era digital yang membuat mereka lebih terbiasa dengan bacaan singkat.

Berdasarkan penelitian menurut dua pembicara  di beberapa perguruan tinggi, termasuk PTS di Yogyakarta, rata-rata kemampuan membaca mahasiswa hanya mencapai 71,29%, dengan sebagian besar membaca kurang dari satu jam per hari. Di Universitas Bengkulu, aktivitas literasi membaca tergolong tinggi, namun di Universitas Negeri Yogyakarta, hanya sekitar 36% mahasiswa membaca 10–15 menit per hari, dan 4,7% yang membaca lebih dari 30 menit. Sementara di Universitas Muslim Indonesia, hanya sebagian kecil mahasiswa yang memiliki minat baca tinggi. Data ini menunjukkan bahwa minat baca mahasiswa secara umum masih rendah di berbagai kampus di Indonesia.

Calista dan Anggun mengungkapkan beberapa faktor penyebab rendahnya literasi di indonesia, antara lain mahasiswa hanya membaca saat ada tugas, gangguan dari teknologi digital, lingkungan dan fasilitas membaca yang kurang mendukung, pengaruh sosial yang tidak menumbuhkan kebiasaan membaca, serta harga buku yang tergolong mahal.

Kondisi ini berdampak pada kemampuan akademik mahasiswa. Banyak yang kesulitan memahami materi kuliah karena jarang membaca referensi tambahan. Bahkan kemampuan menulis ilmiah juga menurun karena kebiasaan menyalin tanpa memahami isi bacaan.

Pemerintah telah meluncurkan beberapa program seperti Gerakan Indonesia Membaca (GIM) dan Ayo Literasi, namun keduanya dinilai belum maksimal karena tidak dijalankan secara berkelanjutan. Anggun mencontohkan sebuah sekolah di Pasar Minggu yang berhasil meningkatkan minat baca melalui gerakan membaca harian.

“Program literasi seharusnya dilakukan terus-menerus, bukan hanya satu atau dua kali dalam setahun ataupun perbulan,” ujar Anggun.

Program Duta Baca Indonesia juga dianggap langkah positif. Tokoh publik seperti Najwa Shihab, Taufik Hidayat, dan Rifqi Fadilah Noyan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk membaca. Dalam sesi tanya jawab, salah satu wartawan, Faizah, menanyakan efektivitas program tersebut.

“Program pemerintah Duta Baca itu efektif enggak sih? Apa dampaknya buat mahasiswa?” tanyanya.

Menjawab hal itu, Calista menyebut program Duta Baca cukup efektif dalam membuka wawasan masyarakat dan mengedukasi pentingnya membaca. “Namun efektivitasnya tetap bergantung pada cara pandang masyarakat terhadap kegiatan tersebut,” jelasnya.

Selain membahas literasi, diskusi juga menyinggung isu sensor buku. Salah satu wartawan, Haikal, berpendapat bahwa sensor perlu dilakukan secara bijak.

“Sensor penting supaya isi buku tidak menimbulkan keresahan, tapi buku provokatif juga dibutuhkan agar mahasiswa bisa berpikir kritis. Jadi harus seimbang,” ujarnya.

Namun Anggun menegaskan bahwa sensor sebaiknya dilakukan secara halus melalui makna tersirat, bukan penghapusan total. Di sisi lain, kemampuan pembaca juga harus ditingkatkan agar mampu memahami isi bacaan dengan benar.

Sebagai penutup, Calista dan Anggun menegaskan bahwa rendahnya minat baca bukan hanya masalah individu, tetapi masalah sistemik yang melibatkan pemerintah, kampus, dan masyarakat. Pemerintah perlu memperkuat program literasi yang berkelanjutan, kampus menumbuhkan budaya baca melalui klub literasi, dan mahasiswa harus menyadari bahwa membaca bukan sekadar tugas akademik, melainkan kebutuhan untuk mengembangkan diri.

 


Rendahnya Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa, Harga Buku Menjadi Salah Satu Faktor Penyebab

Sumber : Dokumen Pribadi 

Depok 4 November 2025 – Konferensi Pers bertajuk “ Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa” membahas mengenai minat baca di kalangan mahasiswa Indonesia yang dinilai masih rendah. Ungkap harga buku menjadi salah satu faktornya.

Dalam pemaparannya Calista Evangelis dan Anggun Yudia Lestari menjelaskan mengenai literasi dan bagaimana literasi di kalangan mahasiswa. Menurut data yang disampaikan, tingkat kemampuan membaca di tujuh perguruan tinggi swasta di Yogyakarta memiliki skor rata-rata 71,29 dengan skor tertinggi berada di angka 100 dan terendah di angka 12. Di Universitas Negeri Yogyakarta 36,5 persen mahasiswa membaca kurang dari lima menit perhari, 34,1 persen membaca selama 5-10 menit, dan hanya 4,7 persen yang membaca lebih dari satu jam setiap harinya.

Faktor penyebab yang disampaikan termasuk harga buku yang tinggi di pasaran. Mahalnya harga buku membuat sebagian mahasiswa kesulitan dalam membeli buku. Mahasiswa hanya bisa mengandalkan materi yang diberikan dosen. Selain itu dukungan keluarga dan pengaruh sosial budaya juga menjadi peran dalam membentuk kebiasaan membaca. Menurut pembicara, rendahnya literasi akan berdampak kepada mahasiswa dalam memahami materi kuliah dan menulis karya ilmiah. Tidak jarang juga ada mahasiswa yang mudah terpengaruh dan percaya pada berita hoax karena minim literasi dalam memahami isi berita.

Anggun dan Calista juga menyampaikan solusi berupa saran terhadap pihak kampus dan pemerintah yang memperkuat gerakan literasi dan program lainnya yang akan mengembangkan minat baca. Anggun dan Calista juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pihak media. “Pemerintah harus terus mengulang program literasi agar masyarakat terbiasa membaca,” ujar Anggun dalam konferensi pers.

Calista juga menegaskan bahwa literasi adalah pondasi penting dalam dunia akademik, karena dengan membaca akan meningkatkan kemapuan berfikir, memahami, serta menulis dalam dunia akademik.

Aulia Nugraheni Putri (Penulis)
Avyssa Athifa Firyal (Editor Vidio)


Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa : Pemerintah Punya Pengaruh

 

Dokumen asli dari Reyna 

Depok, 04 November 2025 - Indonesia memiliki tingkat membaca paling rendah di ASEAN. Menurut pembicara Calista Evanglis dan Anggun Yudia Lestari dalam konferensi pers. Tepat pada Selasa, 04 November 2025. 

Di mata kuliah penulisan berita, kelas PB 1A mengadakan konferensi pers dengan pembicara Calista Evanglis dan Anggun Yudia Lestari.  Konferensi pers tersebut membahas “Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa”. 

Literasi menurut UNESCO adalah kemampuan memahami buku. Hal ini sangat penting dikalangan mahasiswa karena literasi dapat membantu mengetahui makna tersirat dari buku yang dibaca. Bapak Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta menyampaikan, untuk memulai bangsa yang lebih baik harus dimulai dengan membaca. 

Sayangnya, tingkat membaca mahasiswa masih tergolong rendah. Terdapat beberapa faktor literasi membaca mahasiswa masih rendah. Yaitu mahasiswa hanya membaca bila ada tugas, bukan dari keinginannya sendiri. Teknologi digital juga membuat ketelitian dalam membaca menurun. Pemerintah juga punya peran penting dalam meningkatkan literasi mahasiswa. Jika fasilitas dan budaya tidak mendukung, akan mempersulit mahasiswa untuk meningkatkan literasi.

Pemerintah juga punya kendali atas penyitaan buku yang dianggap berbahaya. Namun, penyitaan ini masih menjadi tanda tanya bagi sebagian masyarakat. Apakah pemerintah takut jika mahasiswa semakin pintar, atau justru untuk melindungi mahasiswa dari pola pikir yang berbahaya. Karena membaca buku tidak hanya membantu memahami buku, tetapi dapat mengubah pola pikir pembacanya. 

“Buku itu bisa dianggap berbahaya karena bisa saja tidak cocok dengan ideologi bangsa indonesia. Sisi negatifnya, karena mahasiswa di sekitar kita ingin berpikir kritis, bisa dibilang pemerintah ini takut akan perubahan,” ujar pembicara Calista Evanglis. 

Literasi membaca ini menjadi pondasi penting. Tidak hanya untuk mahasiswa, namun berpikir kreatif. Sehingga mahasiswa, kampus dan pemerintah dapat bekerja sama untuk meningkatkan literasi. 

Penulis    : Amirah Islam
Editor      : Reyna Herdiyanti

Membangun Budaya Literasi di Kalangan Mahasiswa

Sumber : Dokumen Pribadi

Calista Evanglis dan Anggun Yudia Lestari menjadi pembicara pada konferensi pers dengan tema “Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa”. Tema ini menekankan isu rendahnya minat literasi mahasiswa yang berperan sebagai penerus bangsa.

Konferensi ini dilaksanakan pada Selasa, 4 November 2025 di ruang 313 Gedung Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta. Anggun Yudia membuka konferensi pers dengan mengutip perkataan Soekarno dan Hatta yang menyatakan bahwa membangun bangsa dimulai dengan membaca.

Literasi adalah kemampuan membaca, menulis, dan memahami informasi dalam kehidupan sehari-hari. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) juga memberikan definisi literasi sebagai cara memahami, berkomunikasi, dan menganalisis suatu hal. Berdasarkan artikel Universitas Islam Negeri Madura, literasi berasal dari bahasa latin literatus yang artinya orang yang belajar. Literasi terbagi menjadi beberapa macam, antara lain literasi membaca, literasi menulis, literasi numeris, dan literasi sains.

Calista dan Anggun menampilkan grafik melek huruf pemuda Indonesia pada tahun 2024 berada di angka 99,79%. Namun, hal ini bukan berarti minat literasi di Indonesia dapat dianggap baik. Untuk  itu, dilakukan studi kasus di beberapa perguruan tinggi di Indonesia.

Studi kasus pertama dilakukan di tujuh perguruan tinggi swasta di Jogja. Hasilnya menunjukkan 71,29% skor terendah dari 12,00 dan skor tertinggi di angka 100%. Di Universitas Bengkulu, indeks aktivitas literasi mahasiswanya menunjukkan kategori sangat tinggi dalam semua aspek.

Universitas Negeri Yogyakarta menghasilkan indeks rendah dengan angka 36,5% membaca sekitar 10-15 menit, 34,1% membaca sekitar 5-10 menit, 15,3% membaca sekitar 15-30 menit, dan hanya 4,7% yang membaca lebih dari 30 menit. Rentang waktu membaca di bawah 60 menit masih dianggap rendah.

Beberapa faktor rendahnya minat literasi mahasiswa adalah membaca jika hanya ada tugas, teknologi digital yang memiliki banyak distraksi, pengaruh bacaan singkat, lingkungan dan suasana, tingginya harga buku, fasilitas yang mendukung, dan sosial budaya.

Kasus umum yang terjadi akibat rendahnya minat literasi mahasiswa antara lain mahasiswa kesulitan memahami materi, keterampilan menulis ilmiah yang lemah, hingga bergantung pada media sosial dan sering terkecoh dengan berita palsu.

Calista dan Anggun memberikan solusi untuk mengatasi rendahnya minat literasi yaitu dengan mengembangkan forum diskusi dan klub buku bagi lingkup mahasiswa. Pemerintah juga diharapkan terus mengembangkan program Gerakan Indonesia Membaca (GIM) dan Gerakan Nasional Literasi Digital sebagai wadah berkembangnya literasi di Indonesia.

Penyampaian materi ini mendapatkan berbagai pertanyaan dari penonton. Salah satu pertanyaan membahas keefektifan duta baca yang ada di tiap kota. Menurut Anggun, duta baca sudah mulai terasa dampak positifnya melalui sharing singkat di media sosial yang mampu memengaruhi masyarakat untuk ikut membaca.

“Sebenernya efektif, tapi kalo nggak ada kesadarannya percuma, keduanya harus seimbang,” tambah Calista.

Literasi tidak hanya dilakukan untuk memenuhi tugas kuliah, tetapi juga untuk wadah berkreasi dan berpikir kritis. Dengan berbagai tantangan yang ada, mahasiswa, pihak kampus, dan pemerintah harus bekerja sama dalam meningkatkan minat literasi mahasiswa di Indonesia.

Konferensi ini ditutup dengan kalimat mutiara yang berbunyi “Book don’t change, paragraphs do, sometimes even sentences” sebagai pengingat bahwa kata-kata dapat mengubah dunia.

 Penulis : Nailla Nintiya Diningrum

Editor : Navaya Anggita Aristi

Konferensi Pers: Literasi Menjadi Kunci Membangun Mahasiswa Kritis Dan Kreatif

 


foto oleh Kelompok 1


Depok Literasi membaca di kalangan mahasiswa menjadi fokus pembahasan dalam konferensi pers yang digelar oleh suatu komunitas literasi dengan pembicara Calista Evanglis dan Anggun Yudia Lestari. Kedua pembicara menyerukan peringatan terkait tantangan literasi yang mereka sebut sebagai pondasi penting bagi kemampuan mahasiswa untuk berpikir kreatif dan aktif, Depok (4/11/2025).

"Jauh sebelum proklamasi, Soekarno-Hatta menyatakan untuk memulai bangsa yang baik dimulai dari membaca, namun Indonesia memiliki tingkat baca yang rendah," tegas Anggun, menggarisbawahi urgensi masalah ini di tengah capaian Angka Melek Huruf Pemuda Indonesia (usia 16-30 tahun) yang sudah sangat tinggi, mencapai 99,79% pada tahun 2023-2024 menurut data BPS.

Data yang disajikan menunjukkan bahwa tantangan literasi membaca di kalangan mahasiswa masih besar. Contohnya, di Universitas Negeri Yogyakarta, mayoritas mahasiswa membaca hanya 5 hingga 15 menit per hari (total 70,6%), menunjukkan durasi membaca yang sangat rendah. Sementara itu, faktor penyebab rendahnya literasi diidentifikasi meliputi mahasiswa membaca hanya karena ada tugas, teknologi digital yang menyebabkan kebiasaan membaca teliti menurun serta kurangnya dukungan lingkungan, suasana, dan fasilitas.

Tantangan ini diwujudkan dalam kasus umum seperti kesulitan memahami materi karena hanya mengandalkan slide presentasi dosen, keterampilan menulis ilmiah yang lemah, serta ketergantungan pada media sosial yang memicu penurunan minat baca pada teks panjang dan rentan terkecoh berita hoax.

Sebagai solusi, Calista dan Anggun menekankan peran kolaboratif antara mahasiswa dan kampus yaitu perlunya membentuk forum diskusi, kelompok baca, atau klub buku yang difasilitasi oleh kampus. Sementara pemerintah harus terus mendorong dan mengembangkan program literasi yang sudah berjalan, seperti Gerakan Indonesia Membaca (GIM) dan Gerakan Nasional Literasi Digital.

"Tantangan dalam literasi membaca masih banyak, seperti rendahnya minat baca dan fasilitas terbatas. Oleh karena itu, semua pihak harus lebih peka dan saling bekerja sama untuk meningkatkan minat baca di kalangan mahasiswa," tutup kedua pembicara.

Dengan berakhirnya konferensi pers tersebut, para pembicara berharap semangat literasi dapat tumbuh kembali di kalangan mahasiswa sebagai langkah awal membangun generasi yang kritis dan kreatif. Upaya kolaboratif antara kampus, pemerintah, dan komunitas literasi diharapkan mampu menjadi fondasi kuat bagi peningkatan budaya membaca di Indonesia.


Fauzah Jamilah (Penulis)

Ihda Nur Azmi (Penulis)

Wulan Dian Sari (Editor)

Senin, 13 Oktober 2025

MENOLAK MODERNISASI DEMI ALAM: KEARIFAN SUKU KAJANG DI BULUKUMBA


Bulukumba, Sulawesi Selatan - Masuk ke kawasan Tana Toa, suasana langsung berbeda. Lampu jalan jarang ada, suara motor hampir tak terdengar, dan udara terasa lebih berat oleh aroma daun dan tanah basah. Di sinilah Suku Kajang Ammatoa tinggal komunitas adat yang memilih hidup sederhana dan menempatkan alam di atas gaya hidup modern.

Orang-orang di Kajang punya prinsip yang jelas ‘Kamase-masea’. Yaitu sederhana hidup apa adanya, dan jangan berlebihan. Di daerah inti adat ini tidak akan menemukan kabel listrik melintang atau deretan motor. Warga lebih memilih cara tradisional seperti menanam, menenun, memasak pakai tungku, dan menyelesaikan urusan dengan lewat musyawarah.

Ciri yang paling mencolok adalah pakaian hitam yang seragam. Bukan karena duka, tetapi itu lambang kesetaraan. Di mata mereka, warna itu menyamakan posisi semua orang dan tidak ada pembedaan kasta atau status. Bahkan pemimpin adat mereka, yang disebut Ammatoa, berpakaian sama dan duduk sejajar ketika mengambil keputusan bersama warga.
Peran Ammatoa tak sekadar simbolis. Ia adalah penengah, penjaga aturan adat (Pasang ri Kajang), dan pengambil keputusan soal pemanfaatan alam. 

Hutan di sekitar desa diperlakukan bak kawasan suci ada bagian yang dilarang disentuh sama sekali, ada yang boleh dimanfaatkan secara terbatas, dan ada area untuk kepentingan umum. Aturan ini bukan sekadar formalitas mereka percaya merusak hutan berarti merusak hidup sendiri.

Dari desa ini kita belajar karena di zaman ketika segala sesuatu serba cepat informasi, fasilitas, gaya hidup komunitas ini mengingatkan kita tentang pentingnya menahan diri, menghormati alam, dan menjaga tradisi. Mungkin bagi sebagian orang hidup seperti mereka terasa kuno. Namun dari sudut lain, itu adalah bentuk kebijaksanaan dengan memilih kelestarian demi hari-hari yang lebih tenang dan bermakna.


Sumber: Indonesia Kaya - https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/mempelajari-keramahan-dan-kearifan-lokal-suku-kajang-ammatoa-bulukumba/?utm_source=chatgpt.com


SEMANGAT BELAJAR DI RUANG DARURAT

 


Cileungsi, 14 September 2025 - Panas terik matahari siang itu tak menyurutkan semangat para siswa SMKN 1 Cileungsi untuk tetap belajar. Sejak bangunan sekolah ambruk pada Rabu, 10 September lalu, halaman sekolah yang dikelilingi pepohonan rindang berubah fungsi menjadi ruang kelas dadakan.


        Dalam tenda berukuran besar itu, siswa-siswi duduk di bangku belajar seperti biasa. Mereka tetap mengenakan seragam lengkap, mendengarkan penjelasan guru di depan kelas. Meski fasilitas terbatas, proses belajar tetap berjalan. Tenda tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, seperti terlihat dari tulisan "KEMENDIKBUD RISTEK" yang terpasang di bagian depan tenda.


        Fariza Mufida, siswi kelas 10, terlihat duduk bersama kelompok belajarnya di atas tikar sederhana. Sambil menulis, ia sesekali menyeka keringat di dahi. “Di tenda itu panas banget, soalnya langsung kena sinar matahari. Kalau di luar lebih adem, angin nya juga sepoi-sepoi,” ujarnya, Senin (15/9).


        Meski harus belajar tanpa fasilitas lengkap. Firza merasa justru merasa pengalaman ini memberi warna baru . “Seru aja sih, soalnya bareng temen-temen juga. Jadi rasanya beda, lebih menyenangkan,” tambahnya. Hal senada diungkapkan Dehan Bastian, siswa lain yang juga memilih belajar di luar tenda. Baginya, ruang kelas tentu jauh lebih nyaman karena dilengkapi kipas angin. Namun, di ruang terbuka menghadirkan pengalaman yang tak kalah berkesan. “Kalau di luar, suasananya lebih adem, lebih asik. Kita bisa dapet hal-hal baru juga,” kata Dehan. 


        Kadang siswa cepat merasa lelah karena panas, keringetan, mencairkan suasana (belajar) di luar, di bagi per grup,” kata Afif. Ia mengatakan,metode belajar di luar kelas untuk membantu siswa agar tidak cepat bosan dan kehilangan tenaga karena terlalu berkeringat ketika belajar di tenda darurat. 


        “Sebenarnya sebelum ada musibah (kelas ambruk) juga sering di luar, jadi ketika ada musibah seperti ini, terus kita harus di tenda, jadi dengan adaptasi siswa pindah atau pergrup di luar ya udah biasa, sudah tidak terlalu kaget.” Ungkapnya. Ia mengungkapkan, perbedaan kegiatan belajar mengajar di kelas atau di tenda darurat, salah satunya adalah lebih cepat lelah karena terlalu berkeringat, dan suara saat mengajar harus lebih keras karena situasi tenda yang tidak kedap terhadap suara. 


        Hal tersebut dilakukan karena banyak siswa-siswi yang mengeluh panas belajar dalam tenda darurat. Sebelum peristiwa kelas ambruk terjadi, murid SMKN 1 Cileungsi memang sudah terbiasa untuk belajar di luar kelas untuk mencari suasana baru.

Kemenangan Manis di Tanah Thailand Mengantarkan Persib ke Klasemen 2 Grup G ACL 2


Sumber: Instagram@Persib

Bogor, 1 Oktober 2025- Pertandingan kedua Grup G ACL 2 Persib Bertandang ke Bangkok, meskipun bermain di tandang lawan yaitu di BG Stadium Thailand, Pangeran Biru tak gentar dengan sorakan suporter lawan, sebagai jawara Liga Indonesia Persib menunjukan mental juara.

     Di bawah arahan pelatih Bojan Hodak, Persib tak terlalu dominan dalam penguasaan bola, mereka bermain sabar dan menunggu Bangkok United melakukan kesalahan untuk melakukan serangan balik cepat, taktik ini terbukti berhasil, menjelang akhir babak pertama Gol pembuka datang pada menit-42 lewat skema serangan balik cepat, Uilliam Baros yang menggiring bola dengan cepat di sisi kanan langsung mengirimkan umpan datar akurat ke depan gawang, yang langsung di eksekusi dengan tenang oleh Andre Jung. Gol perdananya di Asia menunjukan ketajaman sang penyerang.

     Bangkok United yang diperkuat oleh bek kiri Timnas Indonesia Pratama Arhan, semakin frustrasi di babak kedua. Mereka menyerang secara terus-menerus, namun kokohnya pertahanan Persib dan penampilan celemerlang kiper Teja Paku Alam dibawah mistar gawang berhasil mematahkan setiap upaya Bangkok United untuk mencetak Gol.

     Kemenangan Pangeran Biru di tutup manis pada menit ke-71. Kali ini, Uilliam Barros yang tampil memukau. Tendangan kerasnya bersarang ke pojok kiri gawang lawan, sekaligus mengunci skor 2-0 yang bertahan hingga peluit panjang dibunyikan.

     Dengan hasil ini membawa Persib mengoleksi 4 poin dari dua pertandingan (satu kali imbang dan satu kali menang). Perolehan poin ini sama persis dengan yang dimiliki oleh pemuncak klasemen, Lion City Sailors yang pada hari yang sama menang telak 4-2 atas Selangor FC.

     Berhasil membawa pulang 3 poin dari Thailand ini bukanlah hal yang mudah. Kemenangan ini menunjukan bahwa Persib siap memberikan kejutan dan membawa nama Indonesia bersinar di pentas sepak bola Asia. Perjalanan masih panjang dan Persib harus tampil lebih baik pada pertandingan berikutnya untuk melaju lebih jauh di ACL 2.


Crochet Jadi Pilihan Anak Muda Untuk Isi Waktu Luang

 

Sumber: id.pinterest.com
Sumber: id.pinterest.com

Jakarta — Di tengah derasnya dunia digital, crochet muncul sebagai pengalaman kecil bagi banyak orang. Aktivitas ini kembali populer, bukan hanya karena hasilnya yang estetik, tetapi karena prosesnya yang membuat rileks. Dalam dunia yang menuntut segalanya serba cepat, crochet mengajarkan arti dari kesabaran.

Benang warna-warni kini berserakan di kamar anak muda. Jarum rajut kecil berputar perlahan, membentuk pola yang rumit tapi menarik. Ada rasa puas ketika simpul-simpul itu akhirnya menyatu menjadi tas, topi, atau boneka rajut buatan tangan sendiri.

Tren crochet menyebar dari media sosial, tetapi berkembang lebih jauh dari sekadar tren musiman. Banyak orang yang memanfaatkan waktu senggang di rumah untuk belajar melalui video daring atau berbagi hasil karya mereka dengan teman.

Selain menjadi wadah kreativitas, crochet juga memberi ruang bagi ketenangan mental. Gerakannya yang berulang dan lembut memberi efek menenangkan, membantu melepas penat dari tugas sekolah dan tekanan sosial. Di tengah kebisingan dunia maya, crochet menjadi bentuk healing yang sederhana dan nyata.

Beberapa remaja mulai menjual hasil rajutannya secara daring. Tas dan aksesori rajut kini menjadi bagian dari tren fesyen lokal yang digemari karena nuansa hangat dan personalnya. Meski begitu, kebanyakan tetap menjalaninya dengan hati, bukan semata mencari keuntungan.

Crochet juga menjadi sarana ekspresi diri. Setiap pilihan warna, bentuk, dan pola mencerminkan suasana hati pembuatnya. Ada yang memilih warna pastel untuk menenangkan diri, ada pula yang bermain dengan warna cerah untuk menyalurkan semangat muda.

Sekarang, crochet bukan lagi hobi yang dianggap kuno. Bagi banyak anak muda, kegiatan ini menjadi cara sederhana untuk beristirahat dan mengenal diri di tengah kehidupan yang serba cepat.

Antara Kopi dan Matcha: Cita Rasa Baru Generasi Z

 


Depok - Kopi telah lama menjadi simbol produktivitas dan semangat. Setiap pagi, aroma biji kopi yang disangrai seakan-akan menjadi tanda dimulainya hari yang sibuk. Namun, kini muncul warna baru di antara gelas-gelas kopi, hijau lembut dari bubuk matcha. Bagi banyak anak muda, terutama Generasi Z, minuman ini bukan sekadar tren, tetapi bentuk gaya hidup yang mencerminkan keseimbangan antara energi dan ketenangan.

Beberapa tahun terakhir, budaya ngopi di kalangan anak muda semakin kuat. Coffee shop menjamur di berbagai kota, menawarkan suasana nyaman dan estetik. Namun, di tengah dominasi kafein, matcha perlahan mulai mencuri perhatian. Warnanya yang menenangkan dan kesan sehat membuatnya populer di media sosial, terutama di kalangan Gen Z yang peduli dengan citra diri dan keseimbangan hidup. Matcha dianggap sebagai alternatif yang lebih lembut dibanding kopi. Jika kopi identik dengan dorongan energi dan aktivitas, matcha justru memberi kesan tenang dan penuh kesadaran. 

Tidak heran jika di TikTok dan Instagram banyak konten menampilkan rutinitas pagi dengan matcha latte, lilin aromaterapi, dan musik lofi. Semuanya menggambarkan semangat hidup yang lebih pelan, sadar, dan estetik.

Kedua minuman ini akhirnya menjadi simbol dua sisi kehidupan Gen Z, sibuk tetapi ingin tetap tenang, dan aktif tetapi juga butuh ruang untuk berhenti sejenak. Baik kopi maupun matcha menjadi cara untuk mengekspresikan identitas, kadang melalui foto di kafe, kadang lewat rutinitas sederhana di rumah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tren tidak selalu dangkal. Dibalik itu tersimpan makna tentang bagaimana generasi muda menafsirkan keseimbangan hidup. Mereka tidak lagi ingin sekadar terus bekerja, tetapi juga berhenti sejenak untuk bernapas. Mungkin di antara busa matcha dan pahitnya espresso, Gen Z sedang mencari sesuatu yang lebih dari sekadar rasa, yaitu cara untuk tetap waras dan menemukan diri sendiri di tengah hiruk pikuk kehidupan modern.




Sekali Tap Langsung Hilang: Dompet Aman, Saldo Kritis

Sumber : id.pinterest.com

Depok - Hidup di era digital membuat segala hal terasa lebih mudah, termasuk dalam urusan pembayaran. Kini, hampir semua transaksi bisa dilakukan hanya dengan satu sentuhan layar. Tidak perlu lagi membawa uang tunai, cukup memindai kode dan pembayaran selesai dalam hitungan detik.

Namun, di balik kemudahan itu, muncul kebiasaan baru yang secara perlahan mengubah cara masyarakat mengelola uang. Banyak orang mulai menyadari bahwa bertransaksi tanpa uang fisik sering kali membuat pengeluaran menjadi tidak terasa. Nilai uang seakan kehilangan “bentuk” ketika semuanya hanya berupa angka di layar ponsel.

Fenomena ini sering disebut sebagai invisible spending yakni dimana pengeluaran yang terjadi tanpa disadari karena tidak ada proses fisik dalam membayar. Ketika transaksi dilakukan secara digital, rasa kehilangan saat mengeluarkan uang pun berkurang. Akibatnya, seseorang bisa dengan mudah menghabiskan saldo tanpa menyadari seberapa banyak yang telah dikeluarkan.

Kemudahan bertransaksi ini juga diperkuat oleh berbagai promo dan cashback yang ditawarkan aplikasi pembayaran digital. Potongan harga dan program diskon membuat pengguna merasa seolah berhemat, padahal sering kali justru mendorong pengeluaran yang lebih besar.

Meski demikian, sistem pembayaran digital tetap memiliki banyak manfaat. Selain lebih efisien dan aman, cara ini juga mendukung perkembangan ekonomi modern yang serba cepat. Hanya saja, di tengah kenyamanan itu, kesadaran finansial menjadi hal yang perlu dijaga.

Era cashless memang membuat hidup lebih praktis, tetapi juga menuntut kemampuan baru untuk mengendalikan diri. Sebab terkadang, uang tidak benar-benar hilang begitu saja tetapi hanya berpindah terlalu cepat tanpa sempat disadari.

Madani International Film Festival 2025: Narasumber Berhalangan, Tetapi Acara Terus Berlanjut

 

10 Oktober 2025

Jakarta, 10 Oktober 2025 - Madani Internasional Film Festival 2025 yang diadakan di Taman Ismail Marzuki, tepatnya di Aula Gedung Perpustakaan HB Jassin, kegiatan ini diselenggarakan selama 2 hari dengan mengangkat tema "Misykat (Ceruk Cahaya)".

Acara dimulai dengan sambutan dari Omi Komaria Madjid, sebagai pembuka sesi acara, yang menekankan pemikiran dari peran Cak Nur terhadap pembaruan Islam. Suasana acara membuat para pengunjung kembali mengingat dengan menengok pidato kebudayaan Cak Nur yang menerangi Indonesia "gelap".

Sesi acara setelah sambutan adalah Pidato Kebudayan "Menengok 55 Tahun Pidato Pembaruan Islam Cak Nur: Energi Perubahan dari Taman Ismail Marzuki"  yang menghadirkan Dr. Budhy Munawar Rachman sebagai narasumber dan bintang tamu acara dan didampingi oleh Fachrurozi Majid sebagai moderator pada sesi ini. Menurut dugaan setempat, setelah di tunggu selama 20 menit bintang tamu berhalangan hadir dikarenakan terjebak macet, sehingga acara yang sudah terjadwalkan berlanjut dengan Fachrurozi Majid, moderator acara, yang mengambil alih acara. mengangkat judul "Cahaya Pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur) Untuk Menerangi Indonesia 'Gelap'." 

Fachrurozi menekankan bahwa Cak Nur adalah sosok yang tidak hanya membicarakan agama dalam kerangka doktrinal yang sempit, tetapi menghidupkan sebagai energi moral, intelektual, dan spiritual untuk menjawab persoalan konkret masyarakat. "Istilah yang Cak Nur pakai 'sesungguhnya agama yang diterima oleh Allah adalah agama yang lapang dan toleran'" ujar Fachrurozi. 

Sesi acara berakhir dengan Fachrurozi yang menekankan para pengunjung terkait agama bukan sekedar alat perebutan kekuasaan, tetapi sumber cahaya yang menuntun bangsa menuju keadilan dan persaudaraan.

 

GEDUNG SERBAGUNA PNJ DIALIHFUNGSIKAN SEBAGAI MASJID DARUL ‘ISMI



Depok, 13 Oktober -- Gedung Serbaguna Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) menjadi tempat sementara untuk beribadah umat islam di Politeknik Negeri Jakarta.

Menurut dari postingan akun resmi Instagram Politeknik Negeri Jakarta, renovasi Masjid Darul ‘Ilmi sudah dilakukan sejak 20 Januari 2025. Di sebelah kiri dari pintu utama Gedung Serbaguna Politeknik Negeri Jakarta yang kini menjadi tempat beribadah sementara umat islam di Politeknik Negeri Jakarta.

Terdapat tempat untuk berwudhu bagi umat islam di Politwknik Negeri Jakarta. Dan di dalam Gedung Serbaguna Politeknik Negeri Jakarta ada sebuah tirai yang menutupi sebagian area gedung yang terletak di sebelah kanan dari pintu depan yang diperuntukan untuk jamaat wanita.

hngga saat ini renovasi masjid Darul 'Ismi masih dalam tahap proses, yang menjadikan  Gedung Serbaguna Politeknik Negeri Jakarta dialihfungsikan sementara sebagai tempat ibadah salat sampai dengan proses pembangunan selesai.

Surya Kencana Bogor Yang Juga Dikenal Sebagai Pusat Kuliner dan tempat wisata Kota Bogor








                           sumber: (bogor.jawapos.com)


Bogor, 28 September 2025 - Surya Kencana merupakan salah satu ikon kota Bogor selain Kebun Raya Bogor, Suryakencana juga mempunyai nilai unik dalam sejarah, budaya dan juga pusat kuliner nya.

Berbagai macam makanan Surya Kencana Bogor antara lain adalah: 
1. Sate
2. Nasi goreng
3. Bacang
4. Es Durian

Salah satu pedagang yang ada di Surya Kencana adalah es durian, es durian menggunakan buah durian asli sehingga menimbulkan aroma yang sedap dan legit yang membuat orang-orang tertarik untuk membelinya. Es durian sendiri menawarkan berbagai macam varian harga dari mulai Rp 10.000, Rp 15.000, dan Rp 20.000. 

Selain es durian Surya kencana ada juga kuliner yang bernama bacang, bacang merupakan makanan khas dari Tiongkok uniknya makanan yang satu ini adalah berasal dari beras ketan, dibungkus dengan daun bambu, dan disajikan panas. Isiannya adalah campuran dari daging ayam atau sapi serta ditambahkan dengan topping gurih dari lemak sapi yang bernama jando.

Surya Kencana juga ada Rumah Abu Keluarga Thung, sejarah nya bangunan ini dulunya merupakan kantor Kiong Seng Liong milik 9 Thung bersaudara sekarang berubah menjadi abu untuk menyimpan abu jenazah leluhur mereka.

Mural juga dapat ditemukan di wilayah Surya Kencana salah satunya di Gang roda 4 tujuan dari mural adalah memperindah lingkungan dan juga menonjolkan aspek seni di lingkungan pusat kuliner.

Wilayah Surya Kencana selain banyak pedagang-pedagang yang berjualan, juga banyak pengendara motor dan mobil yang melewati daerah tersebut dan banyak Alfamart dan Indomaret di daerah tersebut.


Madani Fest 2025: Menyalakan Harapan di Tengah Tantangan Zaman



Jakarta — Suasana Taman Ismail Marzuki tampak ramai pada Jumat, 10 Oktober 2025. Sejak pagi hingga malam, pengunjung silih bergantian menghadiri berbagai sesi diskusi, pemutaran film, dan pertunjukan seni dalam rangkaian Madani Fest 2025 yang berlangsung dari 8–12 Oktober 2025.

Tahun ini, Madani Fest mengusung tema “Misykat (Ceruk Cahaya)”. Tema ini menjadi ajakan untuk menyalakan harapan di tengah gelapnya konflik, termasuk genosida yang masih terjadi di Palestina.

Setiap sesinya menghadirkan tema yang berbeda-beda, membahas isu sosial, budaya, dan kemanusiaan dari berbagai perspektif. Pada pukul 16.00–17.00, misalnya, diadakan sesi berjudul “Cahaya Pemikiran Nurcholish Madjid untuk Menrangi Indonesia Gelap” yang menyoroti warisan pemikiran Cak Nur sebagai inspirasi moral dan intelektual bagi bangsa.

Rangkaian acara tersebar di berbagai tempat, mulai dari Aula PDS HB Jassin lantai 4, Teater Wahyu Sihombing, hingga Studio Asrul Sani. Selain bersantai, para pengunjung juga diajak menonton film dan menikmati kegiatan seni yang menggugah refleksi.

Festival ini merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Mizan, dan Pabrikultur, serta didukung oleh berbagai media ternama seperti Kompas, Tempo, dan Republika dan masih banyak lagi.

Melalui Madani Fest 2025, cahaya pengetahuan dan kemanusiaan dinyalakan kembali untuk sebuah upaya menumbuhkan empati, harapan, dan semangat perubahan di tengah kegelapan zaman.

Album ‘The Life of a Showgirl’ Tuai Pujian dan Kritik Netizen


Sumber: Instagram @taylorswift

Jakarta ─ Taylor Swift kembali jadi perbincangan hangat di kalangan penggemar musik. Melalui album terbarunya yang berjudul “The Life of a Showgirl,” penyanyi asal Amerika itu mencoba menghadirkan sisi baru dari dirinya yang lebih berani dan tentunya berbeda dari album-album sebelumnya.

Sejak dirilis pada 3 Oktober 2025 lalu, album ini langsung ramai dibahas di berbagai platform media sosial. Banyak penggemar mengapresiasi konsep baru album yang lebih berani dan visual, namun tak sedikit pula yang menganggap lagu-lagunya di album kali ini justru kehilangan gaya lirik puitis sederhana serta emosi yang biasanya jadi karakteristik Taylor. Perbedaan pendapat itu pun membuat album ini semakin menarik perhatian, bukan hanya karena musiknya, tetapi juga karena reaksi beragam yang muncul dari netizen.

Sumber: Instagram @taylorswift

Dalam album ini, Taylor menghadirkan 12 lagu dengan nuansa lebih megah dibandingkan karya-karya sebelumnya. The Fate of Ophelia menjadi salah satu track song yang saat ini menjadi trend di sosial media. Lagu ini sukses menarik perhatian para penikmat musik dibandingkan track song lainnya. Netizen mengatakan bahwa hanya lagu itu saja yang cocok di telinga mereka. Alasan utamanya adalah karena gaya penulisan lirik Taylor yang dinilai downgrade. Meski begitu, masih banyak para penggemar yang justru menemukan keunikan dari album The Life of a Showgirl ini.

Selain dari sisi musik, visual dan konsep panggung yang ditampilkan dalam promosi album ini juga menjadi perhatian. Taylor tampil dengan gaya busana yang glamor dan bernuansa vintage, menyesuaikan dengan tema showgirl yang ingin ia tampilkan. Dalam salah satu video musiknya yang berjudul The Fate of Ophelia, ia terlihat menari di atas panggung besar dengan pencahayaan dramatis, memperkuat kesan bahwa album ini memang dirancang sebagai bentuk pertunjukan penuh cerita. Tak hanya itu, ia juga membawa Sabrina Carpenter sebagai partner duet untuk lagu The Life of A Showgirl.

Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, dari hal-hal itu justru menandakan bahwa album ini berhasil memancing perhatian luas dan membuktikan bahwa Taylor Swift tetap jadi sosok yang mampu mengguncang dunia musik, apa pun konsep musik yang ia pilih.

PENGHORMATAN KEPADA LELUHUR DENGAN RITUAL MA'NENE

 

    (Sumber : Merdeka.com)

Depok, 13 Oktober - Di Toraja Sulawesi Selatan, terdapat ritual unik yang bernama “Ma’ene”. Ritual ini di lakukan masyarakat Toraja setiap bulan Agustus atau September. Ritual ini merupakan bentuk penghormatan masyarakat Toraja untuk para leluhur mereka.

Dalam tradisi Ma’ene, keluarga akan membuka kembali makam leluhurnya, kemudian warga akan membersihkan tubuh, rambut dan mengganti pakaian baru yang telah disiapkan oleh keluarga.

Menurut kepercayaan masyarakat Toraja, kematian bukanlah akhir dari hubungan antara yang hidup dan meninggal. Roh leluhur mereka masih dianggap menjaga bahkan memberkati keturunannya, maka dari itu tradisi ini merupakan bentuk perhatian bahkan penghormatan kepada leluhur.

Tidak hanya memiliki makna spiritual, tradisi ini juga memiliki nilai sosial, selama acara berlangsung masyarakat akan bergotong royong tanpa melihat status sosial orang lain. Selama pelaksanaan upacara, warga saling bantu satu sama lain dalam mempersiapkan keperluan bersama.

Karena keunikannya, tradisi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, banyak wisatawan dari berbagai daerah yang turut hadir untuk menyaksikan ritual Ma’ene ini. Pemerintah daerah turut mendukung pelestarian budaya ini karena dianggap sebagai bagian penting dari warisan budaya lokal yang patut dijaga. 

Ritual Ma’ene bukan hanya ritual adat, melainkan cerminan nilai kekeluargaan, dan kebersamaan. Tradisi ini mengajarkan bahwa hubungan antara manusia tidak akan putus meskipun sudah dipisahkan kematian. Masyarakat Toraja memastikan warisan budaya mereka terjaga dari masa ke masa.

Tahapan Ritual Ma’ene

Ritual Ma’ene memiliki beberapa tahapan, tahap pertama Ritual Ma’ene yaitu pembacaan doa menggunakan bahasa Toraja kuno yang dilakukan oleh keluarga yang dituakan.

Setelah itu pihak keluarga mengurbankan hewan babi dan kerbau, jumlah babi yang dikurbankan sesuai dengan jumlah mumi, dan jumlah kerbau sesuai jumlah keluarga.

Setelah pengorbanan hewan keluarga akan menyiapkan sirih yang akan diletakkan di liang yang dipercaya sebagai pintu pembuka atau disebut Pa’tete, ini pertanda bahwa ritual sudah dimulai. Kemudian keluarga akan membuka peti mumi dan menjemurnya.

Setelah menjemur, mumi akan dibersihkan menggunakan kain dan akhirnya ditidurkan kembali, ritual ditutup dengan acara Ma’sisemba.

Pentingnya Literasi di Kalangan Mahasiswa

Depok, 4 November 202 5 - konferensi pers yang dipaparkan oleh pemateri yaitu Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis dengan tema Literasi...