Depok — Konferensi pers berjudul Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa digelar di Ruang 313 Gedung Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta pada 4 November 2025.
Terdapat dua narasumber, Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis, memaparkan penjelasan mengenai rendahnya minat baca serta salah satunya dampak penyitaan buku terhadap kebebasan literasi mahasiswa. Anggun menjelaskan bahwa mahalnya harga buku dan pengaruh media digital menjadi salah satu sebab minat baca mahasiswa menurun. Sementara itu, Calista menyoroti faktor lain seperti pembatasan buku tertentu bisa membatasi ruang berpikir kritis mahasiswa.
“Penyitaan buku yang dianggap berbahaya bisa memengaruhi kondisi literasi mahasiswa,” ujar Calista. “Padahal, buku-buku itu punya sisi positif da negatif nya. Buku bisa membantu kita berpikir kritis. Buku dianggap berbahaya mungkin karena isinya tidak sejalan dengan ideologi negara kita, atau mungkin pemerintah takut akan ada perubahan,” tambahnya.
Kasus umum yang ditemukan di kalangan mahasiswa antara lain sulit memahami materi karena hanya mengandalkan materi PowerPoint yang diberikan oleh dosen tanpa mencari referensi lain. Keterampilan menulis ilmiah juga masih lemah, banyak mahasiswa yang mengambil sumber secara asal. Selain itu, mahasiswa semester awal memiliki minat baca lebih rendah dibanding semester lain, serta cenderung bergantung pada media sosial yang berisi bacaan singkat dan rentan terhadap hoaks.
Melalui konferensi pers ini, diharapkan seluruh mahasiswa Indonesia dapat mengubah cara pandang mereka terhadap literasi. Literasi bukan sekadar kegiatan membaca, tetapi menjadi pondasi penting dalam membentuk pola pikir kritis dan meningkatkan kualitas akademik mahasiswa.
Febry Amellia (Penulis)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar