![]() |
| Sumber : Instagram @zhafiraiha |
Bekasi - Di saat masyarakat menganggap pendidikan seksualitas adalah hal yang tabu, Zhafira justru hadir menghapus stigma tersebut dengan cara modern.
Kurangnya pemahaman pendidikan seks akan menyebabkan berbagai masalah negatif, seperti pelecehan seksual, peningkatan angka kehamilan anak di bawah umur hingga penyakit menular seksual. Di Indonesia, pendidikan seksualitas sudah mengalami kemajuan dan mendapat dukungan dari pemerintah berupa modul pembelajaran hingga penyuluhan. Namun, dengan budaya yang kental di masyarakat membuat topik ini masih sulit dibahas secara gamblang, bahkan sungkan untuk dibahas karena takut dianggap bicara atau berpikiran senonoh.
Zhafira Aqyla adalah salah satu pemuda yang mengungkapkan pentingnya pendidikan seks pada masyarakat, khususnya pada anak-anak. Perempuan Indonesia yang lahir di Jepang ini memaparkan bahwa pendidikan seksual tidak hanya soal pubertas, tapi juga kemampuan untuk hidup, moralitas, dan hal holistik lainnya.
Zhafira menempuh pendidikan S1 di
Osaka University dengan jurusan Human Science. Di tahun terakhir kuliah, ia
meneliti perkembangan pendidikan seksualitas di negara-negara mayoritas muslim.
Dari sanalah muncul keinginannya untuk fokus berperan dalam pendidikan
khususnya pendidikan seksualitas. Setelah lulus S1, Zhafira memutuskan untuk
mendirikan sebuah platform online bernama Tau Lebih sebagai wadah edukasi dan
konsultasi pendidikan seksualitas berbasis nilai agama Islam.
Dari ilmu yang ia kaji selama di
Jepang, Zhafira menyadari bahwa pendidikan seksualitas akan
memberikan dampak positif kepada negara-negara yang mengimplementasikannya. Meski
berdomisili di Hongkong, Zhafira tetap ingin berkontribusi terhadap pendidikan di
Indonesia melalui platform Tau Lebih.
![]() |
| Sumber : Nailla Nintiya |
Pada awalnya, Tau Lebih hadir dengan postingan edukasi tentang pendidikan seksualitas. Seiring dengan meningkatnya minat masyarakat terhadap pendidikan seks ini melahirkan kelas pendidikan seksualitas ekslusif secara daring. Kelas ini disediakan untuk berbagai kalangan usia mulai dari anak-anak, remaja, orang tua hingga guru sekolah. Kelas menstrual health education dan kelas pubertas juga disediakan dan dikhususkan untuk remaja usia pubertas. Tau Lebih bukan sekadar kelas, melainkan ruang dialog yang lembut dan bermakna.
Perempuan berusia 25 tahun itu melanjutkan studi magister di Harvard Graduate School of Education untuk mengembangkan ilmu dalam menyampaikan informasi tentang pendidikan seksual. Menurutnya, ilmu-ilmu seksualitas harus dikemas dengan cara yang menarik. Jika sebutan Pendidikan Seksual masih dianggap tabu, maka kita bisa mengganti nama subjeknya menjadi Life Skills Education. Dengan konteks ilmu yang sama, penyebutan Life Skills Education akan dipandang sebagai sebuah kebutuhan bagi masyarakat untuk bertahan hidup.
![]() |
| Sumber : Instagram @taulebih.id |
Zhafira menilai bahwa harus ada kerjasama
antara pemerintah, tenaga pendidik dan orang tua untuk meluruskan miskonsepsi
yang tersebar di masyarakat. Contoh miskonsepsi dalam konteks pendidikan seksual yaitu
pendidikan seksual berarti mengajarkan anak cara berhubungan seksual. Padahal,
pendidikan seksual dapat disesuaikan dengan kultur budaya di masing-masing
daerah.
Miskonsepsi kedua yaitu
pendidikan seks tidak dapat diimplementasikan kepada anak PAUD atau TK. Menurut
Zhafira, pendidikan seks adalah kurikulum spiral yang menyesuaikan dengan
jenjang pendidikan. Dengan konsep yang unik dan menggunakan bahasa yang dapat
diterima oleh masyarakat, diharapkan miskonsepsi ini tidak lagi menjadi
penghalang dalam pendidikan seksualitas.
“Sebelum ngajarin siswa, ajarin dulu gurunya. Bagaimana pun guru yang akan mentransfer ilmu kepada murid,” ungkap Zhafira. Ia meyakini bahwa perubahan lebih mudah terwujud jika pemahaman ditanamkan terlebih dahulu kepada tenaga pendidik sebagai gerbang utama sumber ilmu. Guru bimbingan konseling, guru olahraga, dan guru biologi dianggap sebagai acuan utama dalam menerapkan ilmu pendidikan seksualitas di lingkungan sekolah.
Dengan langkah kecil ini, Zhafira berharap pendidikan seksual tidak lagi menjadi hal yang tabu dan dapat menjadi pondasi kuat dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang saling menghargai, menghormati, dan berempati.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar