Senin, 03 November 2025

Menelisik Literasi Membaca Mahasiswa


4 November 2025 - Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis sebagai narasumber dalam konferensi pers.

Depok – Konferensi pers bertema Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa yang dibawakan oleh Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis digelar di Politeknik Negeri Jakarta (4/11/2025). Kegiatan ini membahas pentingnya literasi membaca, penyebab rendahnya minat baca mahasiswa, serta peran pemerintah dan kampus dalam meningkatkan budaya literasi. 

Berdasarkan data yang dipaparkan Badan Pusat Statistik (BPS), dari tahun 2020 sampai 2024 terkait angka melek huruf Pemuda Indonesia. BPS menyatakan, presentase kenaikan angka melek huruf Pemuda Indonesia pada  usia 16-30 tahun itu berawal dari 99,67% di tahun 2020 dan telah mencapai 99,79% di tahun 2024.

Sementara kondisi literasi baca di kalangan mahasiswa, hasil data dari penelitian yang diambil dari tujuh PTN di Yogyakarta, terdapat tingkat kemampuan membaca mahasiswa dengan skor rata-rata 71,29, dengan skor terendah 12,00 dan skor tertinggi 100,00. Kemudian juga dari hasil data Universitas Muslim Indonesia, terdapat 56,4% memiliki minat baca dalam kategori materi tinggi, 17,1% dalam kategori sangat tinggi, dan 26,5% dalam kategori sedang.

Faktor dari membaca adalah kebanyakan akan membaca jika hanya disuruh, sementara membaca secara teliti kebanyakan ingin membaca secara ringkasnya. Terutama karena faktor teknologi digital yang membuat kebiasaan membaca dengan teliti menjadi menurun. Penyebab lainnya juga karena lingkungan suasana fasilitas, serta pengaruh sosial dan budaya.

“Karena di dunia sekarang banyak yang membaca namun disebut dengan kutu buku dan di cap ‘aneh’, namun juga karena faktor pemerintah yang menaruh harga yang terlalu mahal, jadi bukan karena mahasiswa malas membaca, melainkan karena harganya yang terlalu mahal.” Menurut Diah

Kasus umum yang terjadi, adanya kesulitan untuk memahami materi, keterampilan menulis ilmiah yang lemah, dan bergantung medsos untuk informasi. Dengan adanya kasus tersebut, banyak mahasiswa yang pada akhirnya menggunakan situs dan jurnal yang kurang efektif daripada menggunakan jurnal dan situs yang resmi untuk membuat artikel seperti skripsi. Pada akhirnya, banyak mahasiswa yang gagal saat keberlangsungan skripsi dengan terlalu mengandalkan situs dan jurnal yang kurang efektif.

Solusinya adalah mahasiswa dan kampus bisa membuat forum diskusi dan kelompok membaca untuk mendorong literasi membaca yang tentunya diberi fasilitas. Juga dengan pemerintah yang harus tetap mendorong dan semakin mengembangkan program literasi seperti Gerakan Indonesia Membaca (GIM), Gerakan Nasional Literasi Digital, dan lain sebagainya.

Salah satu wartawan menanyakan terkait, apakah duta baca Indonesia bisa efektif untuk mendukung literasi di Indonesia. “Program Duta Baca Indonesia juga termasuk langkah yang baik. Tokoh publik seperti Najwa Shihab, Taufik Hidayat, dan Rifqi Fadilah Noyan mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk membaca. Namun, efektivitas program ini bergantung pada sejauh mana masyarakat mengenal dan mengikuti kegiatan para duta baca tersebut,” menurut Calista.

Kesimpulannya adalah literasi membaca merupakan pondasi penting bagi mahasiswa bukan hanya unutk tugas kuliah tetapi juga menjadi alat untuk dapat berpikir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pentingnya Literasi di Kalangan Mahasiswa

Depok, 4 November 202 5 - konferensi pers yang dipaparkan oleh pemateri yaitu Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis dengan tema Literasi...