Depok – Konferensi pers bertema Literasi Membaca di Kalangan
Mahasiswa yang dibawakan oleh Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis digelar
di Politeknik Negeri Jakarta (4/11/2025). Kegiatan ini membahas pentingnya
literasi membaca, penyebab rendahnya minat baca mahasiswa, serta peran
pemerintah dan kampus dalam meningkatkan budaya literasi.
Berdasarkan data yang
dipaparkan Badan Pusat Statistik (BPS), dari tahun 2020 sampai 2024 terkait
angka melek huruf Pemuda Indonesia. BPS menyatakan, presentase kenaikan angka
melek huruf Pemuda Indonesia pada usia
16-30 tahun itu berawal dari 99,67% di tahun 2020 dan telah mencapai 99,79% di
tahun 2024.
Sementara kondisi literasi
baca di kalangan mahasiswa, hasil data dari penelitian yang diambil dari tujuh PTN
di Yogyakarta, terdapat tingkat kemampuan membaca mahasiswa dengan skor
rata-rata 71,29, dengan skor terendah 12,00 dan skor tertinggi 100,00. Kemudian
juga dari hasil data Universitas Muslim Indonesia, terdapat 56,4% memiliki
minat baca dalam kategori materi tinggi, 17,1% dalam kategori sangat tinggi,
dan 26,5% dalam kategori sedang.
Faktor dari membaca
adalah kebanyakan akan membaca jika hanya disuruh, sementara membaca secara
teliti kebanyakan ingin membaca secara ringkasnya. Terutama karena faktor
teknologi digital yang membuat kebiasaan membaca dengan teliti menjadi menurun.
Penyebab lainnya juga karena lingkungan suasana fasilitas, serta pengaruh
sosial dan budaya.
“Karena di dunia
sekarang banyak yang membaca namun disebut dengan kutu buku dan di cap ‘aneh’,
namun juga karena faktor pemerintah yang menaruh harga yang terlalu mahal, jadi
bukan karena mahasiswa malas membaca, melainkan karena harganya yang terlalu
mahal.” Menurut Diah
Kasus umum yang
terjadi, adanya kesulitan untuk memahami materi, keterampilan menulis ilmiah
yang lemah, dan bergantung medsos untuk informasi. Dengan adanya kasus
tersebut, banyak mahasiswa yang pada akhirnya menggunakan situs dan jurnal yang
kurang efektif daripada menggunakan jurnal dan situs yang resmi untuk membuat
artikel seperti skripsi. Pada akhirnya, banyak mahasiswa yang gagal saat
keberlangsungan skripsi dengan terlalu mengandalkan situs dan jurnal yang
kurang efektif.
Solusinya adalah
mahasiswa dan kampus bisa membuat forum diskusi dan kelompok membaca untuk
mendorong literasi membaca yang tentunya diberi fasilitas. Juga dengan
pemerintah yang harus tetap mendorong dan semakin mengembangkan program
literasi seperti Gerakan Indonesia Membaca (GIM), Gerakan Nasional Literasi
Digital, dan lain sebagainya.
Salah satu wartawan menanyakan
terkait, apakah duta baca Indonesia bisa efektif untuk mendukung literasi di
Indonesia. “Program Duta Baca Indonesia juga termasuk langkah yang baik. Tokoh
publik seperti Najwa Shihab, Taufik Hidayat, dan Rifqi Fadilah Noyan mampu
menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk membaca. Namun, efektivitas program ini
bergantung pada sejauh mana masyarakat mengenal dan mengikuti kegiatan para
duta baca tersebut,” menurut Calista.
Kesimpulannya adalah literasi membaca merupakan pondasi penting bagi mahasiswa bukan hanya unutk tugas kuliah tetapi juga menjadi alat untuk dapat berpikir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar