Senin, 03 November 2025

Tantangan Minat Baca Mahasiswa di Era Digital: Temuan dan Solusi

 

Konferensi Pers Rendahnya Minat Baca Mahasiswa: Viara Nafisah Naila/publika

PUBLIKANEWS, Depok – Dalam kegiatan Konferensi Literasi yang digelar di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) pada Selasa, 4 November 2025, dua pembicara yaitu Calista Evanglis dan Anggun Yudia Lestari, memaparkan kondisi literasi membaca di kalangan mahasiswa yang dinilai masih rendah. Keduanya juga menanggapi efektivitas program pemerintah Duta Baca Indonesia dalam meningkatkan minat baca di kalangan muda.

Dalam paparannya, Calista dan Anggun menyoroti bahwa rendahnya minat baca mahasiswa menjadi tantangan besar di dunia pendidikan tinggi. Hasil penelitian di sejumlah perguruan tinggi menunjukkan bahwa kebiasaan membaca mahasiswa terus menurun, terutama di era digital yang membuat mereka lebih terbiasa dengan bacaan singkat.

Berdasarkan penelitian menurut dua pembicara  di beberapa perguruan tinggi, termasuk PTS di Yogyakarta, rata-rata kemampuan membaca mahasiswa hanya mencapai 71,29%, dengan sebagian besar membaca kurang dari satu jam per hari. Di Universitas Bengkulu, aktivitas literasi membaca tergolong tinggi, namun di Universitas Negeri Yogyakarta, hanya sekitar 36% mahasiswa membaca 10–15 menit per hari, dan 4,7% yang membaca lebih dari 30 menit. Sementara di Universitas Muslim Indonesia, hanya sebagian kecil mahasiswa yang memiliki minat baca tinggi. Data ini menunjukkan bahwa minat baca mahasiswa secara umum masih rendah di berbagai kampus di Indonesia.

Calista dan Anggun mengungkapkan beberapa faktor penyebab rendahnya literasi di indonesia, antara lain mahasiswa hanya membaca saat ada tugas, gangguan dari teknologi digital, lingkungan dan fasilitas membaca yang kurang mendukung, pengaruh sosial yang tidak menumbuhkan kebiasaan membaca, serta harga buku yang tergolong mahal.

Kondisi ini berdampak pada kemampuan akademik mahasiswa. Banyak yang kesulitan memahami materi kuliah karena jarang membaca referensi tambahan. Bahkan kemampuan menulis ilmiah juga menurun karena kebiasaan menyalin tanpa memahami isi bacaan.

Pemerintah telah meluncurkan beberapa program seperti Gerakan Indonesia Membaca (GIM) dan Ayo Literasi, namun keduanya dinilai belum maksimal karena tidak dijalankan secara berkelanjutan. Anggun mencontohkan sebuah sekolah di Pasar Minggu yang berhasil meningkatkan minat baca melalui gerakan membaca harian.

“Program literasi seharusnya dilakukan terus-menerus, bukan hanya satu atau dua kali dalam setahun ataupun perbulan,” ujar Anggun.

Program Duta Baca Indonesia juga dianggap langkah positif. Tokoh publik seperti Najwa Shihab, Taufik Hidayat, dan Rifqi Fadilah Noyan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk membaca. Dalam sesi tanya jawab, salah satu wartawan, Faizah, menanyakan efektivitas program tersebut.

“Program pemerintah Duta Baca itu efektif enggak sih? Apa dampaknya buat mahasiswa?” tanyanya.

Menjawab hal itu, Calista menyebut program Duta Baca cukup efektif dalam membuka wawasan masyarakat dan mengedukasi pentingnya membaca. “Namun efektivitasnya tetap bergantung pada cara pandang masyarakat terhadap kegiatan tersebut,” jelasnya.

Selain membahas literasi, diskusi juga menyinggung isu sensor buku. Salah satu wartawan, Haikal, berpendapat bahwa sensor perlu dilakukan secara bijak.

“Sensor penting supaya isi buku tidak menimbulkan keresahan, tapi buku provokatif juga dibutuhkan agar mahasiswa bisa berpikir kritis. Jadi harus seimbang,” ujarnya.

Namun Anggun menegaskan bahwa sensor sebaiknya dilakukan secara halus melalui makna tersirat, bukan penghapusan total. Di sisi lain, kemampuan pembaca juga harus ditingkatkan agar mampu memahami isi bacaan dengan benar.

Sebagai penutup, Calista dan Anggun menegaskan bahwa rendahnya minat baca bukan hanya masalah individu, tetapi masalah sistemik yang melibatkan pemerintah, kampus, dan masyarakat. Pemerintah perlu memperkuat program literasi yang berkelanjutan, kampus menumbuhkan budaya baca melalui klub literasi, dan mahasiswa harus menyadari bahwa membaca bukan sekadar tugas akademik, melainkan kebutuhan untuk mengembangkan diri.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pentingnya Literasi di Kalangan Mahasiswa

Depok, 4 November 202 5 - konferensi pers yang dipaparkan oleh pemateri yaitu Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis dengan tema Literasi...