Dalam paparannya, Calista dan Anggun menyoroti bahwa rendahnya
minat baca mahasiswa menjadi tantangan besar di dunia pendidikan tinggi. Hasil
penelitian di sejumlah perguruan tinggi menunjukkan bahwa kebiasaan membaca
mahasiswa terus menurun, terutama di era digital yang membuat mereka lebih
terbiasa dengan bacaan singkat.
Berdasarkan penelitian menurut dua pembicara di beberapa perguruan tinggi, termasuk PTS di
Yogyakarta, rata-rata kemampuan membaca mahasiswa hanya mencapai 71,29%, dengan
sebagian besar membaca kurang dari satu jam per hari. Di Universitas Bengkulu,
aktivitas literasi membaca tergolong tinggi, namun di Universitas Negeri
Yogyakarta, hanya sekitar 36% mahasiswa membaca 10–15 menit per hari, dan 4,7%
yang membaca lebih dari 30 menit. Sementara di Universitas Muslim Indonesia,
hanya sebagian kecil mahasiswa yang memiliki minat baca tinggi. Data ini
menunjukkan bahwa minat baca mahasiswa secara umum masih rendah di berbagai
kampus di Indonesia.
Calista dan Anggun mengungkapkan beberapa faktor penyebab
rendahnya literasi di indonesia, antara lain mahasiswa hanya membaca saat ada
tugas, gangguan dari teknologi digital, lingkungan dan fasilitas membaca yang
kurang mendukung, pengaruh sosial yang tidak menumbuhkan kebiasaan membaca,
serta harga buku yang tergolong mahal.
Kondisi ini berdampak pada kemampuan akademik mahasiswa.
Banyak yang kesulitan memahami materi kuliah karena jarang membaca referensi
tambahan. Bahkan kemampuan menulis ilmiah juga menurun karena kebiasaan
menyalin tanpa memahami isi bacaan.
Pemerintah telah meluncurkan beberapa program seperti Gerakan
Indonesia Membaca (GIM) dan Ayo Literasi, namun keduanya dinilai belum maksimal
karena tidak dijalankan secara berkelanjutan. Anggun mencontohkan sebuah
sekolah di Pasar Minggu yang berhasil meningkatkan minat baca melalui gerakan
membaca harian.
“Program literasi seharusnya dilakukan terus-menerus, bukan
hanya satu atau dua kali dalam setahun ataupun perbulan,” ujar Anggun.
Program Duta Baca Indonesia juga dianggap langkah positif.
Tokoh publik seperti Najwa Shihab, Taufik Hidayat, dan Rifqi Fadilah Noyan
menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk membaca. Dalam sesi tanya jawab, salah
satu wartawan, Faizah, menanyakan efektivitas program tersebut.
“Program pemerintah Duta Baca itu efektif enggak sih? Apa
dampaknya buat mahasiswa?” tanyanya.
Menjawab hal itu, Calista menyebut program Duta Baca cukup
efektif dalam membuka wawasan masyarakat dan mengedukasi pentingnya membaca.
“Namun efektivitasnya tetap bergantung pada cara pandang masyarakat terhadap
kegiatan tersebut,” jelasnya.
Selain membahas literasi, diskusi juga menyinggung isu
sensor buku. Salah satu wartawan, Haikal, berpendapat bahwa sensor perlu
dilakukan secara bijak.
“Sensor penting supaya isi buku tidak menimbulkan keresahan,
tapi buku provokatif juga dibutuhkan agar mahasiswa bisa berpikir kritis. Jadi
harus seimbang,” ujarnya.
Namun Anggun menegaskan bahwa sensor sebaiknya dilakukan
secara halus melalui makna tersirat, bukan penghapusan total. Di sisi lain,
kemampuan pembaca juga harus ditingkatkan agar mampu memahami isi bacaan dengan
benar.
Sebagai penutup, Calista dan Anggun menegaskan bahwa rendahnya
minat baca bukan hanya masalah individu, tetapi masalah sistemik yang
melibatkan pemerintah, kampus, dan masyarakat. Pemerintah perlu memperkuat
program literasi yang berkelanjutan, kampus menumbuhkan budaya baca melalui
klub literasi, dan mahasiswa harus menyadari bahwa membaca bukan sekadar tugas
akademik, melainkan kebutuhan untuk mengembangkan diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar