![]() |
| Sumber : Dokumen Pribadi |
Calista Evanglis dan Anggun Yudia Lestari menjadi pembicara pada konferensi pers dengan tema “Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa”. Tema ini menekankan isu rendahnya minat literasi mahasiswa yang berperan sebagai penerus bangsa.
Konferensi ini dilaksanakan pada Selasa, 4 November 2025 di ruang 313 Gedung Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta. Anggun Yudia membuka konferensi pers dengan mengutip perkataan Soekarno dan Hatta yang menyatakan bahwa membangun bangsa dimulai dengan membaca.
Literasi adalah kemampuan membaca, menulis, dan memahami informasi dalam kehidupan sehari-hari. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) juga memberikan definisi literasi sebagai cara memahami, berkomunikasi, dan menganalisis suatu hal. Berdasarkan artikel Universitas Islam Negeri Madura, literasi berasal dari bahasa latin literatus yang artinya orang yang belajar. Literasi terbagi menjadi beberapa macam, antara lain literasi membaca, literasi menulis, literasi numeris, dan literasi sains.
Calista
dan Anggun menampilkan grafik melek huruf pemuda Indonesia pada tahun 2024 berada
di angka 99,79%. Namun, hal ini bukan berarti minat literasi di Indonesia dapat
dianggap baik. Untuk itu, dilakukan studi
kasus di beberapa perguruan tinggi di Indonesia.
Studi
kasus pertama dilakukan di tujuh perguruan tinggi swasta di Jogja. Hasilnya
menunjukkan 71,29% skor terendah dari 12,00 dan skor tertinggi di angka 100%.
Di Universitas Bengkulu, indeks aktivitas literasi mahasiswanya menunjukkan kategori
sangat tinggi dalam semua aspek.
Universitas
Negeri Yogyakarta menghasilkan indeks rendah dengan angka 36,5% membaca sekitar
10-15 menit, 34,1% membaca sekitar 5-10 menit, 15,3% membaca sekitar 15-30
menit, dan hanya 4,7% yang membaca lebih dari 30 menit. Rentang waktu membaca di bawah 60 menit masih dianggap rendah.
Beberapa
faktor rendahnya minat literasi mahasiswa adalah membaca jika hanya ada tugas,
teknologi digital yang memiliki banyak distraksi, pengaruh bacaan singkat, lingkungan
dan suasana, tingginya harga buku, fasilitas yang mendukung, dan sosial budaya.
Kasus
umum yang terjadi akibat rendahnya minat literasi mahasiswa antara lain mahasiswa
kesulitan memahami materi, keterampilan menulis ilmiah yang lemah, hingga
bergantung pada media sosial dan sering terkecoh dengan berita palsu.
Calista
dan Anggun memberikan solusi untuk mengatasi rendahnya minat literasi yaitu
dengan mengembangkan forum diskusi dan klub buku bagi lingkup mahasiswa.
Pemerintah juga diharapkan terus mengembangkan program Gerakan Indonesia
Membaca (GIM) dan Gerakan Nasional Literasi Digital sebagai wadah berkembangnya
literasi di Indonesia.
Penyampaian
materi ini mendapatkan berbagai pertanyaan dari penonton. Salah satu pertanyaan
membahas keefektifan duta baca yang ada di tiap kota. Menurut Anggun, duta baca
sudah mulai terasa dampak positifnya melalui sharing singkat di media
sosial yang mampu memengaruhi masyarakat untuk ikut membaca.
“Sebenernya
efektif, tapi kalo nggak ada kesadarannya percuma, keduanya harus seimbang,”
tambah Calista.
Literasi
tidak hanya dilakukan untuk memenuhi tugas kuliah, tetapi juga untuk wadah
berkreasi dan berpikir kritis. Dengan berbagai tantangan yang ada, mahasiswa, pihak
kampus, dan pemerintah harus bekerja sama dalam meningkatkan minat literasi mahasiswa
di Indonesia.
Konferensi
ini ditutup dengan kalimat mutiara yang berbunyi “Book don’t change, paragraphs
do, sometimes even sentences” sebagai pengingat bahwa kata-kata dapat mengubah
dunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar