Bulukumba, Sulawesi Selatan - Masuk ke kawasan Tana Toa, suasana langsung berbeda. Lampu jalan jarang ada, suara motor hampir tak terdengar, dan udara terasa lebih berat oleh aroma daun dan tanah basah. Di sinilah Suku Kajang Ammatoa tinggal komunitas adat yang memilih hidup sederhana dan menempatkan alam di atas gaya hidup modern.
Orang-orang di Kajang punya prinsip yang jelas ‘Kamase-masea’. Yaitu sederhana hidup apa adanya, dan jangan berlebihan. Di daerah inti adat ini tidak akan menemukan kabel listrik melintang atau deretan motor. Warga lebih memilih cara tradisional seperti menanam, menenun, memasak pakai tungku, dan menyelesaikan urusan dengan lewat musyawarah.
Ciri yang paling mencolok adalah pakaian hitam yang seragam. Bukan karena duka, tetapi itu lambang kesetaraan. Di mata mereka, warna itu menyamakan posisi semua orang dan tidak ada pembedaan kasta atau status. Bahkan pemimpin adat mereka, yang disebut Ammatoa, berpakaian sama dan duduk sejajar ketika mengambil keputusan bersama warga.
Peran Ammatoa tak sekadar simbolis. Ia adalah penengah, penjaga aturan adat (Pasang ri Kajang), dan pengambil keputusan soal pemanfaatan alam.
Hutan di sekitar desa diperlakukan bak kawasan suci ada bagian yang dilarang disentuh sama sekali, ada yang boleh dimanfaatkan secara terbatas, dan ada area untuk kepentingan umum. Aturan ini bukan sekadar formalitas mereka percaya merusak hutan berarti merusak hidup sendiri.
Dari desa ini kita belajar karena di zaman ketika segala sesuatu serba cepat informasi, fasilitas, gaya hidup komunitas ini mengingatkan kita tentang pentingnya menahan diri, menghormati alam, dan menjaga tradisi. Mungkin bagi sebagian orang hidup seperti mereka terasa kuno. Namun dari sudut lain, itu adalah bentuk kebijaksanaan dengan memilih kelestarian demi hari-hari yang lebih tenang dan bermakna.
Sumber: Indonesia Kaya - https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/mempelajari-keramahan-dan-kearifan-lokal-suku-kajang-ammatoa-bulukumba/?utm_source=chatgpt.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar