Depok, Selasa 4 November 2025 - Literasi merupakan kemampuan dan keterampilan seseorang dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan mengolah informasi, juga memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu anggota komunitas yang bernama Anggun mengungkapkan bahwa “Jauh sebelum proklamasi diterbitkan Sukarno dan Mohammad Hatta menyatakan bahwa untuk memulai bangsa yang lebih baik harus membaca, namun nyatanya Indonesia merupakan negara dengan tingkat membacanya yang terendah di ASEAN. Tentu ini menjadi persoalan yang serius dan tantangan bagi pemerintah dalam mengatasi masalah literasi di Indonesia.
Di era digital seperti ini, literasi menjadi suatu hal yang penting bagi mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa. Dengan literasi mahasiswa dapat mengerti apa yang dimaksud oleh suatu bacaan, bahkan mengetahui makna tersirat dari bacaan tersebut.
Menurut komunitas tersebut dalam sebuah konferensi pers, tingkat kemampuan membaca mahasiswa di Indonesia masih cukup beragam. Berikut data yang disampaikan
• Di 7 PTS Yogyakarta, skor rata-rata kemampuan membaca mahasiswa mencapai 71,29%, dengan skor terendah 12,00 hingga 100,00.
• Universitas Bengkulu indeks literasi dasar membaca untuk mahasiswa sangat tinggi di keseluruhan aspek.
• Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tergolong sangat rendah yaitu 36,5% mahasiswa membaca 10-15 menit, 34,1% membaca 5-10 menit perhari, 15,3% membaca 15-30 menit dan hanya 4,7% yang membaca lebih dari 30 menit sehari.
• Universitas Muslim Indonesia 56,4% memiliki minat baca dalam kategori yang cukup tinggi, 17,1% dalam kategori sangat tinggi, dan 26,5% dalam kategori sedang.
Adapun faktor penyebab rendahnya tingkat literasi di kalangan mahasiswa:
• Mahasiswa membaca hanya ada tugas, bukan atas keinginannya sendiri, “Mereka akan membaca sebuah buku atau tulisan kalau mereka itu disuruh, sedangkan kalau keinginan sendiri itu mereka membaca novel saja”, tutur Anggun dalam konferensi pers
• Teknologi digital membuat kebiasaan membaca dengan teliti menurun. Saat mahasiswa membaca buku digital, mereka rentan terganggu oleh konten-konten video atau bahkan notifikasi.
• Lingkungan, suasana, dan fasilitas yang kurang mendukung. Fasilitas dan akses terhadap buku masih cukup minim. Meskipun di Jakarta sendiri sudah ada fasilitas seperti perpustakaan gratis.
• Dukungan keluarga dan pengaruh sosial budaya. Orang yang memiliki kebiasaan membaca kerap kali disebut “kutu buku” dan kerap dianggap aneh. Menurut Anggun, pemerintah juga kurang memfasilitasi atau kurangnya perhatian terhadap buku, “Di sosial media pernah ada video di mana pada saat itu harga buku itu tiga ribu satu buku dan itu banyak orang yang rebutan, berarti di sini masalahnya buku-buku di pasaran mahal, sehingga masyarakat tidak mampu untuk membelinya” tuturnya.
Kasus umum yang terjadi mengapa Indonesia mengalami krisis literasi yaitu diantaranya :
• Kesulitan memahami materi. Mahasiswa lebih mengandalkan halaman PowerPoint dosen tanpa membaca materi tambahan di luar dari yang diberikan dosen.
• Keterampilan menulis ilmiah yang lemah. Mahasiswa sering membuat asal jadi dan mengambil sumber dari blog, media sosial dan media tanpa memperhatikan isi materi secara keseluruhan.
• Bergantung media sosial untuk informasi. Di zaman serba digital seperti saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa semua informasi sangat mudah diakses melalui internet, hal ini tentu berpengaruh bagi tingkat literasi di Indonesia.
Sebenarnya, masalah rendahnya tingkat literasi di Indonesia masih bisa diatasi dengan aksi-aksi konkret dan berdampak terhadap masyarakat, seperti :
Dalam lingkup mahasiswa dan kampus bisa membentuk forum diskusi, kelompok baca, klub buku dan sebagainya untuk mendorong literasi membaca yang tentunya difasilitasi oleh kampus. Sedangkan dari sisi pemerintah harus mendorong dan semakin mengembangkan program literasi seperti Gerakan Indonesia Membaca (GIM), Gerakan Nasional Literasi Digital, dan lainnya yang sudah berjalan.
Muhammad Bani Hasyim (Penulis)
Muhammad Ridho Zikri Al Faraby (Editor)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar