Senin, 13 Oktober 2025

SEMANGAT BELAJAR DI RUANG DARURAT

 


Cileungsi, 14 September 2025 - Panas terik matahari siang itu tak menyurutkan semangat para siswa SMKN 1 Cileungsi untuk tetap belajar. Sejak bangunan sekolah ambruk pada Rabu, 10 September lalu, halaman sekolah yang dikelilingi pepohonan rindang berubah fungsi menjadi ruang kelas dadakan.


        Dalam tenda berukuran besar itu, siswa-siswi duduk di bangku belajar seperti biasa. Mereka tetap mengenakan seragam lengkap, mendengarkan penjelasan guru di depan kelas. Meski fasilitas terbatas, proses belajar tetap berjalan. Tenda tersebut merupakan bantuan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, seperti terlihat dari tulisan "KEMENDIKBUD RISTEK" yang terpasang di bagian depan tenda.


        Fariza Mufida, siswi kelas 10, terlihat duduk bersama kelompok belajarnya di atas tikar sederhana. Sambil menulis, ia sesekali menyeka keringat di dahi. “Di tenda itu panas banget, soalnya langsung kena sinar matahari. Kalau di luar lebih adem, angin nya juga sepoi-sepoi,” ujarnya, Senin (15/9).


        Meski harus belajar tanpa fasilitas lengkap. Firza merasa justru merasa pengalaman ini memberi warna baru . “Seru aja sih, soalnya bareng temen-temen juga. Jadi rasanya beda, lebih menyenangkan,” tambahnya. Hal senada diungkapkan Dehan Bastian, siswa lain yang juga memilih belajar di luar tenda. Baginya, ruang kelas tentu jauh lebih nyaman karena dilengkapi kipas angin. Namun, di ruang terbuka menghadirkan pengalaman yang tak kalah berkesan. “Kalau di luar, suasananya lebih adem, lebih asik. Kita bisa dapet hal-hal baru juga,” kata Dehan. 


        Kadang siswa cepat merasa lelah karena panas, keringetan, mencairkan suasana (belajar) di luar, di bagi per grup,” kata Afif. Ia mengatakan,metode belajar di luar kelas untuk membantu siswa agar tidak cepat bosan dan kehilangan tenaga karena terlalu berkeringat ketika belajar di tenda darurat. 


        “Sebenarnya sebelum ada musibah (kelas ambruk) juga sering di luar, jadi ketika ada musibah seperti ini, terus kita harus di tenda, jadi dengan adaptasi siswa pindah atau pergrup di luar ya udah biasa, sudah tidak terlalu kaget.” Ungkapnya. Ia mengungkapkan, perbedaan kegiatan belajar mengajar di kelas atau di tenda darurat, salah satunya adalah lebih cepat lelah karena terlalu berkeringat, dan suara saat mengajar harus lebih keras karena situasi tenda yang tidak kedap terhadap suara. 


        Hal tersebut dilakukan karena banyak siswa-siswi yang mengeluh panas belajar dalam tenda darurat. Sebelum peristiwa kelas ambruk terjadi, murid SMKN 1 Cileungsi memang sudah terbiasa untuk belajar di luar kelas untuk mencari suasana baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pentingnya Literasi di Kalangan Mahasiswa

Depok, 4 November 202 5 - konferensi pers yang dipaparkan oleh pemateri yaitu Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis dengan tema Literasi...