Depok —
Literasi membaca di kalangan mahasiswa
menjadi fokus pembahasan dalam konferensi pers yang digelar oleh suatu komunitas
literasi dengan pembicara Calista Evanglis dan Anggun Yudia Lestari. Kedua
pembicara menyerukan peringatan terkait tantangan literasi yang mereka sebut
sebagai pondasi penting bagi kemampuan mahasiswa untuk berpikir kreatif dan aktif,
Depok (4/11/2025).
"Jauh
sebelum proklamasi, Soekarno-Hatta menyatakan untuk memulai bangsa yang baik
dimulai dari membaca, namun Indonesia memiliki tingkat baca yang rendah,"
tegas Anggun, menggarisbawahi urgensi masalah ini di tengah capaian Angka Melek
Huruf Pemuda Indonesia (usia 16-30 tahun) yang sudah sangat tinggi, mencapai
99,79% pada tahun 2023-2024 menurut data BPS.
Data
yang disajikan menunjukkan bahwa tantangan literasi membaca di kalangan
mahasiswa masih besar. Contohnya, di Universitas Negeri Yogyakarta, mayoritas
mahasiswa membaca hanya 5 hingga 15 menit per hari (total 70,6%), menunjukkan
durasi membaca yang sangat rendah. Sementara itu, faktor penyebab rendahnya
literasi diidentifikasi meliputi mahasiswa membaca hanya karena ada tugas, teknologi
digital yang menyebabkan kebiasaan membaca teliti menurun serta kurangnya
dukungan lingkungan, suasana, dan fasilitas.
Tantangan
ini diwujudkan dalam kasus umum seperti kesulitan memahami materi karena hanya
mengandalkan slide presentasi dosen, keterampilan menulis ilmiah yang lemah,
serta ketergantungan pada media sosial yang memicu penurunan minat baca pada
teks panjang dan rentan terkecoh berita hoax.
Sebagai
solusi, Calista dan Anggun menekankan peran kolaboratif antara mahasiswa dan kampus
yaitu perlunya membentuk forum diskusi, kelompok baca, atau klub buku yang
difasilitasi oleh kampus. Sementara pemerintah harus terus mendorong dan
mengembangkan program literasi yang sudah berjalan, seperti Gerakan Indonesia
Membaca (GIM) dan Gerakan Nasional Literasi Digital.
"Tantangan
dalam literasi membaca masih banyak, seperti rendahnya minat baca dan fasilitas
terbatas. Oleh karena itu, semua pihak harus lebih peka dan saling bekerja sama
untuk meningkatkan minat baca di kalangan mahasiswa," tutup kedua
pembicara.
Dengan berakhirnya konferensi pers tersebut, para pembicara berharap semangat literasi dapat tumbuh kembali di kalangan mahasiswa sebagai langkah awal membangun generasi yang kritis dan kreatif. Upaya kolaboratif antara kampus, pemerintah, dan komunitas literasi diharapkan mampu menjadi fondasi kuat bagi peningkatan budaya membaca di Indonesia.
Fauzah Jamilah (Penulis)
Ihda Nur Azmi (Penulis)
Wulan Dian Sari (Editor)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar