Selasa, 04 November 2025

Pentingnya Literasi di Kalangan Mahasiswa


Depok, 4 November 2025- konferensi pers yang dipaparkan oleh pemateri yaitu Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis dengan tema Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa yang digelar di Gedung Teknik Grafika dan Penerbitan Ruang 313 Politeknik Negeri Jakarta. Konferensi pers ini membahas pentingnya literasi membaca di kalangan Mahasiswa, penyebab rendahnya minat baca mahasiswa, serta peran pemerintah dan kampus dalam meningkatkan minat literasi pada lingkungan kampus.

Dari tahun 2020 sampai 2024 terkait angka minat literasi Pemuda Indonesia. BPS menyatakan, presentase kenaikan angka minat literasi Pemuda Indonesia pada  usia 16-30 tahun itu berawal dari 99,67% di tahun 2020 dan telah mencapai 99,79% di tahun 2024. 

Kondisi literasi di kalangan Mahasiswa saat ini. Tujuh PTS di Yogyakarta Tingkat kemampuan membaca mahasiswa memiliki skor rata-rata 71,29 (skor terendah 12,00 dan skor tertinggi 100,00). Universitas Negeri Yogyakarta Sangat rendah: 36,5% mahasiswa membaca 10-15 menit per hari, 34,1% membaca 5-10 menit, 15,3% 15-30 menit, hanya 4,7% yang lebih dari 30 menit. Universitas Bengkulu Nilai indeks “Aktivitas Literasi Dasar Membaca” untuk mahasiswa dengan kategori “sangat tinggi” pada keseluruhan aspek. Universitas Muslim Indonesia 56,4% memiliki minat baca dalam kategori tinggi, 17,1% dalam kategori sangat tinggi, dan 26,5% dalam kategori sedang. Berikut ini adalah beberapa penyebab rendahnya literasi membaca di kalangan Mahasiswa menurut Anggun Yudia Lestari antara lain “kebiasaan Mahasiswa membaca hanya bila ada tugas saja bukan atas keinginan sendiri dan teknologi digital membuat kebiasaan membaca dengan teliti menurun, bisa juga dari lingkungan, suasana, dan fasilitas yang kurang mendukung serta kurangnya dukungan keluarga dan pengaruh sosial budaya” ujarnya.

Penyebab dan kasus umum rendahnya literasi menurut pemateri, rendahnya literasi membaca mahasiswa disebabkan oleh beberapa factor. Kesulitan memahami materi Mahasiswa hanya mengandalkan slide PowerPoint dosen tanpa membaca materi tambahan di luar dari yang diberikan dosen. Keterampilan menulis Ilmiah yang Lemah sering dibuat asal jadi dan mengambil sumber dari blog, media sosial dan wikipedia tanpa memperhatikan isi materi secara keseluruhan.

Solusi dari pemateri antara lain Mahasiswa dan Kampus Membentuk forum diskusi, kelompok baca, klub buku dan sebagainya untuk mendorong literasi membaca yang tentunya difasilitasi oleh kampus. Pemerintah Tetap mendorong dan semakin mengembangkan program literasi seperti Gerakan Indonesia Membaca (GIM), Gerakan Nasional Literasi Digital, dan lainnya yang sudah berjalan.

Kesimpulan nya Mahasiswa, pihak kampus, dan pemerintah perlu lebih peka dan saling bekerja sama untuk meningkatkan minat baca di kalangan mahasiswa saat ini.

Senin, 03 November 2025

Sebuah Komunitas Yang Membahas Tentang Rendahnya Minat Baca Di Kalangan Mahasiswa

 

                               Sumber: Dokumen Pribadi 

Depok, Selasa 4 November 2025 - literasi adalah kemampuan seseorang dan keterampilan membaca dan memahami makna bacaan tersebut literasi berasal dari bahasa Latin yang berarti "literatus" yang artinya adalah orang yang belajar.

Menurut sumber komunitas dalam sebuah konferensi pers ia mendapatkan sumber dari Badan Pusat Statistik (BPS):

1. 7 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Di Yogyakarta memiliki skor rata-rata 71,29% dari 12,00 skor terendah dan 100,00 skor tertinggi..

2. Lalu universitas negeri yogyakarta masih memiliki tingkat baca yang sangat rendah dengan angka 36,5% dalam waktu membaca 10-15 menit per-hari.

3. Lalu salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) Universitas Muslim Indonesia memiliki skar 56,4% dengan kategori yang tinggi dalam hal minat baca, 17,1% dalam kategori sangat tinggi. dan 26,5% dalam kategori sedang.

4. Universitas Bengkulu memiliki nilai indeks yang sangat tinggi dalam hal aktivasi literasi dasar membaca untuk mahasiswa pada keseluruhan aspek.

Komunitas tersebut juga menyatakan bahwa mahasiswa akan membaca apabila ada tugas bukan karena keinginan sendiri dan teknologi digital membuat mahasiswa membaca hanya yang singkat tetapi tidak memahami makna dari bacaan tersebut. Lalu keterampilan menulis ilmiah yang lemah serta kurang minatnya gerakan literasi membaca maka mahasiswa tersebut dinyatakan gagal.

Kasus umum yang sering terjadi dalam hal literasi membaca antara lain:

1. Kesulitan memahami materi

2. Keterampilan menulis ilmiah yang lemah

3. Bergantung pada medsos untuk informasi

Berdasarkan sumber dari kementrian komunitas digital menyatakan bahwa negara Indonesia adalah negara yang memiliki peringkat 60 dari 61 negara dalam hal minat baca.

komunitas tersebut memberikan solusi dengan membentuk forum diskusi, kelompok baca, klub buku, dan lain sebagainya, selain hal itu pemerintah juga harus tetap mendorong dan mengembangkan program yang efektif dalam hal literasi membaca.

Dalam hal ini literasi membaca merupakan pondasi penting bagi mahasiswa untuk menambah wawasan bukan hanya sekedar menyelesaikan tugas kuliah agar mahasiswa dapat berpikir kritis dan kreatif.


Menelisik Literasi Membaca Mahasiswa


4 November 2025 - Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis sebagai narasumber dalam konferensi pers.

Depok – Konferensi pers bertema Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa yang dibawakan oleh Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis digelar di Politeknik Negeri Jakarta (4/11/2025). Kegiatan ini membahas pentingnya literasi membaca, penyebab rendahnya minat baca mahasiswa, serta peran pemerintah dan kampus dalam meningkatkan budaya literasi. 

Berdasarkan data yang dipaparkan Badan Pusat Statistik (BPS), dari tahun 2020 sampai 2024 terkait angka melek huruf Pemuda Indonesia. BPS menyatakan, presentase kenaikan angka melek huruf Pemuda Indonesia pada  usia 16-30 tahun itu berawal dari 99,67% di tahun 2020 dan telah mencapai 99,79% di tahun 2024.

Sementara kondisi literasi baca di kalangan mahasiswa, hasil data dari penelitian yang diambil dari tujuh PTN di Yogyakarta, terdapat tingkat kemampuan membaca mahasiswa dengan skor rata-rata 71,29, dengan skor terendah 12,00 dan skor tertinggi 100,00. Kemudian juga dari hasil data Universitas Muslim Indonesia, terdapat 56,4% memiliki minat baca dalam kategori materi tinggi, 17,1% dalam kategori sangat tinggi, dan 26,5% dalam kategori sedang.

Faktor dari membaca adalah kebanyakan akan membaca jika hanya disuruh, sementara membaca secara teliti kebanyakan ingin membaca secara ringkasnya. Terutama karena faktor teknologi digital yang membuat kebiasaan membaca dengan teliti menjadi menurun. Penyebab lainnya juga karena lingkungan suasana fasilitas, serta pengaruh sosial dan budaya.

“Karena di dunia sekarang banyak yang membaca namun disebut dengan kutu buku dan di cap ‘aneh’, namun juga karena faktor pemerintah yang menaruh harga yang terlalu mahal, jadi bukan karena mahasiswa malas membaca, melainkan karena harganya yang terlalu mahal.” Menurut Diah

Kasus umum yang terjadi, adanya kesulitan untuk memahami materi, keterampilan menulis ilmiah yang lemah, dan bergantung medsos untuk informasi. Dengan adanya kasus tersebut, banyak mahasiswa yang pada akhirnya menggunakan situs dan jurnal yang kurang efektif daripada menggunakan jurnal dan situs yang resmi untuk membuat artikel seperti skripsi. Pada akhirnya, banyak mahasiswa yang gagal saat keberlangsungan skripsi dengan terlalu mengandalkan situs dan jurnal yang kurang efektif.

Solusinya adalah mahasiswa dan kampus bisa membuat forum diskusi dan kelompok membaca untuk mendorong literasi membaca yang tentunya diberi fasilitas. Juga dengan pemerintah yang harus tetap mendorong dan semakin mengembangkan program literasi seperti Gerakan Indonesia Membaca (GIM), Gerakan Nasional Literasi Digital, dan lain sebagainya.

Salah satu wartawan menanyakan terkait, apakah duta baca Indonesia bisa efektif untuk mendukung literasi di Indonesia. “Program Duta Baca Indonesia juga termasuk langkah yang baik. Tokoh publik seperti Najwa Shihab, Taufik Hidayat, dan Rifqi Fadilah Noyan mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk membaca. Namun, efektivitas program ini bergantung pada sejauh mana masyarakat mengenal dan mengikuti kegiatan para duta baca tersebut,” menurut Calista.

Kesimpulannya adalah literasi membaca merupakan pondasi penting bagi mahasiswa bukan hanya unutk tugas kuliah tetapi juga menjadi alat untuk dapat berpikir.

Konferensi Pers : Tantangan Kebebasan Literasi di Kalangan Mahasiswa


Konferensi pers berjudul Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa

Depok — Konferensi pers berjudul Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa digelar di Ruang 313 Gedung Jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta pada 4 November 2025. 


Terdapat dua narasumber, Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis, memaparkan penjelasan mengenai rendahnya minat baca serta salah satunya dampak penyitaan buku terhadap kebebasan literasi mahasiswa. Anggun menjelaskan bahwa mahalnya harga buku dan pengaruh media digital menjadi salah satu sebab minat baca mahasiswa menurun. Sementara itu, Calista menyoroti faktor lain seperti pembatasan buku tertentu bisa membatasi ruang berpikir kritis mahasiswa.

“Penyitaan buku yang dianggap berbahaya bisa memengaruhi kondisi literasi mahasiswa,” ujar Calista. “Padahal, buku-buku itu punya sisi positif da negatif nya. Buku bisa membantu kita berpikir kritis. Buku dianggap berbahaya mungkin karena isinya tidak sejalan dengan ideologi negara kita, atau mungkin pemerintah takut akan ada perubahan,” tambahnya.

Kasus umum yang ditemukan di kalangan mahasiswa antara lain sulit memahami materi karena hanya mengandalkan materi PowerPoint yang diberikan oleh dosen tanpa mencari referensi lain. Keterampilan menulis ilmiah juga masih lemah, banyak mahasiswa yang mengambil sumber secara asal. Selain itu, mahasiswa semester awal memiliki minat baca lebih rendah dibanding semester lain, serta cenderung bergantung pada media sosial yang berisi bacaan singkat dan rentan terhadap hoaks.

Melalui konferensi pers ini, diharapkan seluruh mahasiswa Indonesia dapat mengubah cara pandang mereka terhadap literasi. Literasi bukan sekadar kegiatan membaca, tetapi menjadi pondasi penting dalam membentuk pola pikir kritis dan meningkatkan kualitas akademik mahasiswa.

Dela Lestari (Video editor)
Febry Amellia (Penulis)


Konfrensi Pers: Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa

 

Konfrensi Pers Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa Foto: Widia Hastuti/publikanews

PUBLIKANEWS, Depok -  Grafik presentase pemuda usia 16-30 tahun yang melek huruf di Indonesia pada tahun 2024 sebanyak 99,79%. Fakta ini terungkap dalam konfrensi pers bertajuk “Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa” yang digelar di Politeknik Negeri Jakarta, Selasa (4/11).

Calista Evangelis dan Anggun Yudia lestari hadir sebagai narasumber membahas isu terkait tingkat literasi membaca dikalangan mahasiswa serta memberikan solusi terkait rendahnya minat literasi di Indonesia. 

Dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) kondisi literasi baca di kalangan mahasiswa Indoensia tidak mengalami perkembangan dari tahun 2023 – 2024. Tingkat minat baca mahasiswa pada beberapa Universitas di Indonesia tergolong rendah.  

Calista mengungkap dari hasil survei di beberapa universitas, seperti Universitas Negeri Yogyakarta ditemukan sebanyak 36,5% mahasiswa membaca selama 10-15 menit per hari, 34,1% membaca 5-10 menit, 15,3% membaca 15-30 menit, dan hanya 4,7% yang membaca lebih dari 30 menit setiap harinya. 

Narasumber juga menyoroti beberapa faktor penyebab rendahnya minat baca di Indonesia, antara lain: mahasiswa membaca hanya bila ada tugas, bukan atas keinginan sendiri; teknologi digital membuat kebiasaan membaca dengan teliti menurun; lingkungan, suasana, dan fasilitas yang kurang mendukung; dan dukungan keluarga juga pengaruh sosial budaya.

Kasus umum yang biasa terjadi di Indonesia salah satunya adalah ketergantungan media sosial sebagai sumber informasi. Fakta dilapangan mahasiswa lebih sering membaca konten singkat sehingga minat baca pada teks panjang menurun. Semakin sering pula terkecoh dengan berita hoax.

“Mahasiswa cenderung bergantung pada sumber daring yang tidak selalu kredibel, seperti blog atau media sosial. Akibatnya, kemampuan menulis ilmiah juga ikut menurun,” ujar Anggun.

Kedua narasumber memberikan solusi untuk meningkatkan minat baca di Indonesia. Seperti dalam lingkup mahasiswa dan kampus narasumber menyarankan untuk membentuk forum diskusi, kelompok baca, dan sebagainya untuk mendorong literasi membaca yang tentunya difasilitasi oleh kampus.

Sebagai penutup Calista memaparkan kutipan yang berbunyi, "Books don’t change people; paragraphs do, sometimes even sentences."

Penulis : Anisa Nur Anggraeni
Editor   : Widia Hastuti 

Konferensi Pers : Pentingnya Literasi Di Kalangan Mahasiswa

 

Depok, Selasa 4 November 2025 - Literasi merupakan kemampuan dan keterampilan seseorang dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan mengolah informasi, juga memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu anggota komunitas yang bernama Anggun mengungkapkan bahwa “Jauh sebelum proklamasi diterbitkan Sukarno dan Mohammad Hatta menyatakan bahwa untuk memulai bangsa yang lebih baik harus membaca, namun nyatanya Indonesia merupakan negara dengan tingkat membacanya yang terendah di ASEAN. Tentu ini menjadi persoalan yang serius dan tantangan bagi pemerintah dalam mengatasi masalah literasi di Indonesia.

Di era digital seperti ini, literasi menjadi suatu hal yang penting bagi mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa. Dengan literasi mahasiswa dapat mengerti apa yang dimaksud oleh suatu bacaan, bahkan mengetahui makna tersirat dari bacaan tersebut.

Menurut komunitas tersebut dalam sebuah konferensi pers, tingkat kemampuan membaca mahasiswa di Indonesia masih cukup beragam. Berikut data yang disampaikan

• Di 7 PTS Yogyakarta, skor rata-rata kemampuan membaca mahasiswa mencapai 71,29%, dengan skor terendah 12,00 hingga 100,00.

• Universitas Bengkulu indeks literasi dasar membaca untuk mahasiswa sangat tinggi di keseluruhan aspek.

• Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tergolong sangat rendah yaitu 36,5% mahasiswa membaca 10-15 menit, 34,1% membaca 5-10 menit perhari, 15,3% membaca 15-30 menit dan hanya 4,7% yang membaca lebih dari 30 menit sehari.

• Universitas Muslim Indonesia 56,4% memiliki minat baca dalam kategori yang cukup tinggi, 17,1% dalam kategori sangat tinggi, dan 26,5% dalam kategori sedang.

Adapun faktor penyebab rendahnya tingkat literasi di kalangan mahasiswa:

• Mahasiswa membaca hanya ada tugas, bukan atas keinginannya sendiri, “Mereka akan membaca sebuah buku atau tulisan kalau mereka itu disuruh, sedangkan kalau keinginan sendiri itu mereka membaca novel saja”, tutur Anggun dalam konferensi pers

• Teknologi digital membuat kebiasaan membaca dengan teliti menurun. Saat mahasiswa membaca buku digital, mereka rentan terganggu oleh konten-konten video atau bahkan notifikasi.

• Lingkungan, suasana, dan fasilitas yang kurang mendukung. Fasilitas dan akses terhadap buku masih cukup minim. Meskipun di Jakarta sendiri sudah ada fasilitas seperti perpustakaan gratis.

• Dukungan keluarga dan pengaruh sosial budaya. Orang yang memiliki kebiasaan membaca kerap kali disebut “kutu buku” dan kerap dianggap aneh. Menurut Anggun, pemerintah juga kurang memfasilitasi atau kurangnya perhatian terhadap buku, “Di sosial media pernah ada video di mana pada saat itu harga buku itu tiga ribu satu buku dan itu banyak orang yang rebutan, berarti di sini masalahnya buku-buku di pasaran mahal, sehingga masyarakat tidak mampu untuk membelinya” tuturnya.

Kasus umum yang terjadi mengapa Indonesia mengalami krisis literasi yaitu diantaranya : 

• Kesulitan memahami materi. Mahasiswa lebih mengandalkan halaman PowerPoint dosen tanpa membaca materi tambahan di luar dari yang diberikan dosen.

• Keterampilan menulis ilmiah yang lemah. Mahasiswa sering membuat asal jadi dan mengambil sumber dari blog, media sosial dan media tanpa memperhatikan isi materi secara keseluruhan.

• Bergantung media sosial untuk informasi. Di zaman serba digital seperti saat ini, tidak bisa dipungkiri bahwa semua informasi sangat mudah diakses melalui internet, hal ini tentu berpengaruh bagi tingkat literasi di Indonesia.

Sebenarnya, masalah rendahnya tingkat literasi di Indonesia masih bisa diatasi dengan aksi-aksi konkret dan berdampak terhadap masyarakat, seperti :

Dalam lingkup mahasiswa dan kampus bisa membentuk forum diskusi, kelompok baca, klub buku dan sebagainya untuk mendorong literasi membaca yang tentunya difasilitasi oleh kampus. Sedangkan dari sisi pemerintah harus mendorong dan semakin mengembangkan program literasi seperti Gerakan Indonesia Membaca (GIM), Gerakan Nasional Literasi Digital, dan lainnya yang sudah berjalan.


Muhammad Bani Hasyim (Penulis)

Muhammad Ridho Zikri Al Faraby (Editor)

Tantangan Minat Baca Mahasiswa di Era Digital: Temuan dan Solusi

 

Konferensi Pers Rendahnya Minat Baca Mahasiswa: Viara Nafisah Naila/publika

PUBLIKANEWS, Depok – Dalam kegiatan Konferensi Literasi yang digelar di Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) pada Selasa, 4 November 2025, dua pembicara yaitu Calista Evanglis dan Anggun Yudia Lestari, memaparkan kondisi literasi membaca di kalangan mahasiswa yang dinilai masih rendah. Keduanya juga menanggapi efektivitas program pemerintah Duta Baca Indonesia dalam meningkatkan minat baca di kalangan muda.

Dalam paparannya, Calista dan Anggun menyoroti bahwa rendahnya minat baca mahasiswa menjadi tantangan besar di dunia pendidikan tinggi. Hasil penelitian di sejumlah perguruan tinggi menunjukkan bahwa kebiasaan membaca mahasiswa terus menurun, terutama di era digital yang membuat mereka lebih terbiasa dengan bacaan singkat.

Berdasarkan penelitian menurut dua pembicara  di beberapa perguruan tinggi, termasuk PTS di Yogyakarta, rata-rata kemampuan membaca mahasiswa hanya mencapai 71,29%, dengan sebagian besar membaca kurang dari satu jam per hari. Di Universitas Bengkulu, aktivitas literasi membaca tergolong tinggi, namun di Universitas Negeri Yogyakarta, hanya sekitar 36% mahasiswa membaca 10–15 menit per hari, dan 4,7% yang membaca lebih dari 30 menit. Sementara di Universitas Muslim Indonesia, hanya sebagian kecil mahasiswa yang memiliki minat baca tinggi. Data ini menunjukkan bahwa minat baca mahasiswa secara umum masih rendah di berbagai kampus di Indonesia.

Calista dan Anggun mengungkapkan beberapa faktor penyebab rendahnya literasi di indonesia, antara lain mahasiswa hanya membaca saat ada tugas, gangguan dari teknologi digital, lingkungan dan fasilitas membaca yang kurang mendukung, pengaruh sosial yang tidak menumbuhkan kebiasaan membaca, serta harga buku yang tergolong mahal.

Kondisi ini berdampak pada kemampuan akademik mahasiswa. Banyak yang kesulitan memahami materi kuliah karena jarang membaca referensi tambahan. Bahkan kemampuan menulis ilmiah juga menurun karena kebiasaan menyalin tanpa memahami isi bacaan.

Pemerintah telah meluncurkan beberapa program seperti Gerakan Indonesia Membaca (GIM) dan Ayo Literasi, namun keduanya dinilai belum maksimal karena tidak dijalankan secara berkelanjutan. Anggun mencontohkan sebuah sekolah di Pasar Minggu yang berhasil meningkatkan minat baca melalui gerakan membaca harian.

“Program literasi seharusnya dilakukan terus-menerus, bukan hanya satu atau dua kali dalam setahun ataupun perbulan,” ujar Anggun.

Program Duta Baca Indonesia juga dianggap langkah positif. Tokoh publik seperti Najwa Shihab, Taufik Hidayat, dan Rifqi Fadilah Noyan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk membaca. Dalam sesi tanya jawab, salah satu wartawan, Faizah, menanyakan efektivitas program tersebut.

“Program pemerintah Duta Baca itu efektif enggak sih? Apa dampaknya buat mahasiswa?” tanyanya.

Menjawab hal itu, Calista menyebut program Duta Baca cukup efektif dalam membuka wawasan masyarakat dan mengedukasi pentingnya membaca. “Namun efektivitasnya tetap bergantung pada cara pandang masyarakat terhadap kegiatan tersebut,” jelasnya.

Selain membahas literasi, diskusi juga menyinggung isu sensor buku. Salah satu wartawan, Haikal, berpendapat bahwa sensor perlu dilakukan secara bijak.

“Sensor penting supaya isi buku tidak menimbulkan keresahan, tapi buku provokatif juga dibutuhkan agar mahasiswa bisa berpikir kritis. Jadi harus seimbang,” ujarnya.

Namun Anggun menegaskan bahwa sensor sebaiknya dilakukan secara halus melalui makna tersirat, bukan penghapusan total. Di sisi lain, kemampuan pembaca juga harus ditingkatkan agar mampu memahami isi bacaan dengan benar.

Sebagai penutup, Calista dan Anggun menegaskan bahwa rendahnya minat baca bukan hanya masalah individu, tetapi masalah sistemik yang melibatkan pemerintah, kampus, dan masyarakat. Pemerintah perlu memperkuat program literasi yang berkelanjutan, kampus menumbuhkan budaya baca melalui klub literasi, dan mahasiswa harus menyadari bahwa membaca bukan sekadar tugas akademik, melainkan kebutuhan untuk mengembangkan diri.

 


Rendahnya Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa, Harga Buku Menjadi Salah Satu Faktor Penyebab

Sumber : Dokumen Pribadi 

Depok 4 November 2025 – Konferensi Pers bertajuk “ Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa” membahas mengenai minat baca di kalangan mahasiswa Indonesia yang dinilai masih rendah. Ungkap harga buku menjadi salah satu faktornya.

Dalam pemaparannya Calista Evangelis dan Anggun Yudia Lestari menjelaskan mengenai literasi dan bagaimana literasi di kalangan mahasiswa. Menurut data yang disampaikan, tingkat kemampuan membaca di tujuh perguruan tinggi swasta di Yogyakarta memiliki skor rata-rata 71,29 dengan skor tertinggi berada di angka 100 dan terendah di angka 12. Di Universitas Negeri Yogyakarta 36,5 persen mahasiswa membaca kurang dari lima menit perhari, 34,1 persen membaca selama 5-10 menit, dan hanya 4,7 persen yang membaca lebih dari satu jam setiap harinya.

Faktor penyebab yang disampaikan termasuk harga buku yang tinggi di pasaran. Mahalnya harga buku membuat sebagian mahasiswa kesulitan dalam membeli buku. Mahasiswa hanya bisa mengandalkan materi yang diberikan dosen. Selain itu dukungan keluarga dan pengaruh sosial budaya juga menjadi peran dalam membentuk kebiasaan membaca. Menurut pembicara, rendahnya literasi akan berdampak kepada mahasiswa dalam memahami materi kuliah dan menulis karya ilmiah. Tidak jarang juga ada mahasiswa yang mudah terpengaruh dan percaya pada berita hoax karena minim literasi dalam memahami isi berita.

Anggun dan Calista juga menyampaikan solusi berupa saran terhadap pihak kampus dan pemerintah yang memperkuat gerakan literasi dan program lainnya yang akan mengembangkan minat baca. Anggun dan Calista juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pihak media. “Pemerintah harus terus mengulang program literasi agar masyarakat terbiasa membaca,” ujar Anggun dalam konferensi pers.

Calista juga menegaskan bahwa literasi adalah pondasi penting dalam dunia akademik, karena dengan membaca akan meningkatkan kemapuan berfikir, memahami, serta menulis dalam dunia akademik.

Aulia Nugraheni Putri (Penulis)
Avyssa Athifa Firyal (Editor Vidio)


Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa : Pemerintah Punya Pengaruh

 

Dokumen asli dari Reyna 

Depok, 04 November 2025 - Indonesia memiliki tingkat membaca paling rendah di ASEAN. Menurut pembicara Calista Evanglis dan Anggun Yudia Lestari dalam konferensi pers. Tepat pada Selasa, 04 November 2025. 

Di mata kuliah penulisan berita, kelas PB 1A mengadakan konferensi pers dengan pembicara Calista Evanglis dan Anggun Yudia Lestari.  Konferensi pers tersebut membahas “Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa”. 

Literasi menurut UNESCO adalah kemampuan memahami buku. Hal ini sangat penting dikalangan mahasiswa karena literasi dapat membantu mengetahui makna tersirat dari buku yang dibaca. Bapak Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta menyampaikan, untuk memulai bangsa yang lebih baik harus dimulai dengan membaca. 

Sayangnya, tingkat membaca mahasiswa masih tergolong rendah. Terdapat beberapa faktor literasi membaca mahasiswa masih rendah. Yaitu mahasiswa hanya membaca bila ada tugas, bukan dari keinginannya sendiri. Teknologi digital juga membuat ketelitian dalam membaca menurun. Pemerintah juga punya peran penting dalam meningkatkan literasi mahasiswa. Jika fasilitas dan budaya tidak mendukung, akan mempersulit mahasiswa untuk meningkatkan literasi.

Pemerintah juga punya kendali atas penyitaan buku yang dianggap berbahaya. Namun, penyitaan ini masih menjadi tanda tanya bagi sebagian masyarakat. Apakah pemerintah takut jika mahasiswa semakin pintar, atau justru untuk melindungi mahasiswa dari pola pikir yang berbahaya. Karena membaca buku tidak hanya membantu memahami buku, tetapi dapat mengubah pola pikir pembacanya. 

“Buku itu bisa dianggap berbahaya karena bisa saja tidak cocok dengan ideologi bangsa indonesia. Sisi negatifnya, karena mahasiswa di sekitar kita ingin berpikir kritis, bisa dibilang pemerintah ini takut akan perubahan,” ujar pembicara Calista Evanglis. 

Literasi membaca ini menjadi pondasi penting. Tidak hanya untuk mahasiswa, namun berpikir kreatif. Sehingga mahasiswa, kampus dan pemerintah dapat bekerja sama untuk meningkatkan literasi. 

Penulis    : Amirah Islam
Editor      : Reyna Herdiyanti

Membangun Budaya Literasi di Kalangan Mahasiswa

Sumber : Dokumen Pribadi

Calista Evanglis dan Anggun Yudia Lestari menjadi pembicara pada konferensi pers dengan tema “Literasi Membaca di Kalangan Mahasiswa”. Tema ini menekankan isu rendahnya minat literasi mahasiswa yang berperan sebagai penerus bangsa.

Konferensi ini dilaksanakan pada Selasa, 4 November 2025 di ruang 313 Gedung Teknik Grafika dan Penerbitan, Politeknik Negeri Jakarta. Anggun Yudia membuka konferensi pers dengan mengutip perkataan Soekarno dan Hatta yang menyatakan bahwa membangun bangsa dimulai dengan membaca.

Literasi adalah kemampuan membaca, menulis, dan memahami informasi dalam kehidupan sehari-hari. United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) juga memberikan definisi literasi sebagai cara memahami, berkomunikasi, dan menganalisis suatu hal. Berdasarkan artikel Universitas Islam Negeri Madura, literasi berasal dari bahasa latin literatus yang artinya orang yang belajar. Literasi terbagi menjadi beberapa macam, antara lain literasi membaca, literasi menulis, literasi numeris, dan literasi sains.

Calista dan Anggun menampilkan grafik melek huruf pemuda Indonesia pada tahun 2024 berada di angka 99,79%. Namun, hal ini bukan berarti minat literasi di Indonesia dapat dianggap baik. Untuk  itu, dilakukan studi kasus di beberapa perguruan tinggi di Indonesia.

Studi kasus pertama dilakukan di tujuh perguruan tinggi swasta di Jogja. Hasilnya menunjukkan 71,29% skor terendah dari 12,00 dan skor tertinggi di angka 100%. Di Universitas Bengkulu, indeks aktivitas literasi mahasiswanya menunjukkan kategori sangat tinggi dalam semua aspek.

Universitas Negeri Yogyakarta menghasilkan indeks rendah dengan angka 36,5% membaca sekitar 10-15 menit, 34,1% membaca sekitar 5-10 menit, 15,3% membaca sekitar 15-30 menit, dan hanya 4,7% yang membaca lebih dari 30 menit. Rentang waktu membaca di bawah 60 menit masih dianggap rendah.

Beberapa faktor rendahnya minat literasi mahasiswa adalah membaca jika hanya ada tugas, teknologi digital yang memiliki banyak distraksi, pengaruh bacaan singkat, lingkungan dan suasana, tingginya harga buku, fasilitas yang mendukung, dan sosial budaya.

Kasus umum yang terjadi akibat rendahnya minat literasi mahasiswa antara lain mahasiswa kesulitan memahami materi, keterampilan menulis ilmiah yang lemah, hingga bergantung pada media sosial dan sering terkecoh dengan berita palsu.

Calista dan Anggun memberikan solusi untuk mengatasi rendahnya minat literasi yaitu dengan mengembangkan forum diskusi dan klub buku bagi lingkup mahasiswa. Pemerintah juga diharapkan terus mengembangkan program Gerakan Indonesia Membaca (GIM) dan Gerakan Nasional Literasi Digital sebagai wadah berkembangnya literasi di Indonesia.

Penyampaian materi ini mendapatkan berbagai pertanyaan dari penonton. Salah satu pertanyaan membahas keefektifan duta baca yang ada di tiap kota. Menurut Anggun, duta baca sudah mulai terasa dampak positifnya melalui sharing singkat di media sosial yang mampu memengaruhi masyarakat untuk ikut membaca.

“Sebenernya efektif, tapi kalo nggak ada kesadarannya percuma, keduanya harus seimbang,” tambah Calista.

Literasi tidak hanya dilakukan untuk memenuhi tugas kuliah, tetapi juga untuk wadah berkreasi dan berpikir kritis. Dengan berbagai tantangan yang ada, mahasiswa, pihak kampus, dan pemerintah harus bekerja sama dalam meningkatkan minat literasi mahasiswa di Indonesia.

Konferensi ini ditutup dengan kalimat mutiara yang berbunyi “Book don’t change, paragraphs do, sometimes even sentences” sebagai pengingat bahwa kata-kata dapat mengubah dunia.

 Penulis : Nailla Nintiya Diningrum

Editor : Navaya Anggita Aristi

Konferensi Pers: Literasi Menjadi Kunci Membangun Mahasiswa Kritis Dan Kreatif

 


foto oleh Kelompok 1


Depok Literasi membaca di kalangan mahasiswa menjadi fokus pembahasan dalam konferensi pers yang digelar oleh suatu komunitas literasi dengan pembicara Calista Evanglis dan Anggun Yudia Lestari. Kedua pembicara menyerukan peringatan terkait tantangan literasi yang mereka sebut sebagai pondasi penting bagi kemampuan mahasiswa untuk berpikir kreatif dan aktif, Depok (4/11/2025).

"Jauh sebelum proklamasi, Soekarno-Hatta menyatakan untuk memulai bangsa yang baik dimulai dari membaca, namun Indonesia memiliki tingkat baca yang rendah," tegas Anggun, menggarisbawahi urgensi masalah ini di tengah capaian Angka Melek Huruf Pemuda Indonesia (usia 16-30 tahun) yang sudah sangat tinggi, mencapai 99,79% pada tahun 2023-2024 menurut data BPS.

Data yang disajikan menunjukkan bahwa tantangan literasi membaca di kalangan mahasiswa masih besar. Contohnya, di Universitas Negeri Yogyakarta, mayoritas mahasiswa membaca hanya 5 hingga 15 menit per hari (total 70,6%), menunjukkan durasi membaca yang sangat rendah. Sementara itu, faktor penyebab rendahnya literasi diidentifikasi meliputi mahasiswa membaca hanya karena ada tugas, teknologi digital yang menyebabkan kebiasaan membaca teliti menurun serta kurangnya dukungan lingkungan, suasana, dan fasilitas.

Tantangan ini diwujudkan dalam kasus umum seperti kesulitan memahami materi karena hanya mengandalkan slide presentasi dosen, keterampilan menulis ilmiah yang lemah, serta ketergantungan pada media sosial yang memicu penurunan minat baca pada teks panjang dan rentan terkecoh berita hoax.

Sebagai solusi, Calista dan Anggun menekankan peran kolaboratif antara mahasiswa dan kampus yaitu perlunya membentuk forum diskusi, kelompok baca, atau klub buku yang difasilitasi oleh kampus. Sementara pemerintah harus terus mendorong dan mengembangkan program literasi yang sudah berjalan, seperti Gerakan Indonesia Membaca (GIM) dan Gerakan Nasional Literasi Digital.

"Tantangan dalam literasi membaca masih banyak, seperti rendahnya minat baca dan fasilitas terbatas. Oleh karena itu, semua pihak harus lebih peka dan saling bekerja sama untuk meningkatkan minat baca di kalangan mahasiswa," tutup kedua pembicara.

Dengan berakhirnya konferensi pers tersebut, para pembicara berharap semangat literasi dapat tumbuh kembali di kalangan mahasiswa sebagai langkah awal membangun generasi yang kritis dan kreatif. Upaya kolaboratif antara kampus, pemerintah, dan komunitas literasi diharapkan mampu menjadi fondasi kuat bagi peningkatan budaya membaca di Indonesia.


Fauzah Jamilah (Penulis)

Ihda Nur Azmi (Penulis)

Wulan Dian Sari (Editor)

Pentingnya Literasi di Kalangan Mahasiswa

Depok, 4 November 202 5 - konferensi pers yang dipaparkan oleh pemateri yaitu Anggun Yudia Lestari dan Calista Evanglis dengan tema Literasi...