Sebanyak 54% mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) kesulitan memahami materi kuliah. Hal ini terjadi akibat kebijakan kuliah daring seminggu sekali yang diterapkan sejak Senin (13/4/2026) dalam upaya penghematan BBM.
Kebijakan ini berawal dari konflik politik antara Amerika Serikat dan Iran. Dampaknya, Selat Hormuz yang merupakan jalur pelayaran energi global pun ditutup. Kondisi ini mengakibatkan kenaikan harga minyak dunia yang juga terjadi pada BBM di Indonesia.
Sebagai solusi awal, pemerintah menyarankan WFH satu kali dalam seminggu. Oleh karena itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menerbitkan surat edaran Nomor 2 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pola Kerja di Lingkungan Kementerian dan Penyesuaian Penyelenggaraan Kegiatan Akademik di Perguruan Tinggi.
Pemahaman Materi dan Kendala Teknis
Di era digital, pembelajaran jarak jauh seringkali menjadi pilihan. Berbagai macam platform menjadi alternatif, di antaranya penggunaan aplikasi Zoom, Google Meet, E-Learning dan lain sebagainya. Pembelajaran daring menawarkan fleksibilitas waktu dan lokasi.
Namun, penelitian dalam jurnal “Efisiensi & Efektivitas Pembelajaran Online Pada Mahasiswa (2023)” menunjukkan banyak mahasiswa menghadapi kendala dalam pembelajaran daring, terutama terkait pemahaman materi dan masalah jaringan.
PNJ sebagai kampus vokasi menerapkan 40% teori dan 60% praktik, maka pembelajaran tatap muka tetap menjadi bagian penting dalam proses belajar. Drs. Sugeng Indriyanto, dosen PNJ yang mengajar mata kuliah Desain Grafis berpendapat bahwa dalam mengajar mata kuliah berbasis teori atau yang tidak mengutamakan keterampilan masih bisa dilakukan di rumah.
“Menurut pendapat saya sih, bisa dilakukan ya (kuliah daring) untuk mata kuliah tertentu yang terkait dengan teori. Tidak mengutamakan keterampilan itu bisa dilakukan satu hari belajar di rumah. Tinggal nanti penjadwalannya diatur saja,” ucap Sugeng pada Jumat (8/5).
Namun, Dr. Ida Nurhayati, S.H., M.H. yang juga merupakan dosen Hukum Pers & Kode Etik Jurnalistik di PNJ berpendapat bahwa mengajar secara luring materinya lebih mudah disampaikan ke mahasiswa. Ia juga mengatakan, saat daring pun bisa mengalami beberapa hambatan, yaitu interaksi dan gangguan teknis lainnya seperti jaringan.
“Menurut saya, lebih sampai (materi) ke mahasiswa. Karena kalau online menghadap ke layar, yang mana kita (dosen) tidak bisa secara langsung (interaksi) ke mahasiswa. Juga kemungkinan ada gangguan-gangguan teknis yang menghambat, sehingga bisa sampai atau tidaknya itu tidak bisa terukur kalau online terus,” ucap Ida Nurhayati pada Senin (11/5).
Grafik dari pernyataan “Saya sering mengalami kendala jaringan saat kuliah online”.
Berdasarkan survei dari 98 responden, sebanyak 43% mahasiswa PNJ sering mengalami kendala jaringan. 36% tidak sering dan 21% lainnya netral. Meskipun sebanyak 53% mahasiswa PNJ lebih fleksibel mengatur waktu saat pembelajaran daring, namun pemahaman materi juga bukan hal yang bisa diabaikan.
Dosen mata kuliah Hukum Pers & Kode Etik Jurnalistik itu juga mengatakan pembelajaran daring sebaiknya tidak dirutinkan, tetapi saat kondisi tertentu saja. Oleh karena itu, ia setuju dengan kebijakan kuliah daring satu kali dalam seminggu untuk penghematan BBM dengan hari yang berbeda-beda.
Dampak terhadap Ekonomi
Kebijakan WFH satu kali dalam seminggu bertujuan untuk mengurangi biaya transportasi. Jika dilihat secara keseluruhan, kebijakan ini dapat membantu mengurangi penggunaan BBM. Mayoritas mahasiswa PNJ juga setuju jika kebijakan kuliah daring satu kali dalam seminggu membantu mengurangi pengeluaran BBM.
Grafik dari pernyataan “Kebijakan kuliah online 1x/minggu membantu saya
mengurangi pengeluaran BBM/transportasi”.
Mahasiswa yang setuju menyebut kebijakan ini membantu mengurangi biaya transportasi, namun dianggap belum menjadi solusi jangka panjang. Mahasiswa yang tidak setuju menyebut kebijakan ini kurang berdampak karena kendala internet, pemahaman materi yang menurun, serta meningkatnya penggunaan listrik. Sementara itu, mahasiswa yang netral merasa belum memiliki cukup informasi atau pengalaman untuk menilai apakah kebijakan ini benar-benar efektif.
Dampak ini juga dirasakan oleh Ida Nurhayati. Dosen PNJ tersebut berpendapat jika kuliah daring satu kali dalam seminggu membantu meski tidak signifikan. Menurutnya, BBM mungkin lebih hemat tetapi kuota juga terhambat. Bahkan, ia berpendapat bahwa adanya kebijakan ini tidak memastikan seseorang tetap berada di rumah.
“Menurut saya nggak signifikan. Karena, mungkin di institusi itu enak ya (jaringan), tapi ‘kan di tempat lain seperti mahasiswa dan dosen ‘kan pakai pulsa. Jadi, hemat di mana? Dan tidak hemat di mana? Itu yang harus dikaji. Jadi untuk yang lain (di luar BBM) tidak hematnya. Malah kadang-kadang, WFH itu dipakai untuk jalan, mereka jalan ga hemat juga. Jadi ada pengaruh tapi tidak signifikan,” ujar Ida Nurhayati.
Mahasiswa juga menilai kampus cukup siap menyesuaikan model perkuliahan akibat kebijakan hemat BBM, kendati sikapnya yang netral. Pengeluaran kuota internet dibanding BBM dinilai bervariasi sehingga hasilnya netral dan kendala jaringan saat kuliah online memang ada tetapi tidak dirasakan merata. Meski begitu, sebanyak 47% mahasiswa PNJ setuju dengan kebijakan ini, 39% memilih netral, dan 14% lainnya tidak setuju.
Sugeng Indriyanto, dosen mata kuliah Desain Grafis juga setuju dengan kebijakan ini. Menurutnya, selain penghematan BBM bagi individu, kebijakan ini mendukung efisiensi bagi kampus, seperti penghematan biaya listrik dan operasional lainnya. Namun, ia memberikan catatan bahwa kebijakan ini lebih cocok diterapkan untuk mahasiswa tingkat awal.
Begitu juga dengan Ida Nurhayati yang juga setuju dengan adanya kebijakan ini. Namun, ia menekankan pentingnya kajian mendalam atas efektivitas kebijakan tersebut agar memberikan manfaat nyata tanpa menimbulkan persoalan baru bagi mahasiswa dan dosen.
“Harus dihitung apakah sudah benar-benar ada penghematan. Jadi, kalau masih kira-kira, ya perlu dievaluasi. Karena menurut saya masih bisa disalahgunakan,” tutur Ida Nurhayati.
Jadi, kebijakan kuliah daring satu kali seminggu dipandang cukup efektif secara umum, terutama dalam konteks kebijakan hemat BBM, tetapi dampaknya tidak signifikan secara personal. Pemerintah juga perlu mengkaji lagi agar kebijakan WFH satu kali dalam seminggu tidak disalahgunakan.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar