Jumat, 29 Mei 2026

Dominasi Transaksi Digital :70% Mahasiswa PNJ Pilih Transaksi Nontunai

 

Dokumentasi Mahasiswa PNJ Menggunakan Transaksi Nontunai di Kampus 

Prakiraan Sistem Pembayaran Indonesia tahun 2025-2027 menurut Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa transaksi nontunai di Indonesia mengalami pertumbuhan. Sebanyak 10,8% transaksi digital payment mengalami peningkatan di tahun 2025. Hal ini membuktikan adanya pertumbuhan transaksi Nontunai di Indonesia. Peningkatan penggunaan transaksi nontunai tersebut juga terlihat pada mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta.

Diagram Pie Chart Jenis Transaksi

Berdasarkan hasil survei, mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta mayoritas lebih sering menggunakan metode transaksi nontunai dalam aktivitas sehari-hari. Sebanyak 70% mahasiswa memilih pembayaran nontunai, sedangkan 30% lainnya masih lebih sering menggunakan uang tunai dalam bertransaksi.

Penggunaan transaksi nontunai paling sering dilakukan mahasiswa saat berada di merchant yang menyediakan pembayaran melalui QRIS dan dompet digital. Dalam situasi seperti membeli makanan dan minuman, berbelanja di minimarket, maupun melakukan transaksi di area kampus, mahasiswa cenderung memilih metode pembayaran nontunai karena prosesnya lebih cepat dan praktis.

Diagram Pie Chart Metode Transaksi

Mayoritas mahasiswa di PNJ, sebanyak 61% lebih memilih menggunakan layanan Mobile Banking sebagai sarana utama dalam melakukan transaksi sehari-hari. Pilihan populer yang juga banyak digunakan adalah dompet digital (e-wallet) yang memiliki 37% peminat. Di sisi lain, metode konvensional seperti kartu debit/kredit serta kelompok yang masih bertahan menggunakan uang tunai hanya mencakup sebagian kecil dari mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan bank digital dan dompet elektronik kini telah menjadi bagian penting dikalangan mahasiswa, khususnya dalam melakukan berbagai aktivitas keuangan secara praktis dan cepat.

Diagram Pie Chart Pengalaman Transaksi

Faktor kepraktisan dan keamanan menjadi alasan paling mendominasi mengapa kalangan mahasiswa beralih ke metode pembayaran digital. Pengguna merasa transaksi nontunai jauh lebih efisien karena meniadakan repotnya mengurus uang kembalian. Alasan kuatnya adalah kemudahan dalam melacak dan mencatat riwayat pengeluaran secara otomatis.

Hal menunjukkan bahwa kenyamanan operasional dan efisiensi waktu tetap menjadi utama dibandingkan sekadar keuntungan finansial sesaat. Sistem transaksi digital menawarkan keuntungan besar berupa kepraktisan karena pengguna tidak perlu lagi menyimpan uang kembalian fisik, ditambah dengan keunggulan sistem yang otomatis merekam setiap pengeluaran

Diagram Pie Chart Hambatan 

Namun, penggunaan teknologi ini masih menghadapi tantangan nyata. Kendala yang paling banyak dikeluhkan di lingkungan kampus adalah tingginya ketergantungan pada kestabilan jaringan internet. Masalah ini semakin terasa karena adanya gangguan teknis pada sistem pembayaran dan masih banyak pedagang yang hanya menerima pembayaran tunai. Secara keseluruhan, meskipun penggunaan perbankan digital dan dompet elektronik sudah semakin luas di masyarakat, penerapannya dalam kehidupan sehari-hari tetap sangat bergantung pada kualitas dan kestabilan jaringan internet.

Pembayaran digital dianggap mempermudah mahasiswa karena proses transaksi dapat dilakukan lebih cepat tanpa perlu membawa uang fisik dalam jumlah banyak. Selain itu metode nontunai juga dinilai lebih aman dan efisien saat digunakan di lingkungan kampus. Namun sebagian mahasiswa masih merasa transaksi tunai lebih nyaman digunakan untuk pembayaran dalam jumlah kecil. Penggunaan uang tunai juga dianggap lebih mudah ketika berada di tempat yang belum menyediakan pembayaran digital.

Meski transaksi nontunai semakin sering digunakan  sebagian mahasiswa PNJ mengaku masih menggunakan uang tunai untuk kebutuhan tertentu. Salah satu alasannya adalah masih adanya beberapa pedagang atau tempat makan yang belum menyediakan metode pembayaran digital. Selain itu penggunaan uang tunai dinilai membantu mahasiswa mengatur pengeluaran agar tidak terlalu konsumtif saat berbelanja. Beberapa mahasiswa juga merasa lebih aman menggunakan uang tunai ketika jaringan internet sedang bermasalah atau aplikasi pembayaran mengalami gangguan. Karena itu transaksi tunai dan nontunai masih digunakan secara berdampingan dalam aktivitas sehari-hari mahasiswa.

Hasil survei Perilaku Mahasiswa PNJ dalam Pemilihan Metode Transaksi Tunai dan Non Tunai menunjukkan bahwa mayoritas pengisi survei mementingkan kemudahan dan keamanan dalam bertransaksi.  Sebanyak 61 dari 105 Mahasiswa (58,1%) pengisi memilih sangat setuju akan kemudahan dan keamanan saat bertransaksi. Kemudahan dalam bertransaksi itu menunjukkan seberapa cepat, praktis dan mudah pada sebuah sistem atau layanan yang memiliki pengaruh dalam pembayaran dan pembelian tanpa membuang banyak waktu dan tenaga. Selain itu, keamanan bertransaksi ini mencakup perlindungan data pelanggan, pencegahan penipuan serta kelancaran saat proses transaksi sedang berlangsung. Angka ini menunjukkan dominasi yang signifikan jika dibandingkan dengan tingkat kepentingan di bawahnya.

Berdasarkan hasil survey, tercatat sebanyak 88% mahasiswa PNJ mengaku sering mengalami masalah dalam mengakses dompet digital mereka di lingkungan kampus. Masalah koneksi internet ini, menjadi hambatan mereka dalam melakukan transaksi di lingkungan kampus. Keterbatasan akses Wi-Fi di titik-titik strategis menambah panjang daftar kendala, yang tak jarang berujung kegagalan transaksi saat di depan meja kasir.

Tak hanya hambatan dalam menggunakan nontunai, 50% mahasiswa PNJ merasa kesulitan dalam menerima uang kembalian saat menggunakan transaksi tunai. Jika sulit dalam akses internet, opsi yang biasa ditawarkan penjual adalah penggunaan uang tunai. Namun, jika uang kembalian menjadi hambatan, hal tersebut dapat mengganggu transaksi jual beli di area kampus.

Tantangan ini menciptakan dilemma baru bagi mahasiswa, terutama saat diperhadapkan dengan daya tarik promo digital. Mahasiswa PNJ merasa, pengaruh promo/diskon menjadi alasan utama mereka dalam menggunakan transaksi nontunai. Sistem pembayaran nontunai sering menawarkan berbagai potongan harga dan cashback yang sangat menggiurkan bagi mahasiswa. Namun, gangguan sinyal tersebut dapat mengurangi kesempatan dalam menggunakan promo yang dapat hilang jika terjadi gagal bayar.

Meskipun saat ini sinyal internet dan kembalian tunai menjadi masalah dalam aktivitas bertransaksi di kampus, penggunaan transaksi digital nontunai di kalangan mahasiswa dapat terus mengalami peningkatan kedepannya. Berdasarkan hasil survey yang dikumpulkan banyak mahasiswa PNJ yang setuju, kebanyakan dari mereka merasa menyimpan uang dalam bentuk nontunai dapat membantu dan memudahkan transaksi sehari-hari.

Bagi mereka, menyimpan uang dalam bentuk nontunai bukan hanya sekadar tren, hal tersebut memudahkan mereka dalam bertransaksi. Munculnya inovasi QRIS menjadi penyelamat ditengah gaya hidup mahasiswa yang serba cepat. Dengan lingkungan kampus yang perlahan mulai beradaptasi menyediakan fasilitas pendukung digital, penggunaan uang nontunai bukan lagi menjadi pilihan, melainkan andalan utama dalam memenuhi kebutuhan harian mahasiswa di era perkembangan teknologi saat ini.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sadar Lebih Boros, Mahasiswa PNJ Tetap Pilih Kantin

  Sadar Lebih Boros, Mahasiswa PNJ Tetap Pilih Kantin Gambar 1 : Suasana kantin teknik (kantek), Politeknik Negeri Jakarta Survei terhadap 1...