Prakiraan Sistem
Pembayaran Indonesia tahun 2025-2027 menurut Bank Indonesia (BI) menyatakan
bahwa transaksi nontunai di Indonesia mengalami pertumbuhan. Sebanyak 10,8%
transaksi digital payment mengalami peningkatan di tahun 2025. Hal ini
membuktikan adanya pertumbuhan transaksi Nontunai di Indonesia. Peningkatan
penggunaan transaksi nontunai tersebut juga terlihat pada mahasiswa Politeknik
Negeri Jakarta.
| Diagram Pie Chart Jenis Transaksi |
Berdasarkan hasil
survei, mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta mayoritas lebih sering menggunakan
metode transaksi nontunai dalam aktivitas sehari-hari. Sebanyak 70% mahasiswa
memilih pembayaran nontunai, sedangkan 30% lainnya masih lebih sering
menggunakan uang tunai dalam bertransaksi.
Penggunaan transaksi nontunai
paling sering dilakukan mahasiswa saat berada di merchant yang menyediakan
pembayaran melalui QRIS dan dompet digital. Dalam situasi seperti membeli
makanan dan minuman, berbelanja di minimarket, maupun melakukan transaksi di
area kampus, mahasiswa cenderung memilih metode pembayaran nontunai karena
prosesnya lebih cepat dan praktis.
| Diagram Pie Chart Metode Transaksi |
Mayoritas mahasiswa di
PNJ, sebanyak 61% lebih memilih menggunakan layanan Mobile Banking sebagai
sarana utama dalam melakukan transaksi sehari-hari. Pilihan populer yang juga
banyak digunakan adalah dompet digital (e-wallet) yang memiliki 37% peminat. Di
sisi lain, metode konvensional seperti kartu debit/kredit serta kelompok yang
masih bertahan menggunakan uang tunai hanya mencakup sebagian kecil dari
mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan bank digital dan dompet
elektronik kini telah menjadi bagian penting dikalangan mahasiswa, khususnya
dalam melakukan berbagai aktivitas keuangan secara praktis dan cepat.
| Diagram Pie Chart Pengalaman Transaksi |
Faktor kepraktisan dan keamanan menjadi alasan paling mendominasi mengapa kalangan mahasiswa beralih ke metode pembayaran digital. Pengguna merasa transaksi nontunai jauh lebih efisien karena meniadakan repotnya mengurus uang kembalian. Alasan kuatnya adalah kemudahan dalam melacak dan mencatat riwayat pengeluaran secara otomatis.
Hal menunjukkan bahwa kenyamanan operasional dan efisiensi waktu tetap menjadi utama dibandingkan sekadar keuntungan finansial sesaat. Sistem transaksi digital menawarkan keuntungan besar berupa kepraktisan karena pengguna tidak perlu lagi menyimpan uang kembalian fisik, ditambah dengan keunggulan sistem yang otomatis merekam setiap pengeluaran
| Diagram Pie Chart Hambatan |
Namun, penggunaan
teknologi ini masih menghadapi tantangan nyata. Kendala yang paling banyak
dikeluhkan di lingkungan kampus adalah tingginya ketergantungan pada kestabilan
jaringan internet. Masalah ini semakin terasa karena adanya gangguan teknis
pada sistem pembayaran dan masih banyak pedagang yang hanya menerima pembayaran
tunai. Secara keseluruhan, meskipun penggunaan perbankan digital dan dompet
elektronik sudah semakin luas di masyarakat, penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari tetap sangat bergantung pada kualitas dan kestabilan jaringan
internet.
Pembayaran digital
dianggap mempermudah mahasiswa karena proses transaksi dapat dilakukan lebih
cepat tanpa perlu membawa uang fisik dalam jumlah banyak. Selain itu metode
nontunai juga dinilai lebih aman dan efisien saat digunakan di lingkungan
kampus. Namun sebagian mahasiswa masih merasa transaksi tunai lebih nyaman
digunakan untuk pembayaran dalam jumlah kecil. Penggunaan uang tunai juga
dianggap lebih mudah ketika berada di tempat yang belum menyediakan pembayaran
digital.
Meski transaksi
nontunai semakin sering digunakan
sebagian mahasiswa PNJ mengaku masih menggunakan uang tunai untuk
kebutuhan tertentu. Salah satu alasannya adalah masih adanya beberapa pedagang
atau tempat makan yang belum menyediakan metode pembayaran digital. Selain itu
penggunaan uang tunai dinilai membantu mahasiswa mengatur pengeluaran agar
tidak terlalu konsumtif saat berbelanja. Beberapa mahasiswa juga merasa lebih
aman menggunakan uang tunai ketika jaringan internet sedang bermasalah atau
aplikasi pembayaran mengalami gangguan. Karena itu transaksi tunai dan nontunai
masih digunakan secara berdampingan dalam aktivitas sehari-hari mahasiswa.
Hasil survei Perilaku
Mahasiswa PNJ dalam Pemilihan Metode Transaksi Tunai dan Non Tunai menunjukkan
bahwa mayoritas pengisi survei mementingkan kemudahan dan keamanan dalam
bertransaksi. Sebanyak 61 dari 105
Mahasiswa (58,1%) pengisi memilih sangat setuju akan kemudahan dan keamanan
saat bertransaksi. Kemudahan dalam bertransaksi itu menunjukkan seberapa cepat,
praktis dan mudah pada sebuah sistem atau layanan yang memiliki pengaruh dalam
pembayaran dan pembelian tanpa membuang banyak waktu dan tenaga. Selain itu, keamanan
bertransaksi ini mencakup perlindungan data pelanggan, pencegahan penipuan
serta kelancaran saat proses transaksi sedang berlangsung. Angka ini
menunjukkan dominasi yang signifikan jika dibandingkan dengan tingkat
kepentingan di bawahnya.
Berdasarkan hasil
survey, tercatat sebanyak 88% mahasiswa PNJ mengaku sering mengalami masalah
dalam mengakses dompet digital mereka di lingkungan kampus. Masalah koneksi
internet ini, menjadi hambatan mereka dalam melakukan transaksi di lingkungan
kampus. Keterbatasan akses Wi-Fi di titik-titik strategis menambah panjang
daftar kendala, yang tak jarang berujung kegagalan transaksi saat di depan meja
kasir.
Tak hanya hambatan
dalam menggunakan nontunai, 50% mahasiswa PNJ merasa kesulitan dalam menerima
uang kembalian saat menggunakan transaksi tunai. Jika sulit dalam akses
internet, opsi yang biasa ditawarkan penjual adalah penggunaan uang tunai.
Namun, jika uang kembalian menjadi hambatan, hal tersebut dapat mengganggu
transaksi jual beli di area kampus.
Tantangan ini
menciptakan dilemma baru bagi mahasiswa, terutama saat diperhadapkan dengan
daya tarik promo digital. Mahasiswa PNJ merasa, pengaruh promo/diskon menjadi
alasan utama mereka dalam menggunakan transaksi nontunai. Sistem pembayaran nontunai
sering menawarkan berbagai potongan harga dan cashback yang sangat menggiurkan
bagi mahasiswa. Namun, gangguan sinyal tersebut dapat mengurangi kesempatan
dalam menggunakan promo yang dapat hilang jika terjadi gagal bayar.
Meskipun saat ini
sinyal internet dan kembalian tunai menjadi masalah dalam aktivitas
bertransaksi di kampus, penggunaan transaksi digital nontunai di kalangan
mahasiswa dapat terus mengalami peningkatan kedepannya. Berdasarkan hasil
survey yang dikumpulkan banyak mahasiswa PNJ yang setuju, kebanyakan dari
mereka merasa menyimpan uang dalam bentuk nontunai dapat membantu dan
memudahkan transaksi sehari-hari.
Bagi mereka, menyimpan
uang dalam bentuk nontunai bukan hanya sekadar tren, hal tersebut memudahkan
mereka dalam bertransaksi. Munculnya inovasi QRIS menjadi penyelamat ditengah
gaya hidup mahasiswa yang serba cepat. Dengan lingkungan kampus yang perlahan
mulai beradaptasi menyediakan fasilitas pendukung digital, penggunaan uang nontunai
bukan lagi menjadi pilihan, melainkan andalan utama dalam memenuhi kebutuhan
harian mahasiswa di era perkembangan teknologi saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar