Minggu, 31 Mei 2026
Kuliah Daring PNJ Hemat BBM, 54 Persen Mahasiswa Kesulitan Pahami Materi
Jumat, 29 Mei 2026
Mahasiswa Keluhkan Jam Operasional Perpustakaan PNJ
![]() |
| Ruang Baca Perpustakaan Politeknik Negeri Jakarta |
DEPOK – Mahasiswa Program Studi Teknik
Grafika dan Penerbitan Angkatan 2025 menilai jam operasional Perpustakaan
Politeknik Negeri Jakarta belum memenuhi kebutuhan mereka. Dalam survei yang melibatkan
70 mahasiswa, 28 responden menyebut waktu layanan perpustakaan terlalu pendek.
Kondisi ini menjadi perhatian
karena perpustakaan berperan penting sebagai ruang belajar di kampus. Mahasiswa
tidak hanya memanfaatkan perpustakaan untuk membaca buku, tetapi juga untuk
menyelesaikan tugas, berdiskusi dan mencari tempat nyaman di sela aktivitas
perkuliahan.
Dari survei ini, sebanyak 28 responden
merasa waktu layanan masih terlalu pendek, tidak beda jauh dengan keluhan stop
kontak yang diisi oleh 23 responden. Angka ini menunjukkan bahwa waktu akses
dan fasilitas dasar masih menjadi perhatian.
Keluhan ini muncul karena tidak
semua mahasiswa memiliki waktu luang yang sama. Sebagian mahasiswa bisa
mengerjakan tugas setelah perkuliahan selesai. Ada yang harus mengikuti kelas
sampai sore, mengerjakan tugas kelompok setelah perkuliahan, dan ada pula yang
baru merasa bisa fokus ketika suasana kampus mulai lebih sepi.
“Tolong perpanjang waktu bukanya,
tidak hanya sampai sore. Kalau bisa sih 24 jam, biar bisa malam-malam nugas di
sana seperti kampus lain,” ujar salah satu responden.
Pernyataan ini menggambarkan bahwa
perpustakaan masih dianggap sebagai ruang penting. Mahasiswa tidak hanya
membutuhkan koleksi buku, tetapi juga tempat yang bisa digunakan sesuai ritme
belajar mereka. Apalagi, tidak semua mahasiswa memiliki kondisi belajar yang
sama di luar kampus.
Kebiasaan mahasiswa datang ke
perpustakaan juga menunjukkan bahwa fasilitas ini masih punya peran dalam
kegiatan akademik. Sebanyak 29 responden mengaku datang ke perpustakaan hanya
saat ada tugas mendesak. Sementara itu, 20 responden datang satu sampai dua
kali dalam seminggu, 19 responden datang tiga sampai empat kali dalam seminggu,
dan hanya 2 responden yang datang setiap hari.
Data tersebut memperlihatkan bahwa
perpustakaan belum tentu dikunjungi setiap hari. Namun, pada waktu tertentu,
terutama ketika tugas sedang menumpuk, perpustakaan menjadi tempat yang dicari.
Dalam situasi seperti ini, jam operasional menjadi penting. Jika layanan hanya
tersedia sampai sore, mahasiswa yang baru selesai kuliah bisa kehilangan
kesempatan untuk belajar di tempat yang lebih nyaman.
Keluhan ini pada akhirnya tidak
hanya berkaitan dengan waktu buka dan tutup. Tetapi juga berhubungan dengan
kebutuhan mahasiswa terhadap ruang belajar yang bisa diakses di luar jam
perkuliahan. Perpustakaan menjadi pilihan karena dianggap lebih tenang, nyaman,
dan mendukung untuk belajar dibandingkan beberapa tempat lain di kampus.
Kebutuhan tersebut semakin terlihat
dari area yang paling sering digunakan mahasiswa. Mereka tidak hanya datang
untuk membaca sendiri, tetapi juga untuk bekerja bersama teman kelompok. Karena
itu, ruang diskusi menjadi salah satu bagian penting dalam aktivitas mahasiswa
di perpustakaan.
Sebanyak 37 responden memilih ruang
diskusi sebagai area yang paling sering mereka gunakan. Jumlah itu lebih tinggi
dibandingkan ruang baca umum yang dipilih oleh 27 mahasiswa. Sementara itu,
area komputer dipilih 5 responden dan ruang fokus hanya dipilih 1 responden.
Banyaknya mahasiswa yang memilih
ruang diskusi menunjukkan bahwa perpustakaan juga digunakan untuk kerja
kelompok, menyusun bahan presentasi, mengerjakan laporan, atau menyelesaikan
tugas bersama. Aktivitas seperti ini biasanya membutuhkan waktu lebih lama
dibandingkan membaca singkat atau sekadar mencari referensi. Karena itu, jam
layanan yang terbatas bisa terasa kurang mendukung.
Namun, persoalan ruang diskusi
tidak berhenti pada jam operasional. Beberapa mahasiswa juga menyoroti prosedur
peminjaman ruangan yang dinilai masih perlu dipermudah.
Hal ini menjadi tanda bahwa
mahasiswa tidak hanya berharap perpustakaan buka lebih lama, tetapi juga lebih
mudah digunakan. Ruang diskusi yang tersedia akan terasa lebih bermanfaat jika
aksesnya sederhana. Di sisi lain, ramainya aktivitas diskusi juga
memperlihatkan perlunya ruang yang lebih memadai agar mahasiswa yang bekerja
kelompok tidak mengganggu pengunjung lain yang membutuhkan suasana tenang.
Selain ruang diskusi, fasilitas
pendukung seperti stop kontak juga menjadi perhatian. Bagi sebagian orang, stop
kontak mungkin terlihat sebagai fasilitas kecil. Namun, bagi mahasiswa yang
mengerjakan tugas dengan laptop dan gawai, fasilitas ini menjadi kebutuhan
penting. Ketika mahasiswa harus berada cukup lama di perpustakaan, keterbatasan
stop kontak bisa mengganggu proses belajar.
Kebutuhan ini sejalan dengan
aktivitas kuliah mahasiswa saat ini. Banyak tugas dikerjakan melalui perangkat
digital, mulai dari mengetik, mencari referensi, menyusun tugas, hingga
mengerjakan proyek kelompok. Karena itu, perpustakaan tidak cukup hanya
menyediakan meja, kursi, dan buku. Fasilitas pendukung seperti stop kontak,
koneksi internet, dan ruang kerja yang nyaman juga menjadi bagian penting.
Koleksi buku juga masih menjadi
catatan. Sebanyak 18 responden menyebut koleksi buku jurusan masih terbatas.
Bagi mereka, buku fisik tetap dibutuhkan meskipun bahan bacaan digital semakin
mudah ditemukan. Koleksi yang lebih lengkap dapat membantu mahasiswa mencari
rujukan yang sesuai dengan kebutuhan perkuliahan.
Berbagai keluhan tersebut
menunjukkan bahwa jam operasional perpustakaan masih menjadi perhatian penting
bagi mahasiswa PNJ. Perpustakaan sebenarnya masih dibutuhkan sebagai ruang
belajar, tempat berdiskusi, dan tempat menyelesaikan tugas. Namun, manfaat itu
belum sepenuhnya terasa jika waktu layanan belum menyesuaikan dengan aktivitas
mahasiswa yang sering berlangsung hingga sore.
Dengan jam operasional yang lebih
panjang, mahasiswa yang selesai kuliah pada sore hari tetap memiliki kesempatan
untuk belajar, berdiskusi, atau mengerjakan tugas di tempat yang nyaman.
Perpanjangan waktu layanan juga perlu didukung dengan fasilitas yang memadai,
seperti penambahan ruang diskusi yang mudah diakses dan stop kontak yang cukup
untuk menunjang kebutuhan mahasiswa. Karena itu, penyesuaian jam operasional
menjadi hal yang perlu dipertimbangkan agar Perpustakaan PNJ semakin sesuai
dengan kebutuhan belajar mahasiswa.
Dominasi Transaksi Digital :70% Mahasiswa PNJ Pilih Transaksi Nontunai
Prakiraan Sistem
Pembayaran Indonesia tahun 2025-2027 menurut Bank Indonesia (BI) menyatakan
bahwa transaksi nontunai di Indonesia mengalami pertumbuhan. Sebanyak 10,8%
transaksi digital payment mengalami peningkatan di tahun 2025. Hal ini
membuktikan adanya pertumbuhan transaksi Nontunai di Indonesia. Peningkatan
penggunaan transaksi nontunai tersebut juga terlihat pada mahasiswa Politeknik
Negeri Jakarta.
| Diagram Pie Chart Jenis Transaksi |
Berdasarkan hasil
survei, mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta mayoritas lebih sering menggunakan
metode transaksi nontunai dalam aktivitas sehari-hari. Sebanyak 70% mahasiswa
memilih pembayaran nontunai, sedangkan 30% lainnya masih lebih sering
menggunakan uang tunai dalam bertransaksi.
Penggunaan transaksi nontunai
paling sering dilakukan mahasiswa saat berada di merchant yang menyediakan
pembayaran melalui QRIS dan dompet digital. Dalam situasi seperti membeli
makanan dan minuman, berbelanja di minimarket, maupun melakukan transaksi di
area kampus, mahasiswa cenderung memilih metode pembayaran nontunai karena
prosesnya lebih cepat dan praktis.
| Diagram Pie Chart Metode Transaksi |
Mayoritas mahasiswa di
PNJ, sebanyak 61% lebih memilih menggunakan layanan Mobile Banking sebagai
sarana utama dalam melakukan transaksi sehari-hari. Pilihan populer yang juga
banyak digunakan adalah dompet digital (e-wallet) yang memiliki 37% peminat. Di
sisi lain, metode konvensional seperti kartu debit/kredit serta kelompok yang
masih bertahan menggunakan uang tunai hanya mencakup sebagian kecil dari
mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan bank digital dan dompet
elektronik kini telah menjadi bagian penting dikalangan mahasiswa, khususnya
dalam melakukan berbagai aktivitas keuangan secara praktis dan cepat.
| Diagram Pie Chart Pengalaman Transaksi |
Faktor kepraktisan dan keamanan menjadi alasan paling mendominasi mengapa kalangan mahasiswa beralih ke metode pembayaran digital. Pengguna merasa transaksi nontunai jauh lebih efisien karena meniadakan repotnya mengurus uang kembalian. Alasan kuatnya adalah kemudahan dalam melacak dan mencatat riwayat pengeluaran secara otomatis.
Hal menunjukkan bahwa kenyamanan operasional dan efisiensi waktu tetap menjadi utama dibandingkan sekadar keuntungan finansial sesaat. Sistem transaksi digital menawarkan keuntungan besar berupa kepraktisan karena pengguna tidak perlu lagi menyimpan uang kembalian fisik, ditambah dengan keunggulan sistem yang otomatis merekam setiap pengeluaran
| Diagram Pie Chart Hambatan |
Namun, penggunaan
teknologi ini masih menghadapi tantangan nyata. Kendala yang paling banyak
dikeluhkan di lingkungan kampus adalah tingginya ketergantungan pada kestabilan
jaringan internet. Masalah ini semakin terasa karena adanya gangguan teknis
pada sistem pembayaran dan masih banyak pedagang yang hanya menerima pembayaran
tunai. Secara keseluruhan, meskipun penggunaan perbankan digital dan dompet
elektronik sudah semakin luas di masyarakat, penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari tetap sangat bergantung pada kualitas dan kestabilan jaringan
internet.
Pembayaran digital
dianggap mempermudah mahasiswa karena proses transaksi dapat dilakukan lebih
cepat tanpa perlu membawa uang fisik dalam jumlah banyak. Selain itu metode
nontunai juga dinilai lebih aman dan efisien saat digunakan di lingkungan
kampus. Namun sebagian mahasiswa masih merasa transaksi tunai lebih nyaman
digunakan untuk pembayaran dalam jumlah kecil. Penggunaan uang tunai juga
dianggap lebih mudah ketika berada di tempat yang belum menyediakan pembayaran
digital.
Meski transaksi
nontunai semakin sering digunakan
sebagian mahasiswa PNJ mengaku masih menggunakan uang tunai untuk
kebutuhan tertentu. Salah satu alasannya adalah masih adanya beberapa pedagang
atau tempat makan yang belum menyediakan metode pembayaran digital. Selain itu
penggunaan uang tunai dinilai membantu mahasiswa mengatur pengeluaran agar
tidak terlalu konsumtif saat berbelanja. Beberapa mahasiswa juga merasa lebih
aman menggunakan uang tunai ketika jaringan internet sedang bermasalah atau
aplikasi pembayaran mengalami gangguan. Karena itu transaksi tunai dan nontunai
masih digunakan secara berdampingan dalam aktivitas sehari-hari mahasiswa.
Hasil survei Perilaku
Mahasiswa PNJ dalam Pemilihan Metode Transaksi Tunai dan Non Tunai menunjukkan
bahwa mayoritas pengisi survei mementingkan kemudahan dan keamanan dalam
bertransaksi. Sebanyak 61 dari 105
Mahasiswa (58,1%) pengisi memilih sangat setuju akan kemudahan dan keamanan
saat bertransaksi. Kemudahan dalam bertransaksi itu menunjukkan seberapa cepat,
praktis dan mudah pada sebuah sistem atau layanan yang memiliki pengaruh dalam
pembayaran dan pembelian tanpa membuang banyak waktu dan tenaga. Selain itu, keamanan
bertransaksi ini mencakup perlindungan data pelanggan, pencegahan penipuan
serta kelancaran saat proses transaksi sedang berlangsung. Angka ini
menunjukkan dominasi yang signifikan jika dibandingkan dengan tingkat
kepentingan di bawahnya.
Berdasarkan hasil
survey, tercatat sebanyak 88% mahasiswa PNJ mengaku sering mengalami masalah
dalam mengakses dompet digital mereka di lingkungan kampus. Masalah koneksi
internet ini, menjadi hambatan mereka dalam melakukan transaksi di lingkungan
kampus. Keterbatasan akses Wi-Fi di titik-titik strategis menambah panjang
daftar kendala, yang tak jarang berujung kegagalan transaksi saat di depan meja
kasir.
Tak hanya hambatan
dalam menggunakan nontunai, 50% mahasiswa PNJ merasa kesulitan dalam menerima
uang kembalian saat menggunakan transaksi tunai. Jika sulit dalam akses
internet, opsi yang biasa ditawarkan penjual adalah penggunaan uang tunai.
Namun, jika uang kembalian menjadi hambatan, hal tersebut dapat mengganggu
transaksi jual beli di area kampus.
Tantangan ini
menciptakan dilemma baru bagi mahasiswa, terutama saat diperhadapkan dengan
daya tarik promo digital. Mahasiswa PNJ merasa, pengaruh promo/diskon menjadi
alasan utama mereka dalam menggunakan transaksi nontunai. Sistem pembayaran nontunai
sering menawarkan berbagai potongan harga dan cashback yang sangat menggiurkan
bagi mahasiswa. Namun, gangguan sinyal tersebut dapat mengurangi kesempatan
dalam menggunakan promo yang dapat hilang jika terjadi gagal bayar.
Meskipun saat ini
sinyal internet dan kembalian tunai menjadi masalah dalam aktivitas
bertransaksi di kampus, penggunaan transaksi digital nontunai di kalangan
mahasiswa dapat terus mengalami peningkatan kedepannya. Berdasarkan hasil
survey yang dikumpulkan banyak mahasiswa PNJ yang setuju, kebanyakan dari
mereka merasa menyimpan uang dalam bentuk nontunai dapat membantu dan
memudahkan transaksi sehari-hari.
Bagi mereka, menyimpan
uang dalam bentuk nontunai bukan hanya sekadar tren, hal tersebut memudahkan
mereka dalam bertransaksi. Munculnya inovasi QRIS menjadi penyelamat ditengah
gaya hidup mahasiswa yang serba cepat. Dengan lingkungan kampus yang perlahan
mulai beradaptasi menyediakan fasilitas pendukung digital, penggunaan uang nontunai
bukan lagi menjadi pilihan, melainkan andalan utama dalam memenuhi kebutuhan
harian mahasiswa di era perkembangan teknologi saat ini.
Rabu, 27 Mei 2026
Guna Siapkan Karier, Mayoritas Mahasiswa PNJ Tetap Memilih Aktif Berorganisasi
Dokumentasi mahasiswa PNJ sedang rapat
DEPOK – Berdasarkan data kuesioner pada 30 April 2026, keterlibatan organisasi kampus masih menjadi pilihan bagi 89 dari 110 mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) dalam mempersiapkan masa depan.
Tingginya angka partisipasi di organisasi sejalan dengan data responden mengenai manfaat aktivitas tersebut untuk dunia kerja. Sebanyak 81,7% responden setuju bahwa pengalaman berorganisasi di PNJ memberikan kesiapan kerja yang lebih baik jika dibandingkan dengan sekadar belajar di dalam kelas.
Berdasarkan survei, sebanyak 71,9% mahasiswa tercatat ikut serta dalam kepengurusan maupun keanggotaan organisasi di lingkungan kampus. Angka tersebut terdiri dari 56,4% responden yang aktif sebagai anggota atau staf dan 15,5% yang bertindak sebagai pengurus inti. Sementara itu, kelompok mahasiswa tidak aktif organisasi atau "Kupu-Kupu" (Kuliah Pulang) berada di angka 28,2%.
Kesiapan Kerja Melalui Jalur Organisasi
Melalui organisasi, mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis yang jarang didapatkan langsung di dalam kelas. Mulai dari kemampuan komunikasi, kerjasama tim, kepemimpinan, penyelesaian masalah, sampai belajar beradaptasi menghadapi tekanan
“Di organisasi kita akan menghadapi berbagai tekanan yang masih sangat aman untuk mempersiapkan diri pada dunia kerja, karena nyatanya dunia kerja tidak akan sama dengan organisasi, namun di organisasi kita dilatih berbagai hal contohnya tanggung jawab,” ujar Shobiyatu Jamilah dari program studi TCG yang merupakan anggota BEM aktif PNJ saat wawancara.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Nazella dari prodi Penerbitan 2D. Menurutnya kelas dan organisasi memiliki porsinya masing-masing dalam kesiapan kerja. Namun, organisasi memiliki peran penting untuk melatih soft skill.
“Perkuliahan memberi dasar ilmu, tapi organisasi penting untuk melatih soft skill seperti kerja sama dan komunikasi serta bisa menambah relasi lebih luas yang nantinya kita perlukan di dunia kerja kedepannya.” Ungkap Nazella.
Faktanya, pernyataan tersebut sejalan dengan hasil survei. Tercatat 81.7% responden setuju bahwa pengalaman berorganisasi memberikan bekal kesiapan kerja yang jauh lebih baik daripada sekadar duduk belajar teori di kelas.
Lalu apakah kesibukan organisasi mengganggu nilai akademik? Ternyata pertanyaan ini telah dijawab dengan hasil survei, sebanyak 80% responden menolak jika kegiatan organisasi atau UKM berdampak negatif pada IPK mereka.
Sudut Pandang dan Pilihan Alternatif Mahasiswa Kupu-Kupu
Dokumentasi dari mahasiswa kupu-kupu
Bagi 79,8% mahasiswa “kupu-kupu”, mereka setuju bahwa tidak ikut organisasi, membuat mereka memiliki lebih banyak waktu untuk hal lain seperti pekerjaan, keluarga, atau hobi. Hal ini sangat dirasakan oleh Rasya dari kelas TI-4A.
Pada semester keempat pada perkuliahannya, Rasya memilih untuk fokus pada akademik dan melepas diri dari aktivitas organisasi kampus. Baginya pilihan ini memberikan ketenangan mental dan kebebasan penuh dalam mengatur waktu. Rasya tidak lagi merasa cemas atas desakan organisasi yang mengganggu produktivitas akademiknya.
Kelompok mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi, memanfaatkan waktu luang mereka untuk membentuk kompetensi kerja. Faktanya, 78,1% responden memandang kerja sampingan (part-time) jauh lebih relevan sebagai bekal kesiapan kerja dibandingkan aktivitas kampus.
Organisasi bukan satu satunya wadah pengembangan diri, terbukti sebanyak 82,5% responden menyatakan tetap mampu menyampaikan pendapat dengan jelas meskipun tidak aktif di organisasi dan 52,7% responden menilai fokus pada manajemen waktu mandiri lebih menjamin kesuksesan dibandingkan belajar manajemen waktu melalui organisasi.
Rasya juga menambahkan jika bergantung hanya pada akademik belum cukup tanpa keterlibatan organisasi, ia berargumen bahwa akademik tidak cukup karena “semua orang juga kuliah”. Dengan keterlibatan organisasi, kita dapat memberikan bukti bahwa kandidat kerja mampu bekerja secara teamwork pada CV mereka.
Evaluasi Pandangan Mahasiswa Terhadap Organisasi
Sebanyak 60% responden menyatakan tidak setuju bahwa menghabiskan waktu hingga malam hari untuk kegiatan organisasi merupakan bentuk investasi waktu yang sepadan.
Selain manajemen waktu, faktor finansial juga menjadi poin pertimbangan bagi mahasiswa. Sebanyak 54,5% responden setuju bahwa investasi finansial untuk organisasi seperti membayar iuran, biaya transportasi, dan konsumsi terhitung memberatkan jika dibandingkan dengan manfaat yang mereka peroleh.
Keterbatasan Materi Ruang Kelas dan Sisi Unik Wadah Organisasi
Kecenderungan mahasiswa untuk tetap memilih organisasi sebagai persiapan karier masa depan terlihat lebih rinci pada pertanyaan terbuka kuesioner. Ketika dihadapkan pada pertanyaan mengenai apakah bekal dari bangku perkuliahan saja sudah cukup untuk menghadapi dunia kerja atau ada hal dari organisasi yang tidak bisa digantikan, tercatat ada 73 jawaban valid dari pertanyaan terbuka. Dari jumlah tersebut, sebanyak 50 mahasiswa secara spesifik menyatakan bahwa materi di dalam kelas belum mencukupi kebutuhan lapangan kerja.
Pembelajaran ruang kelas dinilai lebih dominan dalam pemenuhan teori serta dasar ilmu pengetahuan teknis atau hard skill. Menurut pandangan 50 responden ini, terdapat aspek-aspek kompetensi kerja yang tidak didapatkan secara otomatis melalui proses perkuliahan.
Pembelajaran di ruang kelas memiliki keterbatasan. Melalui organisasi, mahasiswa mempraktikkan manajemen konflik, mengeksekusi program kerja , dan membangun jaringan sosial. Data tersebut memperlihatkan alasan responden menempatkan kegiatan organisasi ke dalam portofolio karier.
Sinergi Dua Jalur Pengembangan Diri
Data pendukung hasil olahan data kuisioner
Secara keseluruhan, data menunjukkan adanya dua jalur pengembangan diri yang saling melengkapi. Di satu sisi, kegiatan di luar kampus seperti kerja sampingan dan portofolio mandiri, makin berkembang. Namun disisi lain, organisasi kampus masih menjadi pilihan andalan mahasiswa dalam pengembangan soft skill dan membangun relasi sosial.
Kabar baiknya, perbedaan pilihan jalur ini tidak memengaruhi jaminan masa depan. Sebanyak 92.8% mahasiswa menyepakati bahwa status keaktifan berorganisasi bukan penentu utama kesuksesan berkarier. Mahasiswa organisasi maupun non-organisasi dinilai memiliki peluang sukses karier yang setara, asalkan mereka mampu memaksimalkan potensinya sendiri.
Sadar Lebih Boros, Mahasiswa PNJ Tetap Pilih Kantin
Sadar Lebih Boros, Mahasiswa PNJ Tetap Pilih Kantin Gambar 1 : Suasana kantin teknik (kantek), Politeknik Negeri Jakarta Survei terhadap 1...
-
Sumber : Instagram @zhafiraiha Bekasi - Di saat masyarakat menganggap pendidikan seksualitas adalah hal yang tabu, Zhafira justru hadir me...
-
Dokumentasi Mahasiswa PNJ Menggunakan Transaksi Nontunai di Kampus Prakiraan Sistem Pembayaran Indonesia tahun 2025-2027 me...
-
Guna Siapkan Karier, Mayoritas Mahasiswa PNJ Tetap Memilih Aktif Berorganisasi Dokumentasi mahasiswa PNJ sedang rapat DEPOK – Berdasarkan...







