Senin, 01 Juni 2026

Sadar Lebih Boros, Mahasiswa PNJ Tetap Pilih Kantin


 Sadar Lebih Boros, Mahasiswa PNJ Tetap Pilih Kantin

Gambar 1 : Suasana kantin teknik (kantek), Politeknik Negeri Jakarta

Survei terhadap 103 mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) menunjukkan bahwa 60% responden sangat setuju bahwa membeli makanan di kantin membuat pengeluaran mereka lebih besar dibanding membawa bekal. Jika digabung dengan yang menjawab setuju, angkanya mencapai 87% hampir sembilan dari sepuluh mahasiswa. Survei ini dilakukan pada 29 April hingga 4 Mei 2026. Dari survei tersebut dapat disimpulkan bahwa kantin tetap menjadi pilihan makan sehari-hari bagi sebagian besar dari mereka.

Hampir Sembilan dari Sepuluh Mahasiswa Mengakuinya

Pernyataan kelima dalam survei mengatakan "Membeli makanan di kantin membuat pengeluaran saya lebih besar." Hasilnya cukup tegas. Dari 103 responden, 62 orang atau 60,2% menjawab sangat setuju angka tertinggi di antara semua pilihan skala. Sebanyak 28 orang atau 27,2% menjawab setuju. Hanya 10 orang yang bersikap netral dan tiga orang yang tidak setuju. Tidak ada satupun yang menjawab sangat tidak setuju.

Dengan kata lain, dari seluruh mahasiswa yang mengisi survei ini, hanya 13 orang yang tidak secara tegas mengakui bahwa kantin menguras lebih banyak uang. Selebihnya 90 orang setuju bahwa membeli di kantin membuat pengeluaran mereka lebih besar dibanding membawa bekal dari rumah.

Tabel 1. Distribusi Jawaban : "Membeli di kantin membuat pengeluaran saya lebih besar"

Skala Jawaban

Jumlah Responden

Persentase

Tidak Setuju (2)

3 orang

2,9%

Netral (3)

10 orang

9,7%

Setuju (4)

28 orang

27,2%

Sangat Setuju (5)

62 orang

60,2%

Total Setuju + Sangat Setuju

90 orang

87,4%

Sumber: Survei Google Form, 2025 | n = 103 mahasiswa PNJ Semester 1–8

Kantin Tetap Dipilih

Yang menarik bukan sekadar angkanya, melainkan apa yang terjadi setelah mahasiswa mengakui hal itu. Sebagian besar dari mereka tetap membeli di kantin. Kesadaran soal pengeluaran ternyata tidak cukup untuk mengubah kebiasaan makan sehari-hari. Ada jarak antara apa yang mereka tahu dan apa yang mereka lakukan.

Salah satu mahasiswa semester 2 jurusan Administrasi Niaga, mengungkapkan kondisi ini dengan jujur. "Justru kalau bisa bekel lebih mending bekel. Cuma sayangnya gak punya waktunya untuk nyiapin itu, sehingga terpaksa jajan di kantin walaupun emang hitungannya boros, apalagi semua harga naik sekarang," katanya.

Mahasiswa semester 4 jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan juga menggambarkan bahwa bawa bekal biasanya baru benar-benar dilakukan saat kondisi keuangan mendesak. "Kalau lagi bener-bener ga ada uang atau lagi hemat, biasanya pasti bawa bekel soalnya duit jadi ga kepake," katanya. Pernyataan ini memperjelas posisi bekal dalam kebiasaan mahasiswa bukan pilihan utama, melainkan pilihan cadangan ketika uang saku sudah menipis. 

Diagram 1. Distribusi Jawaban : "Membeli di kantin membuat pengeluaran saya lebih besar"

Sumber: Survei Google Form, 2025 | Qn = 103 mahasiswa PNJ Semester 1–8

Sumber: Survei Google Form, 2025 | Q5, n = 103 mahasiswa PNJ Semester 1–8

Waktu Jadi Alasan yang Paling Banyak Muncul

Survei mencatat data pendukung yang membantu menjelaskan mengapa pengakuan soal pemborosan tidak berujung pada perubahan kebiasaan. Sebanyak 54,4% responden setuju atau sangat setuju bahwa mereka tidak punya cukup waktu untuk menyiapkan bekal sebelum berangkat kuliah. Faktor ini menjadi yang paling sering muncul dalam jawaban terbuka, jauh lebih dominan dibanding alasan lain seperti variasi menu atau kepraktisan.

Salah satu mahasiswa semester 2 jurusan Teknik Grafika dan Penerbitan juga mengaku lebih sering membeli makanan di kantin karena tidak sempat menyiapkan bekal dari rumah. Jarak rumah yang jauh dari kampus membuatnya harus berangkat pagi, sehingga membawa bekal hanya dilakukan ketika ada waktu luang.

Mahasiswa Teknik Mesin semester 2 juga menyimpulkan dilema ini secara langsung. "Membawa bekal memang menghemat pengeluaran, tapi juga memakan waktu yang cukup banyak karena harus disiapkan. Waktu saya suka tidak ada karena sibuk dengan berbagai hal di pagi hari," jelasnya.

Bagi mahasiswa yang tinggal di kos, kendala menjadi berlapis. Selain soal waktu, tidak semua dari mereka punya fasilitas atau kebiasaan memasak. Kondisi ini membuat kantin menjadi satu-satunya pilihan yang benar-benar mudah dijangkau, meski mereka tahu harganya lebih mahal.

Selisih Nyata

Beberapa responden tidak hanya mengakui bahwa kantin lebih mahal secara umum, tapi juga menyebut angkanya secara tepat. Ini menunjukkan bahwa pemahaman mereka soal pengeluaran bukan sekadar kesan, melainkan sudah sampai pada kalkulasi yang cukup sadar.

Mahasiswi Akuntansi semester 2, memberi gambaran paling jelas. "Kalau masak dan bawa bekal dengan menu sederhana, Rp15.000 itu bisa buat tiga kali makan. Sedangkan di kantin cuma satu kali, belum lagi jajan yang lain," katanya.

Perbandingan itu memperlihatkan bahwa selisihnya tidak kecil. Dengan anggaran yang sama, bekal bisa menghasilkan tiga kali lipat porsi dibanding membeli di kantin. Namun kesadaran itu, sekali lagi, belum mengubah kebiasaan sehari-hari terutama pada hari-hari ketika waktu pagi terasa sempit.

Mahasiswa Teknik Informatika semester 2 juga  mengatakan dampak buruk dari seringnya membeli makan di kantin. "Jika terus-menerus beli di kantin tanpa dikontrol, pengeluaran harian bisa membengkak tanpa sadar," ujarnya.

Antara Sadar dan Terbiasa

Data dari survei ini menunjukkan satu hal yang cukup jelas masalahnya bukan pada kesadaran. Mahasiswa PNJ tahu bahwa kantin membuat pengeluaran lebih besar 87,4% dari mereka mengakuinya langsung dalam survei, tapi pengakuan itu saja tidak cukup untuk mengubah apa yang mereka lakukan setiap hari.

Ketika waktu pagi terlalu sempit, ketika rumah terlalu jauh atau ketika fasilitas memasak tidak tersedia, kantin menjadi satu-satunya pilihan yang benar-benar mudah. Dan itulah yang terus terjadi mahasiswa datang ke kantin bukan karena tidak sadar soal pengeluaran, tapi karena pilihan yang lebih hemat belum cukup mudah untuk diwujudkan dalam keseharian mereka.

Sadar Lebih Boros, Mahasiswa PNJ Tetap Pilih Kantin

  Sadar Lebih Boros, Mahasiswa PNJ Tetap Pilih Kantin Gambar 1 : Suasana kantin teknik (kantek), Politeknik Negeri Jakarta Survei terhadap 1...