Dokumentasi mahasiswa PNJ sedang rapat
DEPOK – Berdasarkan data kuesioner pada 30 April 2026, keterlibatan organisasi kampus masih menjadi pilihan bagi 89 dari 110 mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) dalam mempersiapkan masa depan.
Tingginya angka partisipasi di organisasi sejalan dengan data responden mengenai manfaat aktivitas tersebut untuk dunia kerja. Sebanyak 81,7% responden setuju bahwa pengalaman berorganisasi di PNJ memberikan kesiapan kerja yang lebih baik jika dibandingkan dengan sekadar belajar di dalam kelas.
Berdasarkan survei, sebanyak 71,9% mahasiswa tercatat ikut serta dalam kepengurusan maupun keanggotaan organisasi di lingkungan kampus. Angka tersebut terdiri dari 56,4% responden yang aktif sebagai anggota atau staf dan 15,5% yang bertindak sebagai pengurus inti. Sementara itu, kelompok mahasiswa tidak aktif organisasi atau "Kupu-Kupu" (Kuliah Pulang) berada di angka 28,2%.
Kesiapan Kerja Melalui Jalur Organisasi
Melalui organisasi, mahasiswa mendapatkan pengalaman praktis yang jarang didapatkan langsung di dalam kelas. Mulai dari kemampuan komunikasi, kerjasama tim, kepemimpinan, penyelesaian masalah, sampai belajar beradaptasi menghadapi tekanan
“Di organisasi kita akan menghadapi berbagai tekanan yang masih sangat aman untuk mempersiapkan diri pada dunia kerja, karena nyatanya dunia kerja tidak akan sama dengan organisasi, namun di organisasi kita dilatih berbagai hal contohnya tanggung jawab,” ujar Shobiyatu Jamilah dari program studi TCG yang merupakan anggota BEM aktif PNJ saat wawancara.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Nazella dari prodi Penerbitan 2D. Menurutnya kelas dan organisasi memiliki porsinya masing-masing dalam kesiapan kerja. Namun, organisasi memiliki peran penting untuk melatih soft skill.
“Perkuliahan memberi dasar ilmu, tapi organisasi penting untuk melatih soft skill seperti kerja sama dan komunikasi serta bisa menambah relasi lebih luas yang nantinya kita perlukan di dunia kerja kedepannya.” Ungkap Nazella.
Faktanya, pernyataan tersebut sejalan dengan hasil survei. Tercatat 81.7% responden setuju bahwa pengalaman berorganisasi memberikan bekal kesiapan kerja yang jauh lebih baik daripada sekadar duduk belajar teori di kelas.
Lalu apakah kesibukan organisasi mengganggu nilai akademik? Ternyata pertanyaan ini telah dijawab dengan hasil survei, sebanyak 80% responden menolak jika kegiatan organisasi atau UKM berdampak negatif pada IPK mereka.
Sudut Pandang dan Pilihan Alternatif Mahasiswa Kupu-Kupu
Dokumentasi dari mahasiswa kupu-kupu
Bagi 79,8% mahasiswa “kupu-kupu”, mereka setuju bahwa tidak ikut organisasi, membuat mereka memiliki lebih banyak waktu untuk hal lain seperti pekerjaan, keluarga, atau hobi. Hal ini sangat dirasakan oleh Rasya dari kelas TI-4A.
Pada semester keempat pada perkuliahannya, Rasya memilih untuk fokus pada akademik dan melepas diri dari aktivitas organisasi kampus. Baginya pilihan ini memberikan ketenangan mental dan kebebasan penuh dalam mengatur waktu. Rasya tidak lagi merasa cemas atas desakan organisasi yang mengganggu produktivitas akademiknya.
Kelompok mahasiswa yang tidak aktif berorganisasi, memanfaatkan waktu luang mereka untuk membentuk kompetensi kerja. Faktanya, 78,1% responden memandang kerja sampingan (part-time) jauh lebih relevan sebagai bekal kesiapan kerja dibandingkan aktivitas kampus.
Organisasi bukan satu satunya wadah pengembangan diri, terbukti sebanyak 82,5% responden menyatakan tetap mampu menyampaikan pendapat dengan jelas meskipun tidak aktif di organisasi dan 52,7% responden menilai fokus pada manajemen waktu mandiri lebih menjamin kesuksesan dibandingkan belajar manajemen waktu melalui organisasi.
Rasya juga menambahkan jika bergantung hanya pada akademik belum cukup tanpa keterlibatan organisasi, ia berargumen bahwa akademik tidak cukup karena “semua orang juga kuliah”. Dengan keterlibatan organisasi, kita dapat memberikan bukti bahwa kandidat kerja mampu bekerja secara teamwork pada CV mereka.
Evaluasi Pandangan Mahasiswa Terhadap Organisasi
Sebanyak 60% responden menyatakan tidak setuju bahwa menghabiskan waktu hingga malam hari untuk kegiatan organisasi merupakan bentuk investasi waktu yang sepadan.
Selain manajemen waktu, faktor finansial juga menjadi poin pertimbangan bagi mahasiswa. Sebanyak 54,5% responden setuju bahwa investasi finansial untuk organisasi seperti membayar iuran, biaya transportasi, dan konsumsi terhitung memberatkan jika dibandingkan dengan manfaat yang mereka peroleh.
Keterbatasan Materi Ruang Kelas dan Sisi Unik Wadah Organisasi
Kecenderungan mahasiswa untuk tetap memilih organisasi sebagai persiapan karier masa depan terlihat lebih rinci pada pertanyaan terbuka kuesioner. Ketika dihadapkan pada pertanyaan mengenai apakah bekal dari bangku perkuliahan saja sudah cukup untuk menghadapi dunia kerja atau ada hal dari organisasi yang tidak bisa digantikan, tercatat ada 73 jawaban valid dari pertanyaan terbuka. Dari jumlah tersebut, sebanyak 50 mahasiswa secara spesifik menyatakan bahwa materi di dalam kelas belum mencukupi kebutuhan lapangan kerja.
Pembelajaran ruang kelas dinilai lebih dominan dalam pemenuhan teori serta dasar ilmu pengetahuan teknis atau hard skill. Menurut pandangan 50 responden ini, terdapat aspek-aspek kompetensi kerja yang tidak didapatkan secara otomatis melalui proses perkuliahan.
Pembelajaran di ruang kelas memiliki keterbatasan. Melalui organisasi, mahasiswa mempraktikkan manajemen konflik, mengeksekusi program kerja , dan membangun jaringan sosial. Data tersebut memperlihatkan alasan responden menempatkan kegiatan organisasi ke dalam portofolio karier.
Sinergi Dua Jalur Pengembangan Diri
Data pendukung hasil olahan data kuisioner
Secara keseluruhan, data menunjukkan adanya dua jalur pengembangan diri yang saling melengkapi. Di satu sisi, kegiatan di luar kampus seperti kerja sampingan dan portofolio mandiri, makin berkembang. Namun disisi lain, organisasi kampus masih menjadi pilihan andalan mahasiswa dalam pengembangan soft skill dan membangun relasi sosial.
Kabar baiknya, perbedaan pilihan jalur ini tidak memengaruhi jaminan masa depan. Sebanyak 92.8% mahasiswa menyepakati bahwa status keaktifan berorganisasi bukan penentu utama kesuksesan berkarier. Mahasiswa organisasi maupun non-organisasi dinilai memiliki peluang sukses karier yang setara, asalkan mereka mampu memaksimalkan potensinya sendiri.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar